Estetika semu industrialis

19 Mei 2007

Industrialisme telah melekat dalam dunia berkehidupan kita, dimana menjadikan produk-produk dapat dinikmati dengan mudah dan murah, karena melalui proses pembuatan secara massal. Biasanya yang merupakan produk industri adalah benda-benda seragam, yang standar dan dapat dibeli dengan mudah.

Ada kecenderungan benda-benda kehilangan cita rasanya, karena desain massal dibuat dengan pendekatan sama bentuk, rasa, harga. Benda-benda yang banyak dan sama lebih murah dan mudah didapatkan. Ada kerinduan terhadap benda-benda dengan keaslian cita rasa dari desain, yang dibuat berdasarkan crafting atau kerajinan. Cita rasa keindahan benda yang didesain dengan baik dan langka memang tidak mudah didapatkan dan dilupakan. Dalam cerita Lord of The Ring, tokoh Bilbo menulis sebuah buku, sebuah buku saja tanpa salinan atau copy. Tentu saja buku seperti itu menjadi sangat berharga.



Mengunjungi obyek monumental, biasanya merupakan pengalaman berharga, karena obyek semacam itu biasanya menumbuhkan pengalaman tentang sesuatu yang lain daripada yang lain. Karenanya obyek monumental biasanya merupakan penanda suatu tempat, karena keberadaannya berbeda dibandingkan yang lain disekitarnya.

Jaman modern banyak memberikan kemudahan. Banyak hal yang mudah didapatkan karena industri harus dihubungkan dengan faktor ekonomi, seberapa banyak suatu produksi massal dapat dijual. Ada suatu keresahan, akankah masyarakat menjadi sasaran prinsip ekonomi ‘mendapatkan sebesar-besrnya dengan modal sekecil kecilnya’. Saat ini, banyak hal dapat dijual menjadi komoditas industri melalui mekanisme periklanan. Benda-benda dijual dengan slogan, ‘image’, atau merk dan brand yang bergengsi, atau membawa pengguna atau pembelinya kepada perasaan tertentu (misalnya perasaan hebat, santai, glamour, dan sebagainya). Contoh sangat sederhana; makanan ringan seperti snack untuk anak-anak, biasanya lebih mahal bungkusnya daripada isinya (biaya produksi plastik bergambar warna-warni yang menarik itu lebih mahal daripada terigu dan bumbu penyedap makanan itu).


bungkus kadang lebih mahal daripada isinya, hanya agar dibeli

Industri, tak pelak juga masuk dalam dunia yang berhubungan dengan arsitektur. Industri perumahan memberikan label yang lekat dalam industri berkaitan dengan arsitektur. Terdapat prosedur yang serupa diterapkan dalam industri berkaitan dengan arsitektur, misalnya industri perumahan. Sangat terasa, industri ini dikemas sedemikian rupa untuk menunjang penjualan. Image, brand, sensasi, tampaknya menjadi perhatian utama dalam proses pengenalan suatu produk industri arsitektur, misalnya rumah tinggal. Berbagai cara beriklan dibuat agar masyarakat tertarik untuk membeli. Hal ini bila dipikirakan lebih lanjut, akan menggiring kita pada pertanyaan; kemanakah arah dari penetrasi slogan industrial kedalam tubuh masyarakat?

Sebuah desain, yang biasanya memiliki estetika sejati yang terpancar dari keaslian desain, menjadi sebuah estetika yang diterapkan untuk tujuan penjualan, suatu tujuan yang kurang memiliki makna. Pembeli menjadi terpikat karena kesan awal, biasanya dari ‘tampilan’ atau bungkus dari bangunan tersebut. Inilah sebuah estetika yang semu itu, suatu hal sia-sia sejak diciptakan. Menumbuhkan kesadaran untuk desain yang dipikirkan sungguh-sungguh lebih penting dalam hal ini, sehingga desain dapat memberikan kepuasan bagi penghuni tanpa keinginan merombak berlebihan dikemudian hari.

Adalah penting untuk menerima arsitektur sebagai seni merancang, dimana dalam ‘seni’ kita menemukan jiwa sebuah bangunan. Sehingga estetika menjadi sesuatu yang lebih murni. Penghargaan yang tinggi pada mereka dalam jaman ini yang menelaah hasil berkehidupan nyata dalam masyarakat, kemudian membawanya dalam level arsitektur saat ini, karena hal itu tidak mudah dan memerlukan proses berpikir dan mencipta yang panjang.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s