Arsitektur untuk Kemanusiaan

https://i2.wp.com/bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English version

August 03, 2008
Becak afternoon
Photo by Simon Monk, used under Creative Commons license.

__________________________

Catatan Probo Hindarto:
Catatan ini saya tuliskan dengan ijin pak Galih Widjil Pangarsa. Saat penulisan artikel ini buku ini belum terbit.

Untuk menuliskan kata pembuka dalam rangkaian kata dalam artikel ini, bukanlah hal mudah bagi saya, karena berhadapan dengan pemikir-pemikir dan perancang (Pak Galih Widjil Pangarsa, Pak Eko Prawoto, Pak Joseph Prijotomo, Pak Adi Purnomo, dan lain-lain) yang hebat dalam masa ini yang sangat saya kagumi, terutama karena perjuangannya dalam pemikiran berkaitan dengan arsitektur disekitar kita, yang murni dan tidak tergantung pada ego industrialisme, hedonisme, konsumerisme, kapitalisme dan sejuta bilik-bilik yang dapat menterlenakan kita dalam sudut-sudut gemerlapnya dunia arsitektur ‘baru’… yang kadang kurang dapat menterjemahkan dirinya dalam kebersahajaan. Saya ucapkan semoga buku baru pak Galih dapat memberikan wacana lebih lanjut dalam pemikiran tentang arsitektur yang berakar dari budaya asli Indonesia.

Buku ini akan terasa jauh lebih mudah dipahami dibandingkan buku arsitektur pak Galih Widjil Pangarsa berjudul ‘Merah Putih Arsitektur Nusantara’, terdapat berbagai cerita, yang saya dalam usia saya yang muda ini melihatnya sebagai sebuah kearifan untuk melihat diri kita dalam drama, melihat arsitektur melalui karya pak Eko Prawoto, dalam bingkai yang diciptakan pak Galih. Disini terdapat drama yang meyakinkan, halus dan pantas disimak.

Bukan dalam wujud sinetron yang penuh kepalsuan, tapi lebih pada pertunjukan wayang orang yang sarat makna. Saya beruntung menerima draft buku ini untuk saya baca, saya bahkan belum selesai membaca buku sebelumnya, dimana saya harus ‘mendedikasikan waktu’ untuk memahami pemikiran dalam buku tersebut. Buku ini, sebagaimana dikatakan pak Galih, adalah buku yang lebih mudah dicerap. Laksana matahari pagi, cerahnya buku ini dapat menghadirkan suasana baru dalam pemikiran arsitektur kita.

___________________________________________________

https://i1.wp.com/bopswave.googlepages.com/Arsitektur_untuk_Kemanusiaan1.jpg

Yang dapat diketahui dari awal penjelasan pak Galih tentang buku ini, adalah sebuah kritik atas pendidikan arsitektur yang berbasis ‘gambar’ atau picture. Ada kemungkinan para pembaca akan dituntut untuk dapat memahami sepenuhnya pemikiran pak Galih ini dalam jangka waktu tertentu sesuai kapasitas pemahamannya. Namun hal ini bisa jadi penting, karena kita dapat melihat kepentingannya untuk ‘memahami’ arsitektur tidak hanya sekedar gambar-menggambar (seperti dijelaskan dalam bab Pembuka buku ini).

Melalui buku ini, kita dapat memahami bahwa arsitektur adalah soal ruang, bukan soal gambar, sebagaimana dalam karya-karya pak Eko Prawoto. Disini berarti apa yang terjadi dalam ruang adalah sesuatu yang ‘dirasakan’ bukan hanya difoto atau digambar. Melalui pemahaman ini kita menuju pada arsitektur yang lebih tanggap terhadap lingkungan, dimana kita tidak hadir dalam konteks individualistik, dimana desain hanya menjadi seseuatu yang ditancapkan begitu saja di lahan, tapi adalah bangunan yang dapat menumbuhkan sensasi ketika mengalami ruangnya, dan sensasi ini tidak dapat digantikan oleh apapun.

Karenanya, berbagai hal yang tadinya tidak ‘nampak’ dalam proses desain, akan muncul dengan nyata dalam ruang tempat bangunan itu tumbuh. Gemerisik dedaunan, sepatu yang berjejer di muka pintu, anjing menyalak dikejauhan, suara adzan, tangisan anak kecil di seberang jalan, adalah bagian dari arsitektur tempat ia berada, dan disinilah arti dari kehadiran ruang arsitektur, untuk bersama dengan alam guna merajut pengalaman dalam diri manusia.

Apa yang hadir dari arsitektur ‘kampungan’ kemudian menjadi bernilai, meskipun hadir dalam wujud yang sederhana dan dianggap ketinggalan jaman oleh orang kota, tetapi ia seringkali (dan sangat mungkin) hadir dalam tingkat kematangan desain. Tidak berlebihan, namun menyelesaikan dan memenuhi fungsinya untuk mengatasi alam tanpa berlebihan atau berniat untuk menonjolkan diri. Arsitektur ‘kampungan’ yang seringkali diungkapkan dengan cara meremehkan, ternyata hadir justru menjadi solusi reaktif yang sangat-sangat matang dan beralasan.

Arsitektur ‘kampungan’ diwujudkan pak Eko Prawoto dalam arsitekturnya, dalam buku ini dijelaskan sebagai mutiara2 baru dengan benih2 kemanusiaan yang hakiki, dimana ia dapat berjalin padu dengan alam. Arsitektur ‘kampungan’ yang tidak lagi dianggap sebagai arsitektur dengan konotasi ‘rendah’, namun memiliki konotasi kualitas tinggi.

Simak bagaimana rajutan kisah selengkapnya dalam buku ini. Yang menarik, buku ini juga disertai VCD film karya-karya Pak Eko Prawoto. Hal ini menjadikannya salah satu buku yang komprehensif dengan dukungan material visual untuk lebih memahami karya-karya pak Eko.

_____________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

3 responses to “Arsitektur untuk Kemanusiaan

  1. Komentar yang lalu dari artikel ini:

    nama: ade
    email: ade2103@gmail
    comments: comments on article: “‘Arsitektur untuk Kemanusiaan/ Architecture for Humanity – book review”:

    Levebre pernah menulis tentang buku berjudul production of space. dia mempertanyakan apakah gambar arsitektur/sketsa dapat mewakili keadaan yang sesungguhnya? teori ini kemudian dijawab oleh Steven Holl dengan karya-karyanya yang berbasis fenomenologi. karya fenomenologi biasanya tidak menghasilkan bentuk yang glamor,wah,megah namun lebih menekankan tentang kesan ruang yang dialami. teori ini muncul diabad 20 awal, sementara pada prakteknya arsitektur yang berbasis ruang rasa di Ind sudah ada sejak jaman bahari.

    Ini sebenarnya adalah permasalahan mengenai praktek dan teori (praktek yang diteorikan dan teori yang dipraktekkan). Indonesia masa lalu punya praktek tanpa teori sementara Eurocentrisme mempunyai teori yang dipraktekkan.
    website ini: nice

  2. saya saat ini bekerjasama dgn beberapa arsitek dari Filipina, malaysia, Australia, yang kebetulan semuanya hampir seusia saya. semakin banyak kami berdiskusi, semakin saya merasakan ada yang keliru dalam penerapan pola pendidikan arsitektur di Indonesia. terus terang saya belum dapat menjelaskan secara jelas dimana letak kekeliruan tersebut, tapi saya sangat setuju dengan kritik Pak Galih, bahwa memahami arsitektur harus lebih jauh dari sekedar gambar. karena saya pribadi merasakan pemahaman ruang yang saya terima dalam pendidikan arsitektur dulu, jauh di bawah teman2 yang berasal dari negara yang berbeda

  3. @Hardian,
    terimakasih komentarnya

    Dalam sebuah workshop yang diadakan oleh Pak Galih dan Pak Eko Prawoto, saya belajar untuk menangkap hal-hal berkaitan dengan site, melalui pengamatan dalam site, dan dari metode ini, ternyata kita bisa memunculkan banyak ide berkaitan dengan tempat, dimana arah mata angin, potensi sinar matahari, angin, letak tumbuhan, material dan sebagainya muncul secara natural melalui pengamatan natural ini.

    Menurut saya ini termasuk metode yang sangat baik. Saya berharap kampus2 bisa menerapkan metode ini dalam proses pembelajarannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s