Kenangan suatu tempat …

26 Mei 2007
(Saya teringat, suatu saat ketika saya masih kecil, hal yang cukup teringat sampai sekarang yang pernah terjadi yang saya ingat akan suatu tempat adalah ketika ayah saya mengajak saya pergi ke stasiun kota untuk menjemput seseorang. Saat itu, bayangan tentang stasiun besar itu melekat kuat dalam ingatan saya, bagaimana deretan kolom-kolom raksasa, hembusan angin di tempat tunggu, banyak orang berlalu lalang, citra keras bangku stasiun, suara-suara gumaman dan sempritan serta perasaan bahwa dari sini kita bisa melihat si binatang besi yang panjang itu akan lewat)

Melihat kembali bagaimana kita membangun… Seperti apa dulu kita membangun sebuah rumah? Atau adakah sebersit memori dalam benak kita tentang kenangan suatu tempat yang tak terlupakan? Suatu saat ketika kita berada di tempat yang rindang, dengan hembusan angin menggoyangkan perlahan daun-daun diatas kita, dengan rembesan cahaya yang berkelap-kelip…



Suatu tempat yang cukup besar bagi kita untuk berlarian dan mengagumi segala sesuatu. Pernahkah kita mengingat saat-saat itu dan berada di suatu keadaan pikiran dimana kita ingin berada disana, ditempat yang paling kita inginkan?


Rumah yang tidak besar, disebuah desa yang rindang sejuk, pernah mungkin hadir dalam bilik memori termanis dalam hidup.

Semua orang memiliki kenangan manis akan suatu tempat, yang entah didapatkannya dari suatu fase dalam kehidupannya. Ia menimbulkan sebuah impresi akan tempat yang paling diinginkan…


Adakah kenangan itu berupa suatu saat ketika kita melihat daun-daun memainkan cahayanya…


Atau suatu saat di masa lalu, ketika kita melihat rumah yang begitu megah dan ‘tak mampu terbendung’ dalam ingatan kita?

Adakalanya seseorang pernah berada di tempat yang begitu damai, begitu nyaman, rindang, atau juga begitu bersahaja. Kenangan itu demikian melekat dalam dirinya dan membuatnya memiliki impian terbesar akan tempat seperti apa yang paling diinginkannya. Ruang hidup yang demikian diinginkan itu terbawa saat menghendaki membangun sesuatu, misalnya rumah tinggal.


foto dari perjalanan [samm]

Mungkinkah di suatu saat yang telah lalu, tempat sebersahaja ini hadir dalam diri kita dan memberikan sebagian kenangan yang tinggal dalam hati kita hingga suatu saat nanti akan muncul dalam suatu bagian dari desain yang kita hasilkan…

Hingga suatu saat di masa ini, ketika kita hendak menginginkan suatu ruang untuk hadir, kita selalu teringat kembali pada saat-saat terbaik kita bersama suatu tempat. suatu mimpi akan tempat …


Suatu interaksi antara diri dan tempat, dengan segala makna dibalik suatu kejadian, atau suatu kesempatan, peristiwa tak terduga yang mendefinisikan tempat dan memori dibalik itu…


Suatu peristiwa semisal perkumpulan sederhana yang terjadi dalam kehidupan sederhana dalam dunia sosial yang membekas sangat kuat dalam ingatan tentang sebuah tempat?


Mungkin juga suatu ketika memandang rintik hujan dari balik jendela, sekedar merasakan lingkungan dan diri menyatu … bayangan tentang suatu peristiwa dalam hidup



Tekstur bagian ruang … sebagai elemen pembentuk ruang…


Mungkin juga, suatu kesan akan Soliditas dan transparansi …

Dalam diri seorang manusia, bayangan akan ruang yang paling ideal itu akan berproses dan membentuk jatidiri yang muncul dalam proses perancangan. Secara tak sadar, kita memberi tempat bagi ‘rasa’ terhadap ruang dalam perannya menentukan seperti apa desain dibuat.

Meskipun lama, fragmen memori itu ada, terbayangkan seperti foto lama yang tersimpan. Memang adakalanya lusuh, namun bila dijaga dengan baik, foto itu menceritakan sesuatu.

Atau bahkan memori tentang suatu tempat itu sendiri didapat dari membayangkan suatu tempat yang terideal, bahkan terkadang adalah hasil dari penglihatan atas sebuah foto atau gambar yang menarik. Meski tentunya tak sekuat pengalaman aslinya, imajinasi dapat membentuk diri tentang keinginan atas suatu ruang.


Gelembung citra diri dan dunia dalam diri saya

(dalam diri saya, itu juga berproses dan melanjutkan misinya dalam membentuk citra ruang yang bisa saja suatu saat muncul dalam desain… citarasa yang tersimpan dibalik pikiran saya adalah harta terpendam, yang dimulai dari diri sendiri, impresi ruang, impresi ruang dalam masyarakat, dan meluas hingga ke impresi saya tentang dunia ini. Saya yakin, itu hadir dalam diri setiap orang, setiap desainer, yang menggunakannya dalam desain)

– Probo Hindarto –

addition:

Dalam masa ini, saya mencoba untuk menggali apa hubungan arsitektur dengan kehidupan manusia, dan kehidupan manusia dengan arsitektur.

Ternyata, berarsitektur tidak hanya menggambar, atau bentuk-bentuk bangunan semata. Ia jauh lebih dari itu, arsitektur membawa kita pada pembelajaran-pembelajaran yang tersembunyi dari kiasan dan fenomena dibalik tingkah laku seseorang, diri kita sendiri, masyarakat dan pola pikir, bahkan rahasia dibalik hidup itu sendiri. Dengan kemudaan ini sebagai orang yang belajar sepanjang jaman akan keterampilan berkehidupan, berarsitektur, dan berusaha mencari makna akan segala sesuatu, hal itu dirasa dapat membawa pada suatu kesimpulan akan dunia arsitektur yang kita hadapi, maupun hal-hal yang teramat sederhana seperti seberapa besar manfaat desain bagi orang yang menggunakannya?

memahami langkah-langkah yang dilalui terkadang tidak bisa dengan mudah terlampaui karena tidak ada yang dapat melihat segala sisi kehidupan, mencerap makna itu menjadi pekerjaan terberat. Apa konsekuensi untuk belajar dengan cara terberat itu? Mungkinkah itu membawa kita pada pengertian lebih baik akan suatu hal, akan jalan yang dilalui dalam dunia pemikiran yang terjal dan berliku? Tidak bisakah kita memilih jalan termudah untuk itu? Rasanya dalam semangat muda ini, jalan itu pun tetap akan panjang dan berliku.

harapan terbesar dalam perjalanan itu adalah menemukan untaian mutiara-mutiara dalam sepanjang perjalanan. Mutiara-mutiara itu menjadi hiasan terbesar yang disimpan dalam kotak sederhana, hati kami. Untuk mendapatkan sebuah mutiara, rasanya hanya seperti sebuah perjalanan mendaki puncak gunung tertinggi. Kami belum pula yakin telah menemukannya.

***

Mungkin hadir hari kemarin, hari ini, atau hari esok, suatu fasa dalam hidup, dimana segalanya terlihat begitu jernih. Dalam kurun waktu yang tersedia mengambil kesimpulan yang dapat membawa kita pada kehidupan dan makna yang dicari itu. Betapa kehausan dalam hidup itu, mungkin tidak sepadan dengan jawaban yang dicari, apakah itu hanyalah sebuah jawaban sederhana, bahkan mungkin sebuah jawaban yang tiada pernah ada.

Kemudaan, vitalitas dan energi yang tersimpan sedemikian besar itu, dengan segala dibalik pikiran yang mencoba meraba-raba arti dibalik suatu fenomena, terasa tidak ingin dilepaskan begitu saja. Kehadiran vitalitas dan dunia yang membendung vitalitas itu bukanlah suatu kondisi yang memungkinkan segalanya hadir dengan cepat seperti keinginan muda itu. Tentu saja itu merupakan proses, dengan segala resiko, kesalahan dan apapun yang telah terbuat. Terkadang kami mendongak, menggumamkan sesuatu pada yang Agung…

Dan Yang Agung menjawab tanpa suara, hanya sebersit gambaran dalam berbagai fenomena, sebuah teka-teki kandungan hidup.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s