Simbolisme arsitektur tradisional dalam konteks bangunan modern (perbincangan)


(Taman Krida Budaya Jawa Timur). Fotografer: Probo Hindarto

Ditulis: 25 Maret 2007
Minggu yang cerah, saya berkesempatan bertemu lagi secara informal dengan Pak San Soesanto (sedang menuliskan draft bukunya tentang simbolisme), membicarakan tentang simbolisme arsitektur tradisional dalam konteks bangunan modern. Sepotong tukar informasi sempat saya tuliskan untuk Anda. Bahasa verbal dari ceplas-ceplos yang sempat direkam ini adalah bahasa verbal yang tidak sama dengan bahasa tulis, namun dibuat demikian agar tidak mengubah maknanya. Ada kemungkinan bila disampaikan dengan bahasa tulis, akan berbeda versi dari percakapan ini.



san: Pelestarian itu ada beberapa macam, pertama kita membuat persis seperti originalnya, kedua mengambil nilainya, yang ketiga bentuk modern tapi masih mengandung nilainya. Jadi bila diambil benang merahnya; nilai dulu baru bentuknya. Bila bertujuan membuat simbol, simbol itu apa dulu disini. Semua simbol kan mempunyai tujuan tertentu. Seperti mall misalnya, begitu banyak plakat-plakat-plakat, itu semua juga simbol sebetulnya. Simbol itu ‘aku punya banyak barang, aku mewah, aku tempat rekreasi, silahkan masuk’, monggo masuk. Kan begitu? Nah disinilah, apa dulu tujuannya.

probo: jadi apa yang membedakan bila sesuatu itu tempelan atau merupakan bagian dari nilai itu sendiri pak? Misalnya suatu bagian bangunan itu diambil dari arsitektur masa lalu, misalnya ada suatu ukiran dimasukkan pada pilar didalam konstruksi yang modern, namun apakah itu bermakna atau tidak kan masih suatu pertanyaan?

san: ada dua kriteria. Anda membuat space, atau Anda membuat place… Bila Anda membuat space, maka aturan-aturan itu harus Anda jaga betul. Bila Anda mau membuat place saja, ini tidak perlu di …. (maaf, suara rekaman hilang)… seperti mas tadi bilang ‘tempelan’, saya yakin Anda kayak ragu dengan ‘tempelan’ itu, agak ragu karena tempelan itu terlihat jelek, tidak terlihat bagus, … meragukan lah..


(Taman Krida Budaya Jawa Timur). Fotografer: Probo Hindarto

p: tempelan itu saya kuatir akan diambil oleh penikmat desain itu sebagai nilai yang sebenarnya, padahal disitu tidak ada nilai yang seharusnya terkandung, akhirnya menjadi suatu salah kaprah, kemudian diadopsi dan kemudian nantinya akan menjadi sesuatu yang melenceng jauh dari nilai sebenarnya.

s: ya itulah, itulah, tergantung pada faham kita terhadap arsitektur itu sendiri. Arsitektur itu sesuatu yang berkembang, kan? Atau arsitektur itu sesuatu pakem yang tidak bisa disamaratakan akan terus bertahan. Itu dulu. Nah, kalau yang tentang place tadi, itu menjawab begitu perkembangan saat ini. Mungkin tidak cocok dengan kita, atau mungkin, kita sedikit lalai bahwa jaman itu berkembang. Mungkin juga perkembangan yang baru, itu memerlukan juga waktu-waktu ada nilai-nilai … atau jangka waktu tertentu untuk beradaptasi. Itu untuk kita terutama arsitek. Jadi jangan dulu, menurut saya, dengan adanya perubahan-perubahan nanti akan melenceng… why not? why not?


(Taman Krida Budaya Jawa Timur). Fotografer: Probo Hindarto

P: Oh, jadi justru, peradaban itu berkembangnya dari situ?

S: ya, Kita tidak bisa berhenti disini, mengatakan ini tidak baik, ini tidak buruk. No! Arah itu buanyak arahnya.. Dan itu akan Anda alami, itu akan kita temui. Seperti begini: Arsitek itu bukan arsitek kalau dia tidak bisa freehand. Bila tidak bisa freehand maka dia bukan arsitek. Apakah kalau dia menggambar memakai komputer saja itu dia bukan seorang arsitek? Apakah kalau begitu dia arsitek dadakan? Nah itu kita perhitungkan dulu. Intinya itu tadi.


(Taman Krida Budaya Jawa Timur). Fotografer: Probo Hindarto

p: sejauh mana, simbolisme yang mewakili suatu kebudayaan itu harus dijaga pak?

s: oh ya, satu yang saya mampu menjawab; nilai-nilai.


Kompleks makam Bung Karno, fotografer: Yogi ‘Awang’ Diwangkoro

p: apa yang dimaksud nilai-nilai itu? apakah nilai tingkah laku ataukah nilai …

s: dalam suatu kehidupan berarsitektur itu tidak pernah ada orang melenceng dari kebudayaan asal tempatnya. Orang Jawa ya orang Jawa. Mau pake baju apa saja tetap saja orang Jawa. Meskipun kita bertanya apa, jawabannya apa, tapi kita tahu bahwa itu ada. Makanya manusia itu yang paling penting adalah apa yang ada dalam dirinya sendiri, dan tidak semudah itu kita akan runtuh (hilang kebudayaannya). Sekarang, jaman global gini ya, semua orang kalau …


Kompleks makam Bung Karno, fotografer: Yogi ‘Awang’ Diwangkoro

p: sekarang ini pak, banyak orang sedang meributkan tentang anak muda jaman sekarang tidak lagi mengenal budayanya. Tapi kita berada di jaman yang berbeda. Apakah kita bisa disalahkan akan hal itu?

s: eh, jangan lah mengatakan salah begitu. Bila Anda memang tergolong orang-orang yang memegang budaya itu secara kaku, bagaimana kita bisa memberikan informasi kepada mereka bahwa; yang betul itu sebenarnya ini lho. Karena yang kita nilai itu kearah begini, … ini terpaksa kearah kehidupan manusia sebentar ya. Ada anak-anak, ada remaja, ada kemudian dewasa, kan begitu? Anda kan pernah mengalami, jaman remaja itu jaman yang sangat labil sekali. Bila dulu Anda bertingkah seperti koboi, belum tentu saat dewasa Anda akan tetap bertingkah seperti koboi. Padahal jaman sekarang, pusat dari informasi ini berada di para ABG ini. Dimana-mana pegang peranan. Nah, dilihat dari ‘potongan’ masa muda itu seakan-akan kita takut. Tapi menurut saya kita tidak usah kuatir, nilai-nilai itu tidak akan pernah hilang. Buktinya juga, kita tidak pernah bisa seperti orang barat itu, menurut saya. Kalau kita bandingkan orang barat, yang hidupnya masa kini.

Jadi kita memiliki suatu bentuk kehidupan sehari-hari yang tipikal sekali, khas sekali. Omongnya Jawa (daerah), adatnya Jawa (daerah), tapi kadang-kadang ya sok barat lah, katakanlah begitu. Nah itu tidak perlu dikuatirkan menurut saya, yang penting Anda Jawa (daerah), dan Anda memiliki nilai-nilai Jawa (daerah), ya udah… ya… namanya juga global ya, kadang-kadang kita juga tidak bisa mengatakan ‘jangan masuk’ pada tamu. Ada adat dimana kita bisa menyikapi ini sehingga tidak kehilangan jati diri. Itu yang… Saya tahu Anda orangnya sangat serius sekali ..


Kompleks makam Bung Karno, fotografer: Yogi ‘Awang’ Diwangkoro

p: Hehe… kemudian begini pak, misalnya kita tahu dari peninggalan masa lampau dari sejarah, misalnya dari candi-candi, dari vernakular, itu masuk ke pikiran kita kemudian suatu saat muncul kedalam konteks bangunan rancangan yang modern, tahu-tahu kemudian muncul, misalnya dinding dari batu andesit, begitu …

s: Mungkin aku bisa memulai dari istilah paling enak aja dulu, dari komunikasi. Dari komunikasi itu ada sensasi, ada persepsi, ada interpretasi dan representasi. Kita gunakan ilmu ini agar lebih gampang. Nah kalau kita menggunakan sensasi, kita akan bisa takut. Apa yang Anda rasakan tadi adalah sensasi. Anda belum mempersepsikan atau menginterpretasikan. Belum. Nah akan takut kita, sepertinya. Tapi cobalah dulu, untuk mempersepsi dan menginterpretasikan apa yang terjadi.


(Taman Krida Budaya Jawa Timur). Fotografer: Probo Hindarto

p: itu yang saya coba selama ini pak


***

catatan Probo Hindarto;

perbicangan ini sebenarnya masih lama rekamannya. Namun saya tidak memiliki waktu untuk menuliskan seluruhnya. Contoh-contoh gambar disini dipakai dari Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kompleks makam Bung Karno dan Candi Penataran, meskipun demikian contoh bisa bangunan lain di seluruh Nusantara.

*

Mungkinkah ini sebuah coincidence? Saya baru saja membandingkan betapa miripnya sebuah bagian bangunan di Taman Krida Budaya Jawa Timur dengan salah satu candi di kompleks candi Penataran.


salah satu candi di kompleks Candi Penataran. Fotografer: Yogi ‘Awang’ Diwangkoro


salah satu bagian bangunan di kompleks Krida Budaya Jawa Timur. Fotografer: Probo Hindarto

Well, membaca pembicaraan tentang pelestarian tadi, saya cukup bisa memahami kesamaan bentuk bangunan ini. Namun ada satu hal yang tidak bisa ‘dipindah’ dari sosok lama ke baru dari kedua bentukan yang nyaris sama ini, yaitu perasaan ‘singub’ atau perasaan sakral, keramat, agung dan transeden menjadi satu. Hal ini saya teringat kembali karena saya telah mengunjungi keduanya.

Saya yakin, yang lebih tua memiliki hubungan dengan dunia ghaib dan mistis yang ‘terasa’ ketika berada di lokasi. Namun yang kedua, yang lebih modern, tidak memiliki rasa itu. Dan hal ini yang tidak bisa ditransfer. Tetapi cukup menarik untuk menghubungkan diri, membentuk ‘link’ dengan arsitektur yang dulu diperjuangkan nenek moyang kita di masa lalu, sebagai bagian dari penerusan tradisi.

Bila saya berada di sebuah candi, ada selalu sensasi bahwa saya merasa tidak nyaman, sungkan, ragu-ragu untuk masuk kedalam ruang dalam sebuah candi. Dari pikiran saya, saya menganggap bahwa disana tentunya banyak mahluk ghaib (well, mungkin ini sebabnya saya adalah seorang ‘Jawa’ yang masih percaya akan hal-hal semacam ini). Bilapun ada sebuah bangunan lain yang mencontoh langsung dari bangunan candi, kemudian dipindahkan entah dimana, dengan bentuk yang sama persis, saya belum yakin bahwa saya akan menemukan sensasi yang sama seperti perasaan tidak nyaman itu.

Memang kemudian cukup absurd bila kita kemudian memanggil paranormal dan meminta mereka memanggil mahluk ghaib untuk masuk kedalam bangunan baru dan menimbulkan sensasi yang sama dalam bangunan baru itu… Tampaknya bagi nenek moyang kita, kemampuan mereka menghitung, memperkirakan arah, letak, dan sebagainya merupakan hal yang sangat spesifik dan tidak bisa tersaingi oleh metode modern (atau mungkin diluar nalar pikiran modern), yang dengan itu menemukan jiwanya, penghubungannya dengan unsur-unsur kosmik alam semesta, yang akhirnya menjadi ‘soul of design’, dalam tataran tertingginya. Bangunan Candi tidak sekedar menjadi obyek, namun ia menjadi subyek yang memberikan pengaruhnya pada kita dan kita dipaksa harus menanggapi pengaruh itu siap ataupun tidak. Ia memiliki peran, tidak sekedar bangunan benda mati, namun ada ‘jiwa’ yang mempengaruhi kita. Inilah perbedaan sangat mendasar yang dapat diambil dari dunia modern dan tradisi Jawa (kelokalan yang kebetulan menjadi milik saya).

Pak San juga menambahkan contoh tentang bangunan-bangunan di Eropa yang lama dan usang, tidak memberikan sensasi ‘singub’ seperti yang diberikan oleh candi-candi Jawa, betapapun dia ingin merasakan itu dalam bangunan-bangunan Eropa.


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s