Kreativitas vs Batasan (vs; the right term??)

6 April 2006


ada kebebasan… ada batasan


“Bu, kenapa sih, seni itu harus dibatasi? Kan kita jadi nggak bisa kreatif mengeluarkan ide-ide kita?” tanya seorang mahasiswa dengan nada sedikit memprotes, ”Padahal sebagai calon arsitek kita harus kreatif kan? Kalo dibatas-batasi, gimana karya kita bisa bagus jadinya??” lanjutnya lagi.


2
Saat itu, topik pembahasan ’Arsitektur dan Kebudayaan’ yang saya sampaikan di matakuliah Arsitektur Pramodern rupanya berkembang menjadi diskusi yang cukup hangat antara saya dan para mahasiswa. Banyak hal kami bahas, terutama mengenai keterkaitan peradaban dan arsitektur, perbedaan filosofi Timur dan Barat, perkembangan worldview bangsa-bangsa di dunia, sampai pada keterkaitan dan jalinan empat instrumen dalam diri manusia (iman, akal, rasa dan etika) untuk memahami kebenaran. Saya jelaskan bahwa keilmuan, apapun bentuknya, tidak dapat benar-benar terlepas dari iman dan etika, juga estetika, walaupun instrumen utama yang banyak digunakan dalam keilmuan manusia adalah akal. Karenanya, saat ini muncul ilmu bioetika dan sejenisnya yang mengkaji keterkaitan ilmu dan etika. Begitu pula dengan seni yang tidak dapat bergerak semaunya tanpa batasan etika, seperti yang akhir-akhir ini ramai dibahas di media massa.

Sambil perlahan menarik nafas panjang, saya berusaha mencari jawaban yang cukup sederhana dan dapat mengena ke dalam alur logika mereka. Hal yang sangat sulit saya rasa, karena sebagai tenaga pengajar yang masih harus banyak belajar, saya seringkali terkaget-kaget dalam hati dengan pertanyaan mahasiswa yang beraneka ragam.^_^. Feeling saya mengatakan hal ini cukup sensitif, karena ketidakmampuan atau kesalahan saya dalam menjawab akan berakibat cukup fatal bagi si penanya, juga bagi mahasiswa lainnya.

”Sekarang saya beri kalian satu tugas, tolong kalian kerjakan,” kata saya akhirnya. ”Kalian saya beri tugas merancang apa saja, di mana saja, kapan saja, bagaimanapun bentuknya, berapa saja, dan dikumpulkan terserah saja” kata saya sambil tersenyum melihat banyak dari mereka bengong dengan tugas aneh yang saya berikan. Setelah satu menit dalam kesunyian, akhirnya salah satu dari mereka dengan cukup kocak memecahkan keheningan dengan berkata, ”Waah, bingung atuh Bu, tugas kok bebas banget kaya’ gitu?? Lah, terus kita harus merancang apa? Ruangannya apa-apa aja? Kok nggak ada keterangan lokasi, luas lahan dan tema perancangannya Bu??”

Sambil menahan geli, saya berkata, ”Ooo, jadi kalian minta batasan yaa?”. Ketika menyapukan pandangan ke seluruh mahasiswa, saya menangkap beberapa di antara mereka telah mengerti dengan alur logika yang saya tawarkan pada mereka, namun beberapa lainnya tampaknya memerlukan pembahasan lebih jauh akan hal ini.

Saya lalu menerangkan bahwa batasan tidak bermakna negatif dalam kreativitas dan seni. Batasan justru kita butuhkan untuk menguji kreativitas berbuat dan berkarya di dalam koridor tertentu. ”Creativity is how we manage things in constraints”, kata Prof. Sandi A. Siregar, Guru Besar Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung, dalam acara Workshop Kurikulum Jurusan Teknik Arsitektur UIN Malang, akhir Maret 2007 lalu. Apakah batasan merupakan wujud pengekangan kreativitas? Tentu saja tidak. Seseorang dianggap kreatif jika mampu berbuat sesuatu di dalam batasan yang ada. Jika ia mampu berbuat sesuatu dengan kebebasan yang mutlak, maka tidak ada kreativitas di dalamnya, itu biasa saja namanya.

Seperti halnya ilmu yang tidak bebas nilai, begitu pula halnya seni. Sebagai contoh, dalam pandangan ilmu, tidak ada yang salah jika seorang peneliti hendak meneliti aktivitas manusia di dalam kamar mandi. Ilmu ini tentu saja bermanfaat untuk merancang kamar mandi yang sesuai dengan aktivitas manusia di dalamnya. Walaupun demikian, dari sudut pandang etika, jika kita meneliti dengan cara memasang kamera tersembunyi (karena pasti sangat sulit menemukan sampel penelitian yang dengan sukarela mempertontonkan aktivitasnya itu di depan kamera, kan?), tentu saja hal ini tidak dapat dibenarkan. Lalu di mana letak kreativitasnya? Dalam hal ini, batasan etika berfungsi memacu akal untuk mengeksplorasi cara dan kemungkinan yang lebih baik dalam melakukan penelitian, misalnya dengan simulasi komputer berdasarkan data-data ergonomi dan hasil wawancara dengan sampel penelitian. Di sinilah kreativitas dibutuhkan, ia adalah kemampuan manusia untuk tetap dapat berbuat sesuatu di tengah batasan, dengan tidak melanggar batasan-batasan itu.

Melihat kembali ke sejarah masa lalu, terdapat contoh yang sesuai dengan ini. Dalam khasanah arsitektur Islam, adanya batasan untuk tidak menggambarkan figur manusia atau hewan di dalam seni, terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai hal ini, ternyata ditanggapi secara positif oleh para seniman dan arsitek muslim di awal perkembangan peradaban Islam.

Dengan eksplorasi kreativitas yang intensif di dalam koridor nilai-nilai Islam, seniman islam berhasil mengembangkan suatu ragam seni dekorasi tersendiri yang sangat unik dan estetik. Struktur arabesque, atau pola dekoratif tak terbatas dengan tingkat kerumitan dan keindahan yang sangat tinggi, bahkan memiliki nilai plus dalam kandungan makna dan nilai yang berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan.

”Jika seorang pemain sepakbola dapat memasukkan gol ke gawang yang tidak dijaga, di dalam suatu permainan yang tidak diawasi oleh wasit, dan tidak diimbangi dengan lawan main sejumlah 11 orang, apakah ia bisa dianggap hebat?” tanya saya sambil mengakhiri diskusi hari itu dengan sebuah pertanyaan yang pernah saya baca di salah satu majalah, ”Tidak kan? Ia hanya akan dianggap hebat jika ia mampu membuat gol di tengah pertandingan yang dibatasi oleh waktu yang sempit, peraturan yang mengikat dan pengawasan wasit yang ketat, serta dengan lawan main yang seimbang.”

Penulis:
Yulia Eka Putrie
(Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Malang)

________________________________________________
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

One response to “Kreativitas vs Batasan (vs; the right term??)

  1. Komentar sebelumnya di http://www.astudio.id.or.id

    nama: henyan
    email: hen_yan90@*****.co.id
    comments: comments on article: “Kreativitas vs batasan”: ak setuju kalo kreatifitas di semua hal harus diimbangi kebebasan, namun dengan catatan tidak kebablasan terlalu bebas dan semua aturan dilabrak, ok…!
    website ini: Bagus

    nama: gizmi 04
    email: IDRISGIZMI@*****.COM
    comments: mungkin maksute kebebasan arsitek mendesain dengan perancangan yang yang melebihi nalar manusia tanpa di batasi apapun hee hee hee.
    karna nabi sulaiman pernah punya kerajaan yang di luar nalar dan itu nyata.
    jadi berfantasi akan meningkatkan kreativitas.
    bukan tidak mungkin kita membuat bangunan sehari
    jadi dengan bantuan kegaiban.
    apa ada pelajaran arsitektur tentang kegaiban bangunan?
    website ini: seneng

    nama: nyetChil Yang basah
    email: beruk_maniz@*****.com
    comments: comments on article: “Kreativitas vs batasan”:

    WUihhhh… Rasanya kayak terguyur baca artikel artikel di atas… ternyata semua yang ada di dunia akan menjadi positif bila apa yang ada di kepala kita positif. musuh terbesar kita ya pikiran kita sendiri!!. bahkan sebuah kata KETERBATASAN yang selalu terdengar sebagai hal yang negatif plus pesimis ternyata bisa jadi hal yang penting. seperti Yin dan Yang, hitam dan putih… intinya saling melengkapi. ( Duh apa c Gak nyambung.
    website ini: positif

    nama: dudunk
    email: umbu_du2nk@*****.co.id
    comments: comments on article: “Kreativitas vs batasan”:

    Kreatifitas tanpa batasan adalah kreatifitas (Seni) yang Kebablasan..!!!
    ” Kita hidup di dunia yang ‘brutal’…!”
    website ini: good learning

    nama: sania
    email: zshania_wow@*****.com
    comments: comments on article: “Kreativitas vs batasan”: yup,,untuk para idealis2x
    seni,, think back and watch out this statement,,
    orang2 yg nganggep batasan itu mematikan kreatifitas adalah orang orang yang justru kreatifitasnya terbatas atau malah gak kratif!!
    intinya sgala sesuatu yang dibatasi karena perlu dibatasi,,

    saluud d…
    website ini: wOKeyy,, Bo’

    name: guns717@*****.com
    komentar: comments on article ‘Kreativitas vs Batasan’:saya sepakat
    dengan yang telah terjadi di atas.cuma menambahkan:”seni itu indah.”
    keindahan itu tercipta dari “keterbatasan”dan sebuah kreativitas itu “ada”
    ketika kita tidak lagi terbatas pada “keterbatasan”

    name: yulia + yuliaeka_p@*****.com
    komentar: comments on article ‘Kreativitas vs Batasan’:
    wah, menarik juga diskusi di sini, maaf baru buka halaman ini lagi, jadi baru bisa komen sekarang ^_^
    acank said “batasan seharusnya muncul dari nilai rasa arsitek dan seluruh elemen desainnya,baik itu ordernya sendiri sampai nilai sejarah maupun tema yang diusung sang arsitek pada suatu perencanaan yang kemudian membedakannya dengan karya yang lain pada site dan order yang berbeda pula.” pada dasarnya saya setuju bahwa batasan bisa bersumber dari arsitek itu sendiri, namun tentu saja kita hidup di dunia nyata dan berhadapan dengan banyak orang… di dalam dunia yang seperti ini, kita sebagai arsitek harus bisa membedakan “idealisme” kita dengan “egoisme” kita sebagai arsitek, karena tidak jarang idealisme itu semata-mata wujud dari egoisme yang ada dalam diri si arsitek, misalnya keinginan untuk dikenal, diakui, dituruti kemauannya, dsb…

    Untuk mencegah hal ini, ada baiknya kita sebagai arsitek lebih banyak mendengar, merasakan, berempati dan mengakui bahwa kita juga memiliki kekurangan…

    Berkaitan dengan batasan yang datang dari luar, bahkan pada suatu saat bisa terasa sebagai sesuatu yang “overgeneralisasi”, di situlah sebenarnya tantangan bagi para arsitek. Hanya dengan adanya tantangan, potensi (salah satunya kreativitas) yang ada dalam diri kita bisa dipaksa untuk keluar dari dalam. Tentang bagaimana usaha untuk mengeluarkan potensi itu, tentu masing2 orang punya pengalaman yang berbeda-beda… Finally, selamat menggali potensi lewat batasan!! ^_^

    name: acank n1n4_n@*****.com
    komentar: comments on article ‘Kreativitas vs Batasan’:salammm….menarik memang berbicara batasan,pada dasarnya saya sepakat dengan adanya batasan, adanya batasan justru melatih daya kreatifitas dan analisis kita, tapi yang menjadi masalah adalah ketika sebuah batasan mempunyai kedudukan yang unyversal atau overgeneralisasi yang memunculkan standarisasi standarisasi dan aturan-atruran yang kemudian mengalami malfungtional.lalu yang seperti apakah batasan seharusnya?batasan seharusnya muncul dari nilai rasa arsitek dan seluruh elemen desainnya,baik itu ordernya sendiri sampai nilai sejarah maupun tema yang di usung sang arsitek pada suatu perencanaan yang kemudian membedakannya dengan karya yang lain pada site dan order yang berbeda pula.wassalam…..

    astudio:
    Barangkali bu Yulia ingin menambahkan komen….

    name: jocobain, jo.cobain@*****.co.id
    komentar: keterbatasan bukanlah suatu”deskriminatif idea’, walaupun dulu saya jg smpat megingankan suatu proses perancangan yg memberikan ekploitasi seluasnya… tapi dengan keinginan yg demikian justru memberikan suatu “stymieing” untuk saya bila akan mendisain sutau ruang/bangunan dengan keterbetasan space nya… oleh karenax kreativitas menrut saya typicalli for arsitektur space adalah bagmana kepekaan kita dalam menyelesaikan antara permaslaah dan keinginan untuk seuatu proses desain dalam wadah space yg sangat terbatas… once again salut bagi metode pembelajaran Bapak!

    name: firhansyah + firehunt_2005@*****.co.id
    komentar: comments on article ‘Kreativitas vs Batasan’:
    membaca artikel saya seolah-olah melihat gambaran pertarungan antara kreativitas dan batasan. kemudian didamaikan dalam sebuah diskusi yang sangat menarik.
    saya sangat tertarik dengan cara mengajar ibu Yulia di kelas. seandainya ibu bisa mengajar di kampus saya, wah pasti bakalan rame nih.
    jika dipikir0pikir lebih mendalam menurut akal saya yang terbatas ini ternyata berkreativitas adalah sebuah proses untuk membuat batasan-batasan. karena jika seseorang disuruh untuk berkreativitas dalam mendesain maka yang akan keluar hasilnya adalah tentu sebuah desain yang konkrit bukan sesuatu yang hanya ada dalam fantasi belaka. desain adalah sebuah batasan dalam kreativitas untuk memecahkan masalah….

    name: aisyah + eyesha_07@*****.com
    komentar: comments on article ‘Kreativitas vs Batasan’:
    Wuii….i’v been heared that conversation on my class…i think…:)
    Salut deh…masalah design mendesign dalam kearsitekturan tampaknya memang akan selalu dikorelasikan dengan kreativitas dan diframe dalam batasan, beberapa kali otak saya disubsidi pemikiran yang mendoktrin bahwa alangkah baiknya jika karya kita tidak hanya mengandung unsur-unsur WOW yang akan mengundang decak kagum, tapi ketika kita juga memasukkan nilai-nilai agamis (mungkin dogmatis) sehingga secara tidak langsung karya kita mengajak pada sebuah kebaikan…
    Ngarsitek sambil Ibadah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s