Category Archives: general article

Taman Relief. Indah hijau bersemi laksana alam asri :)

astudioarchitect.com Artikel ini tentang taman relief dari hasil wawancara saya… lagi-lagi dengan koran Sindo (^^,)> yaitu taman yang dibuat dengan semen pada dinding rumah, biasanya pada dinding bagian belakang rumah, depan atau samping. Tujuannya, untuk mendapatkan taman yang bernuansa alami dan menyejukkan mata. Taman relief ini cukup populer di tahun 80an dan 90an, bahkan hingga sekarang masih banyak yang menggemarinya. Tukang pembuat taman jenis ini biasanya khusus. Bila dahulu mereka membuat taman relief yang benar-benar berkesan seperti tebing sungguhan, saat ini, saya menjumpai banyak pembuat taman relief memasukkan unsur-unsur geometris seperti kotak-kotak dan menggunakan lebih banyak variasi batuan atau bahkan keramik. Namun pada dasarnya keahlian yang dibutuhkan untuk membuat taman seperti ini memang khusus. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan oleh mas Herman dari Koran Seputar Indonesia.


1. menurut anda apa yang disebut dengan relief pada taman ? 
Relief adalah permukaan yang tidak rata yang biasanya merupakan bentuk tertentu seperti halnya patung. Taman relief adalah trend taman pernah booming dan mungkin saat ini masih banyak juga orang yang menggunakannya karena menggemari jenis taman tersebut. Bentuknya biasanya meniru bentuk-bentuk alami seperti tebing dengan ceruk-ceruk, air terjun, serta batuan dan tanaman. Bagian paling menonjol adalah dinding yang dibuat menyerupai tebing tersebut. Relief pada taman berarti dinding di belakang taman yang menyerupai bentukan alami tersebut. Relief juga dibuat pada kolam ikan, sehingga terlihat lebih alami.
2. disain yang sedang menjadi trend pada relief taman saat ini seperti apa ?
Taman relief saat ini memang sudah agak jarang dibuat, karena trend saat ini yang berkembang adalah taman rumah dengan trend minimalis. Dimana bentukan taman relief yang tidak beraturan dirasa kurang sesuai dengan tema gaya minimalis yang diaplikasikan pada rumah tinggal. Kalaupun menggunakan bentukan yang alami seperti tebing-tebing dengan ceruk-ceruknya, biasanya dipadukan dengan frame bentuk-bentuk geometris seperti kotak dan kubus yang sering muncul dalam disain gaya minimalis. 
3. Apa manfaat dan kegunaan relief pada taman?


Relief pada taman biasanya digunakan dibuat untuk meniru kesan alami dari obyek-obyek di alam seperti air terjun, tebing batuan, biasanya diberi tempat untuk tumbuhnya tanaman dalam penataan yang tidak punya aturan khusus. Gunanya tentu saja agar menghadirkan kesan dari unsur alami untuk menyegarkan pikiran. Fungsi rekreatifnya akan menjadi lebih baik bila dipadukan dengan unsur air mancur, air terjun, atau kolam ikan yang segar.
4. Bagaimana cara membuat relief pada taman?
Relief taman biasanya dibuat dengan bahan dasar batuan, pasir dan semen. Cara pembuatannya biasanya dikerjakan oleh tukang khusus yang memiliki kepekaan seni yang tinggi. Biasanya tukang seperti ini harus sudah terlatih dengan banyak membuat relief taman sebelumnya. Relief taman dibuat dengan membuat rangka dari besi dan kawat untuk menahan keseluruhan konstruksi relief kemudian ditutup dengan campuran pasir dan campuran semen, dibentuk menjadi bentukan yang diinginkan. Dinding yang sudah dibentuk kemudian dicat atau ditempeli dengan batuan-batuan. Batuan yang besar biasanya diletakkan sebagai elemen pelengkap dan ditanam dalam campuran semen tersebut. 
5. Jenis-jenis pohon apa saja yang cocok ditempatkan pada relief pada taman ?
Umumnya tanaman yang dipakai adalah jenis-jenis tanaman perdu, tanaman air, serta tanaman hias yang tidak terlalu besar seperti palem, kamboja, kastuba dsb. Untuk mengisi ceruk-ceruk berisi tanah pada dinding relief kita bisa menggunakan tumbuhan bunga beraneka warna seperti mawar dan melati. 
6. Bagaimana memperindah relief pada taman?
Sesuai dengan bentukan-bentukan yang biasa didapati pada jenis taman ini, ukuran indah tidaknya taman relief biasanya ditentukan oleh kemiripannya dengan obyek alam seperti tebing batuan, air terjun dsb. Karena itu bila kita memutuskan untuk membuat taman relief seperti ini tingkat kemahiran tukang dan cita rasa seni sangat dibutuhkan untuk memperindah relief kita juga bisa menggunakan jenis tanaman yang bervariasi serta sesuai dengan bentuk taman tersebut dan jangan lupa untuk merawat relief dan tanaman-tanamannya, sehingga kesegarannya terjaga. Hal ini karena pada dasarnya taman ini lebih susah dirawat daripada taman bergaya minimalis yang lebih simpel.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Plafon dalam desain interior. Material dan desainnya

astudioarchitect.com Ada beberapa pertanyaan yang diberikan pada saya oleh mbak Inggrid dari Koran Seputar Indonesia (Sindo) beberapa waktu lalu, mungkin sekitar awal Agustus 2009, dan artikel tentang plafon ini juga sudah dimuat di Koran Sindo beberapa waktu lalu. Pertanyaan seputar plafon untuk rumah, bagaimana plafon yang baik, macam-macam bahan untuk plafon, dan sebagainya. Pertanyaan: 1. bisa disebutkan apa saja fungsi dari plafon? Fungsi plafon terutama untuk membatasi antara ruang atap dan ruang yang kita gunakan sehari-hari dibawahnya. Plafon juga berfungsi menutupi berbagai “kekacauan” dibawah atap seperti simpang siurnya konstruksi dan penutup atap, kabel-kabel, pipa mechanical dan electrical, dan sebagainya. Plafon juga berfungsi menjadi penahan panas dari atap agar tidak jatuh langsung di ruang bawahnya. Belakangan, plafon juga berfungsi menambah unsur keindahan dalam ruangan, karena bisa dibuat dengan berbagai model plafon.

2. apakah terdapat ketentuan dalam pemasangan plafon untuk sebuah rumah?

Ketentuan utama, tentunya faktor keselamatan penghuni, dimana plafon harus dibuat dengan mempertimbangkan unsur material dan konstruksi yang memadai, dalam arti kuat, tidak mudah roboh.

3. bisa disebutkan ragam jenis atau desain-desain dari plafon untuk sebuah rumah? dan desain mana yang lebih banyak dipakai, mengapa?

Pada dasarnya plafon dengan material seperti gypsum bisa dibentuk dengan berbagai macam desain, yang paling populer adalah drop ceiling, yaitu perbedaan ketinggian plafon, seperti bagian pinggir lebih rendah levelnya, model bertumpuk-tumpuk, dan sebagainya.

4. bahan apa saja yang bisa digunakan untuk plafon?

Material yang bisa digunakan antara lain material asbes, tripleks, gymsum board, dan cement board. Material asbes tidak disarankan lagi digunakan karena sifat bahan yang karsinogenik (bisa menimbulkan kangker). Tripleks mudah didapatkan, namun sifatnya yang mudah terbakar juga harus menjadi pertimbangan. Material yang aman digunakan adalah plafon gypsum dan papan semen (GRC board).

Orang-orang jaman dahulu juga sering menggunakan anyaman bambu untuk penutup plafon. Jaman sekarang, material yang lebih bervariasi juga ada, seperti bahan fiber glass.

Untuk rangka, bila memakai material asbes atau kayu sebagai penutup, kita bisa menggunakan rangka kayu. Bila menggunakan penutup gypsum atau cement board, kita bisa menggunakan rangka alumunium.

5. apakah ada pemilihan warna tertentu untuk memasang plafon? (misal warna plafon terang, cocok untuk ruangan sempit)

Betul, plafon yang baik tentunya harus dibuat dengan desain yang memadai dan sesuai untuk sebuah ruangan, misalnya dibuat tidak dengan standar plafon yang datar datar saja, kita juga bisa membuat plafon model drop ceiling, dengan bentuk desain yang bermacam macam. Misalnya bagian pinggir plafon dibuat turun sedikit, dbahkan dibuat seperti relief, juga memungkinkan sehingga membentuk desain tertentu seperti kesan lingkaran melayang, kotak melayang, dan sebagainya.

Warna cat plafon juga bisa mempengaruhi kesan ruangan yang dimaksud. Cat plafon bisa mempengaruhi kesan ruangan, menjadi terkesan makin pendek, atau makin tinggi. Plafon dengan warna gelap cenderung menjadikan ruangan terlihat makin pendek, sedangkan plafon warna terang akan menjadikan ruangan terlihat makin tinggi.

Warna yang digunakan, sebaiknya disesuaikan dengan warna tembok dan cat lainnya. Biasanya warna paling ‘aman’ untuk digunakan adalah warna-warna natural seperti krem dan putih. Untuk suasana tertentu seperti suasana kafe yang gelap dan intim, kita bisa menggunakan warna hitam atau warna gelap lainnya digabungkan dengan pencahayaan yang menarik.

6. apakah benar, pemilihan bahan plafon papan semen lebih bagus dari bahan lainnya?

Plafon bahan GRC board atau papan semen memang cukup baik kualitasnya, kuat karena berbahan dasar semen yang kuat berdasarkan standar konstruksi seperti SNI. Namun bahan gypsum lebih populer untuk dibentuk dengan berbagai macam desain. Kayu/ tripleks juga bisa menimbulkan suasana yang lebih alami. Pendeknya, masing2 bahan memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

7. apakah setiap pemasangan plafon hanya berfungsi sebagai pemanis ruangan saja?

Tidak, plafon tidak hanya berfungsi mempermanis ruangan. Kembali lagi pada fungsi plafon sebagai pembatas antara ruang atap dan ruang kita hidup dibawahnya. Plafon biasanya dapat menutupi ruang dibawah atap, karena semrawut akibat terlihatnya rangka atap seperti rangka baja ringan. Namun bila ingin mengekspos konstruksi atap, misalnya, juga tidak masalah.

8. berikan beberapa tips dalam pemasangan plafon di dalam rumah?

Gunakan jenis material yang sesuai budget, dan bila ada dana lebih, bentuk plafon bisa dibuat sedemikian rupa sehingga menunjang desain interior. Sesuaikan bentuk plafon dengan tema ruangan Anda, misalnya bila menggunakan gaya klasik atau Mediterania, sangat sesuai menggunakan permainan lis plafon karena dapat memperindah ruangan. Bentuk bentuk geometris dalam desain plafon juga menambah estetika ruangan dengan tema gaya minimalis.

Plafon dengan desain yang bermacam-macam juga bisa digabungkan dengan unsur pencahayaan yang menarik pula. Kita bisa menanamkan lampu didalam gypsum sehingga terkesan ada cahaya keluar dari plafon membentuk estetika desain interior yang menarik dan atraktif. Jenis pencahayaan yang ‘keluar’ dari plafon juga bisa menggunakan lampu spotlight, lampu tersembunyi (hidden), atau general lighting.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tips menata apartemen: masukkan unsur material alami – wawancara dalam koran Sindo

astudioarchitect.com Berbincang tentang penataan apartemen, apa yang perlu diperhatikan saat mendesain interior apartemen? Tentunya tidak sama dengan menata rumah, karena pada dasarnya menata interior apartemen itu mirip seperti menata interior setelah membeli rumah di perumahan. Ruang-ruang sudah ditentukan letak dan ukurannya, sehingga yang bisa kita lakukan adalah mengoptimalkan penggunaan ruang dengan berbagai trik khusus. Pada artikel ini, wawancara dengan koran Sindo yang melibatkan saya, Arimbi Putera (ahli pertamanan), dan Imelda Akmal (Interior books writer). Saya tidak tahu bahwa wawancara dilakukan dengan kedua tokoh tersebut, mengingat saya adalah fans berat mbak Imelda Akmal :)

Living room with the off white couch cover

Talking about apartment interior design, what to keep in mind when designing an interior design of apartment? Surely not the same as arranging a house, because basically interior of an apartment is a bit like arranging the interior after buying a house on an estate. The rooms has been determined by size, so that what we can do is to optimize the use of rooms with a variety of special tricks. In this article, newspaper Sindo interviewed me, Arimbi Putera (landscaping expert), and Imelda Akmal (Interior books writer). I do not know that the interviews conducted me with both these figures, considering I was a big fan of Imelda Akmal. I still remember, it was an afternoon when the newspaper reporter of Seputar Indonesia (Sindo) called me to interview about the apartment setting. Actually I was not ready for the interview … even though I’ve never ready for any interview either, considering I prefer to write than to talk :P But that’s okay … This time, the interview was about how to set up apartment interior, since apartments are very popular in big cities. 

Saya masih ingat, waktu itu sore hari ketika wartawan koran Seputar Indonesia (Sindo) menelepon saya untuk mewawancarai perihal penataan apartemen. Sebenarnya saya tidak ready untuk diwawancara… meskipun sebenarnya saya juga tidak pernah ready untuk wawancara apapun, mengingat saya lebih suka menulis daripada berbicara :P Tapi tidak apa-apa… Wawancara kali ini seputar bagaimana menata apartemen, dimana keberadaan apartemen sudah sangat populer di kota besar.

DALAM KORAN SEPUTAR INDONESIA/ SINDO

JANGAN ragu untuk merombak total konsep hunian di dalam apartemen. Dengan sedikit kreasi, plus sokongan finansial, apartemen bisa disulap sesuai keinginan kita.

Bagi penduduk kota besar, apartemen menjadi pilihan terbaik untuk tempat tinggal. Pasalnya, untuk bisa mendapatkan lahan kosong ataupun rumah di tengah kota jelas tidak mudah. Selain lahan yang sudah semakin menipis, harganya pun selangit.Tak ayal, bisa membeli satu ruangan di bangunan apartemen menjadi sebuah kebahagiaan besar. Itu juga dengan harga yang tidak murah. Padahal, penghuni hanya bisa memiliki hak bangunan gedung, minus lahan dari bangunan tersebut.

BAKOKO Matsudo Mansion Japan

Sementara ruangan yang dimiliki umumnya mempunyai luas terbatas. Meskipun kita memiliki cukup uang, sebesar-besarnya ruangan apartemen yang bisa dimiliki tetap saja punya keterbatasan. Suatu keterbatasan yang cukup mengganggu dibandingkan dengan rumah konvensional. Mau tidak mau penghuni harus pintar mengakali bangunan yang dimilikinya itu.

Mereka harus bisa membuat desain interior yang membuat hunian jadi nyaman untuk ditempati. Sebab, ruangan apartemen fungsinya sama dengan rumah,meski memiliki banyak perbedaan.

“Jelas tidak sama. Menata apartemen memerlukan kelihaian penghuni untuk melakukan desain sesuai kehendaknya. Sebab, apartemen kan dibeli sudah jadi, tidak bisa dibangun semaunya,” kata arsitek Probo Hindarto kepada Seputar Indonesia.

Menurut Probo, mendesain sesuatu yang sudah jadi jelas lebih sulit dibanding membuat sesuatu yang benar-benar baru. Untuk apartemen, penghuni tidak bisa mengubah bagian eksterior.Pasalnya, bagian itu memang sudah dibentuk oleh pengembang. Bagian tersebut memiliki kesatuan dengan eksterior lain di bangunan apartemen itu, sehingga yang bisa dilakukan penghuni adalah mengakali bagian lain yang bisa diolah.

“Yang paling bisa dibentuk oleh penghuni adalah bagian interiornya. Di sinilah penghuni bisa bermain-main dengan desain,” cetusnya.

Probo menambahkan, untuk interior, penghuni patut memperhitungkan segi minimalis serta keefektifan dari interior yang diinginkan. Sebab, dalam apartemen, keterbatasan ruang menjadi persoalan paling utama. Tentu yang paling utama diperhatikan adalah masalah furnitur.Penghuni harus memilih furnitur yang memang tidak memakan ruang serta dapat memberikan kesan luas.

Apartment

“Sangat penting untuk mengakali bagian interior, terutama dalam pemilihan furnitur agar tidak memakan tempat terlalu banyak,” tandasnya.

Selain itu, penghuni juga harus memilih material yang dapat membawa suasana nyaman. Menurutnya, satu hal yang paling sulit didapat penghuni apartemen adalah keasrian alam.Biasanya,ketiadaan lahan membuat penghuni sulit mempunyai taman pribadi. Padahal, adanya suasana alam dapat memberikan ketenangan bagi jiwa sekaligus perasaan nyaman.

“Penghuni bisa memilih material-material alam. Bisa dengan banyak menggunakan unsur kayu atau tanaman hias untuk indoor,” sarannya.

Kehadiran tanaman indoor akan membuat hunian menjadi lebih sehat. Meningkatnya pencemaran lingkungan berdampak negatif pada kesehatan akibat banyak radikal bebas yang bisa membahayakan kesehatan manusia.Polutan merupakan zat yang dapat merugikan kesehatan manusia. Anda mungkin tidak dapat terhindar dari masalah tersebut, tetapi Anda bisa meredamnya dengan berbagai cara. Seperti makan makanan yang banyak mengandung antioksidan.

Cara lainnya adalah dengan meletakkan tanaman hias di dalam ruangan. “Tanaman indoor juga bisa membuat rumah kita jauh lebih fresh dan steril, bebas dari radikal bebas ataupun polusi,” timpal desainer taman Arimbi Putera.

Ada beberapa jenis tanaman hias indoor yang bisa dijadikan pilihan, antara lain dracaena, firus, dan sansiviera. Namun, untuk membuat ruangan tetap sehat, patut diperhatikan bagaimana pemeliharaannya. Selain itu, terbatasnya ruang juga harus dimaksimalkan oleh penghuni. Seperti misalnya penggunaan sekat. Penggunaan sekat harus benar-benar efektif serta seminimalis mungkin.

“Bisa menggunakan sekat transparan ataupun produk kaca yang dapat menggantikan sekat,” tukas Probo.

Sementara itu, arsitek Imelda Akmal mengatakan,pemilihan furnitur menjadi yang paling penting. Menurutnya, tidak perlu harus mengganti furnitur yang sudah ada,tapi yang perlu dilakukan adalah mengakali bentuknya.

“Dalam kondisi seperti itu, furnitur built in bisa menjadi solusi,” ujar Imelda.

Furnitur built in adalah furnitur yang dibuat khusus seukuran dengan ruang yang ada agar terlihat rapi. Di samping itu, konsep built in juga memungkinkan penggunaan ruang secara maksimal karena memanfaatkan setiap jengkal ruang. Misalnya lemari pakaian built in dapat memanfaatkan lebar dan tinggi dinding hingga mencapai langit-langit, sehingga didapatlah ruang penyimpanan yang lebih besar.

“Lemari model built in tidak hanya untuk menyimpan pakaian, tetapi juga perlengkapan lain seperti seprei, selimut, tas, bahkan sepatu,” kata Imelda, yang telah menerbitkan belasan buku tentang dunia arsitektur dan interior.

Selain itu, furnitur modular (wadah besar dengan berbagai ruang simpan) akan menghemat tempat untuk storage. Di bawah kursi ada lemari penyimpan sepatu atau majalah. Di bawah tempat tidur bisa diletakkan buku atau bendabenda yang mungkin memakan tempat.(Koran SI/Koran SI/nsa)

IN THE SINDO NEWSPAPER
DO NOT hesitate to change the concept of an apartment. With a little creativity, plus financial aid, an apartment can be transformed according to our wishes.

For big city dwellers, apartments become the best choice for a place to stay. The reason, in order to obtain vacant land or a house in the middle of the city certainly is not easy. In addition to areas that had been thinned out, the price is rising high. If one can buy an apartment building it is a big happiness. It is also the price which is not cheap. In fact, residents could only have the right of buildings, minus the land of the building.

While the rooms are generally in limited area. Although we have enough money, the maximum space that can be owned apartments still have limitations. A disturbing limitations compared with conventional houses. Dwellers inevitably have to outsmart the smart building that he or she owned.

They should be able to create interior designs that create a comfortable dwelling for occupancy. Therefore, the function of rooms inside apartment is the same with a house, despite a lot of difference.

“Obviously not the same. Arranging an apartment, the dwellers need ingenuity to design at will. For a flat bought ready-made, can not be built at will,” said architect Probo Hindarto to Seputar Indonesia.

According to Probo, designing something that is already exist is obviously more difficult than making something totally new. For apartments, residents can not change the exterior. Because, part of it is already established by the developer. These sections have unity with other exterior apartment building, so that what residents can do is to outsmart the other parts.

“The most aspect can be formed by the residents is its interior. This is where residents can “play” with the design,” he said.

Probo added that for the interior, residents should take into account the minimalist aspect as well as the effectiveness of the desired interior. Because, in an apartment, the limitations of space becomes the main issue. Of course the most important note is that the problem of choosing furnitures. The kind that would not take much space and can give wider impression of space.

“It is important to outsmart the interior, especially in the selection of furniture that does not take place too much,” he said.

In addition, residents also need to select materials that can bring comfortable atmosphere. According to him, one of the most difficult thing to get is  the feeling of nature. Usually, lack of land makes residents difficult to have a private garden. In fact, the atmosphere can give peace to the soul and feeling comfortable.

“Residents can choose natural materials. Use the many varieties of wood elements or ornamental plants for indoors,” he advised.

The presence of indoor plants will create a more healthy occupancy. Decreasing environmental pollution and affect occupant’s health. Free radicals can harm the health human. Polutan substance that can harm human health. You may not be able to avoid these problems, but you can muffle a variety of ways. Like eating food that contains lots of antioxidants.

Another way is to put plants in the room. “Indoor plants can also make our homes much more fresh and sterile, free from pollution or free radicals,” said landscape designer Arimbi Putera.

There are several types of indoor ornamental plants which can be options, such as Dracaena, firus, and sansiviera. However, to make room stay healthy, should be noted how maintenance. In addition, the limited space should also be maximized by the residents. Like for example the use of screens. Use insulation to be truly effective and seminimalis possible.

“It could use a transparent screen or glass product that can replace the screen,” said Probo.

Meanwhile, Imelda Akmal said that furniture selection to be the most important aspect. According to her, we do not need to replace existing furniture, but that needs to be done is to outsmart the form.

“In such conditions, built in furniture can be a solution,” said Imelda.

Built-in furniture is furniture made specifically with the size of the existing space to make it look neat. In addition, the concept of built-in also allows maximum use of space because the use of every inch of space. For example built in wardrobe could use the width and height of the wall until it reaches the ceiling, so that storage space can be greater.

“Built-in cabinet model not only for storing clothes, but also other equipment such as bed linens, blankets, bags, even shoes,” said Imelda, who has published dozens of books on architecture and interior world.

In addition, modular furniture (large containers with a variety of space saving) will save a place for storage. Under the seat there is a shoe closet or magazine. Under the bed can put a book or things that may take place. (Koran SI / SI Newspapers / nsa)
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

"Bocoran" buku arsitektur rumah tinggal Probo Hindarto yang akan segera terbit

astudioarchitect.com — Mungkin banyak diantara pembaca astudio yang bertanya-tanya mengapa artikel di astudio tidak banyak diupload akhir-akhir ini. Baiklah, saya juga sudah rindu bertegur sapa dengan pembaca blog astudio. Kali ini sekedar update saja tentang apa yang saya lakukan belakangan ini. Menulis buku. Buku saya yang lalu tentang “Rumah Bergaya Arsitektur Mediterania”, “Warna untuk desain interior”, dan “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan“. Ya, mungkin sudah lama saya tidak menulis buku lagi. Jadi senggangnya waktu saya coba untuk pakai menulis tentang rumah dan arsitektur.

Maybe a lot of readers of astudio blog wondered why the articles are not much updated lately. Well, I’ve missed to greet astudio blog readers. This time it just updates about what I’m doing lately. Write a book. My last book about the “House with Mediterranean Architecture style”, “Color for interior design”, and “Inspiration for Healthy Urban House”. Yes, maybe it’s been long for me to write another book. So I spare my time to write about architecture.

Topik buku arsitektur ini adalah tentang rumah tinggal, seperti buku-buku saya sebelumnya. Dua hari lalu, saya sudah selesai menuliskan buku tentang rumah tinggal, yang merupakan kumpulan banyak artikel yang dibendel, dan diformat dalam format yang segar. Bila Anda tahu buku-buku saya sebelumnya, mungkin tak asing dengan gaya menulis saya untuk buku-buku yang selanjutnya.
Gambar kiri: buku-buku saya sebelumnya. Sepertinya di pasaran sudah jarang. Hanya buku “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan” yang dicetak ulang.
Oh ya, sebelum saya meneruskan, pada artikel ini sengaja saya menggunakan banyak kata ‘saya’ sebagai orang pertama (dalam blog, biasanya memang kita menulis dengan sudut pandang ‘saya’). Jarang-jarang rupanya saya menggunakan kata ‘saya’ dalam artikel-artikel saya. Mungkin perubahan ini lebih banyak diterapkan dalam artikel-artikel yang lainnya setelah ini. Mengapa? Mungkin, saya ingin lebih dekat dengan para pembaca astudio ya :)

Topic of this book is about architecture of houses, like my books before. Two days ago, I had finished writing a book about home design, which is a collection of many articles, and formatted in a fresh format. If you know my books before, probably you are familiar with my writing style of this book.

Oh yes, before I continue, in this article I deliberately use a lot of the word ‘I’ as the writing style (in blogs, usually we write it with the point of view ‘I’). Apparently it is rare that I use the word ‘I’ in my articles. Perhaps this change is going to be in the articles others after this. Why? Maybe, I wanted to be closer to my readers in astudio :)

Kembali tentang penulisan buku. Memang dalam 1 tahun belakangan ini (sejak terakhir buku “Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan” terbit) saya punya beberapa draft buku, seputar arsitektur rumah tinggal dan beberapa tentang topik lain seperti ilmu komputer atau jaringan sosial seperti facebook. Entah kenapa, beberapa draft buku, mungkin 3-4 draft menganggur begitu saja dalam laptop saya. Meskipun sudah selesai, atau separuh, atau 3/4 selesai. Kebiasaan saya yang suka berpikir meloncat-loncat menjadi penyebab utama saya menuliskan beberapa draft buku dalam waktu bersamaan.

Sehingga, beberapa waktu lalu, salah satu draft saya yang saya kirimkan dengan agak malas-malasan diterima penerbit Andi, dan diputuskan untuk dimuat. Perlu diketahui, penerbit Andi lebih mengkhususkan diri ke buku-buku komputer seperti yang Anda lihat di toko-toko buku. Jadi, untuk genre buku arsitektur rumah agak lama diputuskannya. Tapi itu tidak apa-apa, lagipula saya juga terlambat mengirimkan softcopy akibat kesibukan yang lain.
Gambar kiri: “Bocoran” cover buku yang saya buat sebagai saran untuk cover buku berformat semi majalah kepada penerbit. Tulisan judulnya saya buat kabur agar lebih misterius… hehe. Perlu diketahui, penerbit selalu merevisi ulang format cover dan format buku yang dikirimkan penulis.

Jadi, kesibukan saya akhir-akhir ini selain menggambar desain rumah untuk klien, juga mencoba kembali menulis dengan lebih fokus, untuk menyelesaikan beberapa project buku yang tertunda. Saya harap buku tentang rumah, taman dan tren arsitektur yang berformat semi majalah baru-baru ini akan bisa diterima oleh pembaca sekalian… dan semoga saya bisa segera menyelesaikan salah satu buku arsitektur rumah tinggal selanjutnya. Mengapa berformat majalah? Karena sebenarnya cita-cita saya adalah membuat majalah dengan topik arsitektur rumah tinggal. Apakah cita-cita ini bisa berhasil? Sepertinya saya membutuhkan investor… hehehe … Memang selama ini saya sudah ‘kenyang’ menulis tentang arsitektur rumah tinggal, dan menjadi narasumber serta pengasuh rubrik konsultasi rumah tinggal di majalah dan koran-koran di seluruh Indonesia.
Buku selanjutnya, topiknya tentang keindahan atau estetika dalam arsitektur rumah tinggal, dengan referensi berbagai project saya, hasil hunting foto, serta dari karya rekan-rekan sejawat arsitek yang ‘nitip’ atau saya untuk ‘dititip’ hasil karyanya dalam buku. Tentang judul bukunya, belum diputuskan.
Selamat pagi, siang, sore, malam Indonesia. Semoga tetap tersenyum… dan mari kita tetap berkarya membangun bangsa :)

Back about writing a book. Indeed in recent 1 year (since the last book, “Inspiration of Healthy Urban House” rising) I have a few drafts of books, about the architecture of houses and a few other topics such as computer science or social networks like facebook. For some reason, several drafts of books, maybe 3-4 draft just idle in my laptop. Although already finished, or half, or 3 / 4 finished. My habit of thinking like jumping up and down the main cause me to write several drafts of books at the same time.

Thus, some time ago, one of my draft that I sent a little lazy publishers received Andi, and decided to load. Please note, Andi publishers to more specialized computer books as you can see in bookstores. So, for the genre of architecture books home for a while decided. But it was not anything, furthermore I am also late to send softcopy from other activities.
 

book cover that I made a suggestion for a semi-formatted book covers to magazine publishers. Writing the title I made vague to be more mysterious … hehe. Please note, the publisher is always revise and re-cover format book format sent authors.

So, my busy these days other than home design drawing for the client, also tried to re-write with more focus, to complete a pending book project. I hope the book about home, garden and architectural trends of semi-formatted magazine recently will be accepted by readers as well … and hopefully soon I can finish one book the next residential architecture. Why the magazine format? Because actually my goal is to create a magazine with the topic of residential architecture. Are these ideals can be successful? Looks like I need an investor … hehehe … It’s been my already ‘full’ writing about residential architecture, and the resource persons and caregivers stay home consultation section in magazines and newspapers throughout Indonesia.

The next book, the topic of beauty or aesthetics in residential architecture, with reference to my various projects, the hunting photos, as well as from the work of colleagues architects ‘nitip’ or my ‘dititip’ handiwork in the book. About the title of his book, not yet been decided.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Furniture Tempat Tidur (Bed) yang ramah lingkungan

I built a bed.astudioarchitect.com Furniture bed saat ini dibuat dari beragam material yang eco-friendly. Mulai dari kayu daur ulang, bambu, anyaman eceng gondok, dan sebagainya. Kriteria material furniture bed yang berwawasan lingkungan sebenarnya simple saja, misalnya tidak memakai kayu dengan menebang pohon, atau memiliki andil terhadap kerusakan lingkungan. Jikalau memakai kayu pun, harus dipikirkan untuk menggunakan kayu yang dapat dibudidayakan dengan cepat, atau dapat ditebang, kemudian ditanam kembali dalam waktu relatif singkat.

Furniture beds currently made of various materials that are eco-friendly. Starting from recycled wood, bamboo, woven water hyacinth, and so on. Criteria of furniture materials are environmental friendly bed simple fact alone, for example, do not use wood to cut down trees, or have contributed to environmental damage. If using wood too, should be considered for the use of wood can be grown quickly, or can be logged and then replanted in a relatively short time.

Hanging

Bila kita memakai bed dari bambu, misalnya, yang merupakan material dari tanaman bambu yang mudah ditanam dan dipanen dalam lima tahun, maka kita membantu mengurangi penggunaan kayu. Selain itu, bambu juga dapat ditanam di mana saja di daerah tropis, tidak seperti kayu-kayu tertentu yang membutuhkan lebih banyak treatment khusus. Bambu bisa didapatkan di mana saja, sehingga ia lebih ramah lingkungan. Mengapa? Salah satu faktornya adalah karena untuk mendapatkan bambu, kita tidak perlu memindahkannya dari tempat yang jauh. Namun bambu yang baik untuk furniture bed harus diolah dengan pengawetan yang memadai, sehingga tidak mudah lapuk.
Faktor yang menentukan bahan material furniture bed dikatakan ramah lingkungan atau tidak, bisa juga dilihat dari cara mendapatkannya. Bila kita memakai kayu Kalimantan, misalnya, maka kita akan menebang pohon di Kalimantan, memindahkannya dari Kalimantan ke pulau tempat kita tinggal, dan baru menggunakannya. Proses ini membutuhkan kita menebang, kemudian mencemari lingkungan dengan polusi kendaraan yang dibutuhkan untuk memindahkannya.
I built a bed.
Material bekas seperti kayu bekas bisa juga dibuat menjadi furniture menarik
Dari segi desain, tidak mengherankan bahwa bed yang dibuat dari bahan selain kayu banyak yang terlihat lebih eksotis, menarik, bahkan modern. Hal ini karena kebanyakan bed dibuat dari kayu, sehingga material lain akan terasa beda. Material kayu bekas memiliki corak kayu yang tua dan terlihat garis-garis kuatnya, dengan sedikit sentuhan desain modern, akan tampil gaya dengan tampilan retro dan terlihat tua. Material rotan, terkenal dengan tekstur kuatnya yang digemari karena dibuat dengan cara dianyam dan butuh kerajinan khusus yang tidak semua orang bisa membuatnya. Dewasa ini, juga dikembangkan bed yang dibuat dari material sintetis yang berasal dari plastik. Bahan sintetis yang mirip rotan ini tidak kalah menariknya dan merupakan bahan alternatif selain kayu.
Dari sisi material, bed yang ramah lingkungan juga dibuat agar tidak menimbulkan polusi dalam ruang tidur. Polusi apakah yang bisa timbul dari material furniture bed? Biasanya kayu olahan dibuat dengan bahan lem sintetis, melamin, cat berbahan dasar minyak, dan beragam material berbahaya lainnya. Bahan konvensional untuk material bed ini tidak ramah lingkungan karena menghasilkan gas berbahaya yang dapat menimbulkan kangker. Untuk lebih amannya, pilihlah bed yang berbahan dasar bahan ramah lingkungan seperti kayu (lebih diutamakan kayu bekas, karena mengurangi penebangan pohon), dan finishing berbahan dasar air dan tidak mengeluarkan gas berbahaya.

If we use bed of bamboo, for instance, which is the material of bamboo plants easily grown and harvested within five years, then we help reduce the use of wood. In addition, bamboo can also be planted anywhere in the tropics, not like a particular wood that require more specialized treatment. Bamboo can be found anywhere, so he is more environmentally friendly. Why? One factor is that to get the bamboo, we do not have to move it from afar. But a good bamboo for furniture beds should be treated with adequate preservation, so to avoid getting rotten.

The factors that determine the bed furniture materials say environmentally friendly or not, can also be seen from how to get it. If we use the wood of Borneo, for example, then we will cut down trees in Borneo, move it to the island of Borneo where we live, and just use it. This process requires us to cut down, and then pollute the environment with pollution vehicles needed to move it.

Materials such as lumber used can also be made into attractive furniture

In terms of design, not surprising that the beds are made of materials other than wood that looks much more exotic, interesting, and even modern. This is because most of the beds made of wood, other materials that will feel different. Wood materials used have an old wooden style and looks strong lines, with a little touch of modern design, will look stylish with a retro look and look old. Materials: rattan, famous for its strong texture is favored because it is made by woven and need special craft not everyone can make it. Today, also developed bed made from synthetic materials derived from plastic. Synthetic materials like rattan is no less interesting and is an alternative material other than wood.

In terms of material, environment-friendly beds are also made so as not to cause pollution in the bedroom. What pollution can arise from the material bed furniture? Wood processing is usually made with synthetic glue, melamine, oil-based paint, and various other hazardous materials. Conventional materials for the bed material is not environmentally friendly because it produces harmful gases which can cause cancer. For more on the safe side, choose a bed-based eco-friendly materials such as wood (wood preferred the former, because it reduces the cutting of trees), and water-based finishing and makes no dangerous gases.

ambiece avec violon...

Desain bed pun harus disesuaikan dengan gaya hidup saat ini yang modern dan dinamis. Furniture dari bahan alternatif selain kayu dapat tampil memukau asalkan didesain dengan baik. Dipadukan dengan matras yang baik dari bahan ramah lingkungan. Dewasa ini, banyak material matras dibuat dari katun dan karet alami yang tidak mengeluarkan gas berbahaya, serta dapat menangkal bakteria secara alami.
Bagaimana kita memilih bed yang baik untuk ruang tidur kita, adalah sebuah pilihan yang menentukan tingkat kesehatan, dan hubungan dengan konsep green design. Alangkah baiknya bila kita memiliki preferensi khusus dalam memilih furniture bed yang ramah lingkungan, sehingga kualitas hidup dan alam menjadi meningkat.

Design of the bed must be adjusted to this lifestyle of a modern and dynamic. Furniture of materials other than wood alternatives can be provided fascinating look well designed. Coupled with a good mattress from environmentally friendly materials. Today, many materials made of cotton mattresses and natural rubber are not hazardous gases out, and can counteract the natural bacteria.

How do we choose a good bed for our bedroom, is a choice that determines the level of health, and relationships with the concept of green design. It would be nice if we have a special preference in choosing furniture eco-friendly beds, so the quality of life and nature to be increased.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Konsep Green Design untuk Furniture masa depan

built-in media cabinetastudioarchitect.com Konsep green design adalah topik yang sangat menarik untuk dibicarakan, karena tuntutan jaman semakin membuka mata kita akan pentingnya melestarikan alam dan sumber daya yang makin menipis. Tidak terkecuali dalam dunia desain furniture dan interior. Terutama karena Indonesia berada di daerah khatulistiwa yang kaya akan sinar matahari, sumber daya alam dan hasil bumi yang melimpah. Sumber daya alam seperti kayu, bambu dan rotan menghasilkan beragam furniture yang sangat menarik khas daerah khatulistiwa.

Bahan furniture yang didapat dari daerah tropis sangat terkenal diseluruh belahan dunia, dimana ekspor material furniture seperti rotan, baik dalam bentuk jadi maupun mentahnya, adalah andalan sumber devisa.

Green design concept is a very interesting topic to be discussed, because the demands of time getting open our eyes to the importance of preserving nature and the resources diminishing. No exception in the world of furniture and interior design. Especially because Indonesia was in the equatorial region is rich in sunshine, natural resources and abundant crops. Natural resources such as wood, bamboo and rattan furniture that produces a variety of very interesting characteristic equatorial regions.

Desain furniture seperti bed atau tempat tidur misalnya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh desain dalam ruang-ruang rumah. Bila dalam konsep green design kita mengenal konsep ruang hemat energi dan tropis untuk diimplementasikan dalam desain, kita juga mengenal desain furniture yang ‘green’ pula. Bila kedua konsep, yaitu konsep ‘mikro’ dalam bahan pembuat furniture, dan konsep ‘makro’ dalam desain ruangan digabungkan, kita akan mendapatkan konsep desain interior yang ‘green’ dan berwawasan lingkungan.
my room
Dewasa ini, furniture dengan label ‘eco-label’ atau produk berwawasan lingkungan termasuk produk yang banyak dicari. Tampaknya kesadaran akan dampak lingkungan akibat industri furniture sudah sangat meningkat di mata konsumen. Konsumen tidak lagi melihat jenis furniture berdasarkan bentuk, nilai estetika atau harganya saja. Konsumen juga melihat nilai dari peran saat ia memilih produk berwawasan lingkungan.

Furniture materials acquired from the tropics is well known throughout the world, where the export of materials such as rattan furniture, both in raw form so as well, is a mainstay source of foreign exchange.

Design of furniture such as beds or beds for example, is an integral part of the whole design of the home spaces. If the concepts we are familiar with green design concepts and energy-efficient space to be implemented in a tropical design, we also know that furniture design ‘green’ too. If the two concepts, namely the concept of ‘micro’ in furniture fabric, and the concept of ‘macro’ in the room design together, we will get the concept of interior design ‘green’ and environmentally friendly.

built-in media cabinet
Furniture yang dibuat dari kayu asli semakin langka, karena itu lapisan “seperti” kayu bisa diaplikasikan pada material furniture berbahan dasar kayu olahan yang lebih murah untuk mencapai tampilan yang seperti kayu asli.
Berbicara furniture, tentunya tak lepas dari berbicara bahan material furniture tersebut. Selama ini, furniture yang biasa dibuat adalah furniture berbahan dasar kayu. Material kayu menjadi semakin mahal dan langka seiring makin langkanya tanaman kayu seperti jati. Seperti kita ketahui, umur kayu siap tebang seperti kayu jati biasa membutuhkan waktu hingga 15 sampai 20 tahun untuk ditebang. Jati emas bisa ditebang dalam jangka 5-7 tahun. Akibatnya, persediaan material yang makin menipis mengharuskan kita memilih bahan sintetis, daur ulang, dan terbarukan.

Today, the furniture with the label ‘eco-label’ or environmentally sound products, including products that are sought after. Apparently awareness of the environmental impact of furniture industry has greatly increased in the eyes of consumers. Consumers no longer look at types of furniture based on the shape, aesthetic value or price alone. Consumers also see the value of the role when he chose environmentally sound products.

[picture]
Furniture made from native wood is increasingly scarce, because it layers “like” wood materials can be applied to wood-based furniture cheaper processed to achieve that look like real wood.

Talking furniture, must not get out of talking furniture such materials. During this time, furniture is usually made of wood based furniture. Wood materials become more expensive and increasingly rare as the scarcity of plants such as teak wood. As we know, the age of ready-cut wood such as teak wood used to take up to 15 to 20 years to cut down. Golden teak can be harvested within 5-7 years. As a result, supplies of material thinning requires us to choose synthetic materials, recycling, and renewable.
________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tren desain modern minimalis 2009 – artikel dalam koran Sindo

astudioarchitect.com Artikel dalam koran Sindo ini terbitnya sudah lama, dan memasukkan beberapa aspek desain rumah bergaya modern minimalis setelah wawancara dengan saya sebelumnya. Desain rumah dengan gaya arsitekturnya yang berubah-ubah, memang adalah sebuah fenomena yang menarik untuk diikuti, karena merupakan cerminan dari perubahan paradigma masyarakat kita, sekaligus merupakan kecenderungan yang diusung oleh pengembang real estate untuk mendongkrak penjualan.

DALAM KORAN SINDO
ADA banyak desain arsitektur rumah. Mau minimalis, klasik, Mediteranian, art deco, kontemporer, atau modern minimalis, Anda yang memutuskan. Pihak pengembang kini melirik gaya rumah modern minimalis. Hal ini diakui oleh Direktur PT Metropolitan Land Pandu Gunandito.

Katanya, pasar sudah sedikit jenuh dengan desain minimalis yang jadi tren pada 2008. Karenanya, kemungkinan pada 2009 ini pihaknya akan membangun desain rumah minimalis modern. Tujuannya agar masyarakat yang membeli rumah di kawasan perumahan lebih bangga karena desain rumah mereka sangat up date.

Gaya minimalis itu sendiri pernah booming pada era 1980-an. Namun, ketika kembali teraplikasi di abad ke-21, pasti sudah dimodernisasi dengan beberapa penambahan.

“Pada saat ini konsep arsitektur minimalis lebih banyak dipadukan dengan bahan atau material modern dan dengan gaya yang lebih dinamis, yaitu dengan pemakaian bentuk-bentuk arsitektural yang lebih bervariasi serta tidak kaku. Apabila kita melihat bentuk arsitektur tahun 1980-an, kita melihat suatu gaya yang berkonsep minimalis yang mengarah ke konsep art deco, dengan bentuk-bentuk yang lebih kaku dan monoton,” tutur arsitek Sanny Kurniadi.

Ditambahkan Probo Hindarto dari Astudio, “Prinsip arsitektur modern minimalis sebenarnya mengikuti prinsip arsitektur ‘form follow function’ atau bentuk mengikuti fungsi. Karena itu, bentuk- bentuk yang tidak perlu dihilangkan. Namun, di Indonesia, kita mendapati ornamentasi atau hiasan-hiasan masih banyak digunakan dan minimalisme telah menjadi sebuah gaya arsitektur yang berdiri sendiri.”

“Kadang-kadang gaya minimalis dianggap sebagai istilah pengganti untuk gaya arsitektur modern. Hal ini bisa dipahami, karena kebudayaan Indonesia yang sarat dengan ornamentasi atau hiasan,” lanjut Probo.

“Masukan” gaya modern dapat dilakukan melalui pemilihan cat interior maupun eksterior, pemilihan furnitur, serta pernik atau aksesori yang dapat menambah nilai estetika rumah minimalis.

Tiap ruang hendaknya fungsional, juga memiliki ambience yang mendukung kegiatan di dalamnya. Bicara furnitur, Probo memiliki tips dan trik menata rumah bergaya modern minimalis untuk Anda.

“Biasanya sesuai dengan sifatnya, furnitur yang kita gunakan juga simpel, fungsional, dan tidak berornamen atau tidak ada hiasan sama sekali. Karena bila kita menggunakan furnitur berornamen, maka kesan modern dari desain sebuah ruangan bisa kacau,” papar Probo.

Anda bisa memilih kursi kayu dengan jok suede berwarna gelap atau sofa berwarna cerah seperti peach, marun, dan krem berukuran besar maupun sedang untuk diletakkan di ruang keluarga.

Bentuk lampu gantung ataupun standing lamp modern melengkung juga bisa diaplikasikan untuk mendukung tata desain modern. Pilihan ada di tangan Anda. Namun, pada prinsipnya, untuk sebuah ruangan bergaya modern, pada saat mendesain interior ruangan itu, sering kali kita harus masuk ke dalam ruangan dan merasakan sendiri atmosfer ruangan tersebut.

Bila kita terlalu sering berada dalam sebuah ruangan, misalnya karena kita pemilik rumah tersebut, maka kita boleh jadi sering kehilangan “sense of space” seperti bila kita pertama kali masuk ke sebuah tempat. Masih senapas dengan kampanye go green yang berkumandang di penjuru dunia, hendaknya rumah Anda memiliki taman.

Jika memiliki sebuah lahan sisa,jangan disia-siakan. Kita bisa segera menanaminya dengan tanaman yang sejuk dan rindang saat ini juga. Bila tanah di sekitar rumah tidak ada lagi yang bisa digunakan sebagai taman, kita bisa menggunakan potpot tanaman yang digantungkan atau diletakkan di mana saja. Bahkan kita bisa meletakkan pot kecil berisi tanaman di meja kerja rumah atau pojok ruang tamu. Hijaukan rumah Anda di 2009! (sindo//nsa)

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.