Artikel ini tentang dasar arsitektur yang terabaikan dan cultural sustainability

Artikel ini tentang dasar arsitektur yang terabaikan dan cultural sustainability. Sebenarnya adalah bagian dari sebuah artikel, tapi saya pisah, karena kedua topik ini tidak ‘nyambung’ dengan artikel sebelumnya. Tapi sayang untuk dibuang😀


name: Frankie Mawikere
komentar: Dasar-dasar Arsitektur yang ter abaikan.

Dalam kurun waktu lebih kurang 6 bulan saya melihat dari dekat bangunan2 gedung di Jakarta khususnya rumah tinggal.Umumnya yang saya kunjungi adalah rumah2 mewah,dalam kapasitas saya memasarkan satu produk bahan lantai dari Jerman.Ini karena pangsa pasar dari produk tersebut adalah rumah2 itu,karena harganya yang mahal.

Sebagai orang yang sudah lama bergelut dalam dunia arsitektur (sejak 1984) saya risau melihat karya2 arsitektur saat ini yang cuma menghasilkan bentuk,sementara nilai2 arsitektur yang lebih pokok diabaikan.Lebih celaka lagi owner/user juga terpesona dengan bentuk2 yang explosif,sehingga cukup tolerir dengan design2 yang menghabiskan banyak dana sementara nantinya membutuhkan pemeliharaan yang mahal.

  • Seharusnya design itu harus ekonomis saat dibuat/dibangun dengan perhitungan sedemikian rupa dan sesudah dihuni(pemeliharaan muarah).
  • Kompatibel dengan penghuni,jadi penghuni nyaman dan betah beraktifitas dirumanya dan sekitarnya.
  • Design dengan pertimbangan ekonomis dibuat sesuai dengan lokasi dan lahan yang tersedia.
  • Saya melihat banya pengolahan2 tanah yang berlebihan di Bintaro maupun Pondok Indah untuk mengexploatasi suatu design.

Saya kebetulan bertemu dengan satu arsitektur dari Bandung(arsitek Bandung laku keras di Jakarta)yang dalam satu pembicaraan dengan saya tidak bisa menjelaskan setelah saya tanya pengolahan tanah luar biasa yang untuk memaksakan designnya.Dan konstruksi yang amat boros(yang tentunya kost jadi tinggi)yang ia pakai untuk mewujudkan designnya itu.

Dengan dasar ini seharusnya arsitek2 muda kembali untuk berpatokan pada dasar2 arsitektur dalam menghasilkan karya2nya,dengan begitu mereka turut mendidik masyarakat pengguna jasanya.

Sebagai arsitek senior saya turut bangga apabila prinsip2 baku penciptaan design tetap dipegang teguh.

.
***
Catatan Probo Hindarto:

Cultural Sustainability
Bangunan dengan nilai tradisi yang masih muncul dalam desainnya memiliki suatu nilai pelestarian, berkaitan dengan penerusan tradisi dan cultural sustainability dalam desain. Sehingga, sebuah desain tidak hadir hanya memenuhi segi fungsional dan estetika semata, namun juga sebuah tanggung jawab terhadap kelangsungan budaya lokal.

Apa yang dimaksud dengan arsitektur tradisional sering belum dipahami dengan jelas, disebabkan minimnya literatur yang ada tentang arsitektur tradisional. Setiap wilayah memiliki sebuah tradisi dalam ber-arsitektur yang tentunya berbeda satu sama lain, sehingga arsitektur tradisional tidak bisa dipandang sebagai sebuah ‘kumpulan’ tradisi yang dapat didefinisikan dengan mudah, selain bahwa tradisi lokal setiap wilayah berbeda. Namun tetap ada sebuah ciri khas dari wilayah Nusantara pada arsitektur lokalnya, yaitu berbasis pada budaya maritim dan agraria, sama seperti wilayah lain dalam lingkup Asia tenggara yang berbentuk pulau-pulau kecil; Jepang, Filipina, Malaysia, Thailand, dan sebagainya. Arsitektur yang muncul cukup unik dan berkarakter khusus.

Karenanya tampaknya untuk membuat Arsitektur tradisional Indonesia menjadi semacam rumpun dengan definisi dan jenis bangunan yang serupa sepertinya tidak memungkinkan, sehingga apa yang bisa dilakukan dengan pelestarian tradisi lokal kedalam bangunan modern bersifat lokal setiap wilayahnya.

Sebagai arsitek yang mengemban sebuah misi budaya dipundaknya, sebaiknya arsitek memiliki suatu pandangan bahwa arsitektur tradisional sebaiknya dipelajari, agar suatu saat dalam konteks yang tepat dapat muncul dalam bangunan yang didesainnya. Hal ini penting karena dengan demikian sebuah pelestarian tradisi dapat dikembangkan lebih lanjut, melalui hybrid arsitektur tradisional dan modern.

Sebuah contoh, bila sebuah bangunan menggunakan sistem struktur konstruksi modern, ia tetap bisa membawa sebuah ‘citra’ dari arsitektur tradisional. Hal ini akan membawa arsitektur tradisional dalam konteks modern yang patut diapresiasi. Namun kemudian, tidaklah cukup adil bahwa citra itu hanya muncul sebagai polesan. Citra itu sebaiknya didasarkan pada hasil suatu proses mempelajari budaya tradisional yang tidak dangkal. Dalam hal ini, pendidikan arsitektur memegang peranan dalam memfasilitasi (bukan membentuk) arsitek-arsitek baru dengan wawasan kebangsaan yang baik (terdengar cukup klise ya).

Apa yang hadir selanjutnya barangkali (semoga) bisa ditebak, karya-karya arsitektur hybrid modern dan tradisional yang memiliki akar budaya yang cukup kuat.

Not being an industrial skeptics
(tidak menjadi seorang yang skeptis terhadap industri)

Menjadi peka terhadap arsitektur tradisional bukan berarti menjadi antipati terhadap perubahan teknologi, dan industri. Selalu terdapat sisi positif dari segala hal dan harapannya, perubahan akibat perkembangan dan globalisasi menjadi sebuah alat untuk maju dengan sebuah jatidiri.

Apa yang melatar-belakangi kepentingan melestarikan budaya arsitektur lokal adalah sebuah kekuatiran bahwa nilai-nilai lokal akan hilang, karena tergantikan oleh modernisme dan globalisasi. Karena bila nilai-nilai lokal telah hilang, yang ada adalah sebuah nilai universal, sebuah hasil dari globalisasi dan efek industri, menghasilkan karya arsitektur yang sama di semua tempat, satu budaya saja.


Tanpa pembedaan berdasarkan lokalitas, Jakarta akan seperti New York dan New York akan seperti Jakarta (mustinya akan sampai pada titik semacam itu) – sumber foto: http://www.panoramio.com/photo/1978049

Barangkali nantinya (bila nilai lokal telah hilang), Jakarta akan menjadi New York, dan New York sama seperti Jakarta. Tidak ada perbedaan budaya. Tidak ada lagi orang Betawi, atau Jawa, karena mereka sudah menjadi seorang warga dunia dengan budaya modern, bukan lagi budaya lokal. Meskipun demikian, hal ini tidaklah mungkin, karena tetap saja, meskipun kita memakai tuxedo, baju kita sebenarnya adalah baju tradisi itu, dan muka kita juga tetap muka orang Indonesia. Namun saat ini, penting untuk mendorong keberlanjutan budaya ini dengan turut mempromosikan arsitektur tradisional lebih banyak kepada masyarakat dan para pelaku dunia konstruksi, khususnya arsitek.

Arsitek banyak mengalami dilema terhadap berbagai perubahan ini, karena idealisme belum cukup diberi tempat oleh pemegang kekuasaan dan kebijakan. Namun dengan sebuah kesadaran, diharapkan nilai-nilai tradisional arsitektur dapat muncul dalam karya, pada tempat, waktu, klien, obyek rancangan yang tepat. Melalui website ini, ingin dihadirkan diskursus se-positif mungkin untuk membawa arsitektur tradisional ke tingkat yang lebih tinggi dalam peta budaya arsitektur kita.

***

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s