Industri Wisata Merambah Budaya Bali Aga: Komersialisasi Natah di Desa Tenganan

arnus 11 Agustus 2007

Catatan Probo Hindarto:

Arsitektur Nusantara, dalam website ini dengan tag ‘arnus’. Sebuah topik yang sangat menarik dari pak Galih Widjil Pangarsa. Dengan content arsitektur Nusantara yang terus diupdate, diharapkan akan artikel bertag ‘arnus’ menjadi kontribusi dari tim Arsitektur Nusantara pimpinan pak Galih untuk Indonesia. Edisi kali ini tentang sebuah desa di Bali, dengan kemajuan industri wisata yang memberikan beberapa perubahan dalam penataan desanya. Artikel ini dan artikel-artikel selanjutnya diharapkan turut menjadi promosi bagi arsitektur Nusantara agar sejalan dengan konteks arsitektur masa kini yang terus berubah.


Desa Adat Tenganan Pegringsingan ―sebuah desa dari masa Bali Kuno atau Bali Aga, yaitu sistem sosial budaya dari masa sebelum masa Majapahit yang dikenal dengan Bali Arya― adalah sebuah desa yang berlokasi di suatu lembah yang memanjang dari Selatan sampai Utara di antara Bukit Kangin dan Bukit Kauh di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karang Asem.


Pola permukiman desa Tenganan Pegeringsingan, Karangsasem. Dengan awangan, rumah tinggal warga desa tersusun linier dari Utara-Selatan dengan pintu pekarangan/jelanan awang menghadap Barat atau Timur (Sumber: Hidratno 1973:Runa, 1993; Sudarma, 2003)

Lingkungan Desa Tenganan Pageringsingan, merupakan lingkungan “tertutup” dengan masing-masing sebuah pintu pada setiap arah mata angin. Untuk memasukinya, mesti melewati awangan yaitu rangkaian halaman depan masing-masing pekarangan rumah tinggal. Ciri kekunoannya, tampak sedang mengalami perubahan sangat mencolok, karena masyarakat tampak makin lama makin bersifat pragmatis. Padahal di masa lalu, kegiatan hampir seluruh wargaTenganan adalah kegiatan peribadatan; tak ada tanah milik pribadi, yang ada adalah tanah desa. Hal itu tampak bekas bekasnya di awangan.


Bangunan baru beorientasi ke luar, bukaan tidak ke jelanan awangan lagi. (Foto: Nyoman Dewi, 2005)

Awangan: ruang bersama tradisi Bali Aga

Awangan ini berundak-undak dengan lapisan batu kali ―ciri kebudayaan megalitik― makin ke Utara makin tinggi. Batas awangan yang satu dengan awangan lainnya yang saling berhadapan adalah sebuah selokan air yang disebut boatan. Sedangkan sebagai batas halaman belakang masing-masing pekarangan rumah tinggal juga berupa selokan air selebar 1 m – 1,5 m yang disebut teba pisan. Jumlah awangan sebagai jalan membujur dari utara ke selatan adalah 3 buah yaitu awangan kauh (Barat) yang paling lebar dan berfungsi sebagai awangan utama didirikan paling banyak fasilitas umum (bangunan adat dan bangunan suci), awangan tengah, dan awangan kangin (Timur) (Hidratno 1973: 2-17, Runa, 1993: 83 dalam Sudarma, 2003:30).


Perubahan: dahulunya digunakan untuk menyimpan alat-alat upacara dan pertanian tapi sekarang digunakan untuk memajang barang dagangan (Foto: Nyoman, 2005)


Dulu padi yang ditanam adalah padi lokal yang tahan lama disimpan, tetapi dengan kebijakan pemerintah di bidang pertanian maka padi yang ditanam tidak tahan lama disimpan sehingga jineng (kumbung) menjadi kosong) dan mungkin lama kelamaan hilang; kalau pun ada, bisa jadi bukan gabah bakal beras yang disimpan, tetapi barang kerajinan bakal dolar industri wisata seperti gambar di atas. (Foto: Nyoman Dewi, 2005)

Dengan demikian maka awangan adalah halaman luar dari rumah tinggal, ruang sosial sekaligus sebagai jalan. Sedangkan teba sebagai halaman belakang letaknya di belakang dapur (paon) sehari﷓harinya merupakan tempat membuang kotoran dan memelihara babi. Kapling bangunan yang dipakai sebagai tempat tinggal disebut pekarangan yang terletak di tengah antara awangan dan teba. Pola semacam awangan ini pun dijumpai di desa-desa Lombok Utara (antara lain Desa Tebango yang penduduknya penganut Budha dan Desa Prawira yang muslim) yang menurut tradisi tutur adalah desa “keturunan prajurit Majapahit” (Pangarsa, 1992). Bisa jadi, tradisi permukiman Bali Aga dan Majapahit, sebetulnya tak berbeda jauh.

Dalam satu pekarangan ada beberapa tipe bangunan (bale-bale). Pintu masuk (jelanan awang atau kori ngeleb), bale buga (tempat upacara dan tempat menyimpan benda keramat milik desa, peralatan upacara/pertanian, serta tempat tidur orang tua), bale tengah (tempat upacara kelahiran /tebenan, upacara kematian/luanan; untuk tempat tidur, menerima tamu, menenun, dan duduk﷓duduk ada “bale tambahan” yang disebut pelipir), paon termasuk pintu belakangnya, serta sangah kelod (tempat sembahyang dan sesajen untuk Brahma/Pertiwi di pojok Barat Laut, Wisnu/Betara Majapahit di Tenggara, dan Siwa/Hyang Guru di atas) merupakan bangunan-bangunan wajib yang harus dimiliki oleh tiap-tiap keluarga dengan berbagai ketentuan desa menyangkut letak, bentuk, serta bahannya, sedangkan bangunan lainnya seperti bale meten, kamar mandi/wc, dan sangah kaja (pesimpangan) merupakan bangunan tidak wajib atau dapat didirikan bangunan-bangunan lain sesuai dengan kehendak masing﷓masing keluarga.
Bale tengah. Bagian depannya untuk menyemayamkan jenasah, bagian belakang untuk melahirkan, bagian atasnya sebagai tempat menaruh padi kering (Modifikasi, Runa, 1993: 115; Sudarma, 2003:43).


Sekarang fungsinya bertambah sebagai tempat memajang barang-barang seni serta bagian belakang sebagai tempat tidur sehari-hari (Foto: Nyoman Dewi, 2005)

Sejalan dengan tata fisik lingkungan desanya, maka tata, fisik masing-masing rumah tinggalnya juga menghasilkan terapan konsep dasar arsitektur tradisional yang sama, misalnya: bangunan-bangunan suci (bale buga, sanggah kelod, dan sanggah pesimpangan) letaknya di depan dekat awangan sebagai Utama Mandala, semakin ke pinggir terletak bangunan tempat tinggal (bale tengah dan bale meten) sebagai Madia Mandala, sedangkan paling di pinggir bangunan servis (paon dan km/wc) sebagai Nista Mandala (Sudarma, 2003:41).

Natah: dari pekarangan semi-privat menjadi show room

Adanya bangunan semi permanen pada sebagian besar natah/ pekarangan mengakibatkan pekarangan yang relatif kecil tersebut terasa semakin sumpek. Secara konsepsual, setelah tahun 1980-an, pola lingkungan Desa Adat Tenganan Pegringsingan belum berubah. Tapi perubahan-perubahan fisik berupa penambahan bangunan pada ruang desa dan pekarangan kini makin terasa. Awangan tetap sebagai daerah bernilai utama tempat sebagian besar bangunan religius. Semakin ke daerah pinggir, terletak pekarangan rumah tinggal daerah bernilai nista. Yang paling pinggir adalah kuburan. Fasilitas umum baru cenderung bertambah sejalan dengan program-program pembangunan pemerintah. Namun ada perubahan mencolok. Salah satu pengaruh adanya fasilitas umum baru adalah berkurangnya pekarangan rumah tinggal desa karena pada pekarangan yang kosong itulah pada umumnya fasilitas itu dibangun. Seperti bangunan rumah tinggal guru di sebelah selatan gedung sekolah dasar, fasilitas tersebut tidak hanya mengurangi pekarangan rumah tinggal milik desa, tapi juga merusak tatanan yang ada karena dibangun tidak sesuai dengan nilai-nilai tradisi setempat. Beberapa fasilitas umum baru lainnya (listrik, telepon, air bersih, parkir) dibangun sesuai dengan pola lingkungan yang sudah ada.


Menjadi pedagang membawa konsekuensi: natah disiasati menjadi ruang multifungsi sehingga menyebabkan di zona bale buga dibangun warung (gambar atas). Bale buga menjadi lebih kecil (Foto: Nyoman Dewi, 2005)

Pada umumnya tata letak bangunan-bangunan (bale-bale) dalam pekarangan masih tetap mengikuti tata nilai Tri Mandala (utama-madia-nista). Bale yang dikategorikan suci seperti buga dan sanggah terletak di depan dekat awangan, bale profan seperti bale tengah dan meten terletak di tengah, sedangkan bangunan pelayanan seperti paon (dapur), kamar mandi/wc, serta ruang cuci terletak di belakang dekat teba. Pada beberapa pekarangan tempat berjualan mendominasi bale﷓bale lainnya.


Perubahan: rumah adat: fungsi rumah sebagai rumah tinggal dan ruko (ruang yang ada dalam rumah lebih banyak dipakai untuk kepentingan perdagangan) dan terjadi pengaburan; zona natah berubah sebagai tempat memajang barang-barang dagangan sehingga semua ruang seolah menempati nilai madya/nista (Modifikasi Runa, 1993: 99 dalam Sudarma, 2003:42).

Unit-unit bangunan baru selain bale-bale dan sanggah seperti ruang tidur, ruang kerja, tower air, dan gudang pada umumnya diletakkan di daerah nista. Kamar mandi/wc yang dulunya terbuka, kini hampir semua berupa kamar mandi/wc tertutup, letaknya di daerah nista sebelah selatan dapur.


Atas: Bale meten dalam fungsi komersial untuk mengantisipasi industri wisata (Foto: Nyoman Dewi, 2005)

Dampak Industri Wisata
Dampak industri wisata di Desa Adat Tenganan Pegringsingan antara lain:

  • Pergeseran itu menyangkut aktivitas mata pencaharian, pergaulan (sosial), sedangkan aktifitas yang menyangkut tuntutan adat masih tetap terjalin.
  • Tenganan Pegringsingan yang di masa lalu mengutamakan kepentingan spiritual dan kebersamaan kini secara nyata mulai bergeser ke arah kepentingan komersial dan pribadi. Hal tersebut juga tercermin dalam rumah tinggal masyarakat, baik halaman dalam (natah) maupun ruang dalamnya. Dalam pekarangan, masih terdiri beberapa tipe (unit) bangunan (bale-bale) dengan tata letak mengikuti tata nilai Tri Mandala, tetapi pada aktifitas sehari-hari maka terlihat adanya pengaburan fungsi bale-bale tersebut. Dalam hal ini unsur kepentingan ekonomi memegang kendali yang cukup besar dalam pemanfaatan ruang.
  • Pada sebagian besar pekarangan terjadi perluasan ke arah belakang (teba) sehingga daerah madia dan natah menjadi lebih luas untuk berfungsi sebagai tempat menjual barang-barang kerajinan. Dimensi bangunan sakral (buga) cenderung mengecil, sedangkan bangunan profan kecuali dapur (paon) cenderung membesar.
  • Organisasi unit﷓unit bangunan/pekarangan tetap, tetapi unit-unit bangunan/pekarangan ada yang berorientasi keluar, tidak lagi ke halaman dalam (natah). Bangunan-bangunan yang tidak diwajibkan (untuk peribadatan) mengalami perubahan lebih besar dibandingkan bangunan-bangunan yang diwajibkan
  • Material bangunan cenderung menggunakan hasil industri (buatan) kecuali penutup atap bale buga.
  • Dalam pembangunan fasilitas-fasilitas baru maupun unit-unit bangunan, cenderung terjadinya modifikasi dari langgam-estetika klasik Desa Adat Tenganan Pegringsingan menuju langgam-estetika “kota besar”.
  • Fasade beberapa bangunan dalam pekarangan khususnya bangunan profan cenderung berpola tertutup, sedangkan dari luar pekarangan tetap berpola tertutup. Ruang-ruangnya cenderung komplek dan makin efisien. Langgam bangunannya cenderung menggunakan langgam tradisional Bali Daratan atau Patra Majapahit.
  • Proses pembangunannya masih tetap memperhatikan hari baik serta urutan pembangunan, namun dengan upacara yang lebih sederhana yaitu hanya upacara peletakan batu pertama dan pada melaspasannya.
  • Variasi perubahan bangunan suci (sakral) lebih sedikit dibandingkan bangunan yang tidak suci (profan); bangunan suci yang terkait dengan ritus desa lebih sulit berubah dibandingkan dengan bangunan suci yang terkait dengan ritus individu keluarga.

Kebebasan wong angendok jenek

Di balik variasi tata fisik tersebut tampaknya tersirat adanya kelompok status sosial: kelompok elit, kelompok terdidik, kelompok kaya serta kelompok hamba desa (wong angendok jenek). Kelompok elit atau bangsawan, statusnya tercermin pada bale buga yang besar (3 sela). Variasi perubahan unit﷓unit bangunan mereka relatif kecil (sedikit).

Kelompok terdidik/berpendidikan lebih tinggi dibanding warga lainnya, statusnya tercermin pada bangunan bale meten. Bale ini banyak berubah menjadi bangunan “modern” seperti di kota. Mereka membangun bangunan yang ruangnya kompleks, efisien, sistem strukturnya menyatu antara struktur utama, dengan struktur sekundernya, berfasade tertutup, serta cenderung menggunakan. material buatan. Pintu masuk pekarangan dilengkapi dengan ramp untuk memperlancar keluar masuknya kendaraan bermotornya.

Kelompok kaya, statusnya tercermin pada langgam bangunan yang digunakan yaitu langgam tradisional Majapahit dengan berbagai ornamen berbentuk pepalihan pepatran dan kekarangan dari material kayu, batu padas, dan batu bata. Pada beberapa rumah keseluruhan ornamen tersebut diukir. Tentu saja langgam tersebut memerlukan biaya cukup besar. Ciri lainnya adalah banyaknya barang dagangan dipajang pada bangunan, termasuk di halaman depan (awangan), natah ditutup, papan nama dan secara keseluruhan variasi perubahan rumah tinggalnya lebih besar dibanding kelompok elit desa.

Kelompok hamba desa (wong angendok jenek), yang ciri-cirinya antara lain pada kualitas unit bangunan umumnya lebih rendah dibanding ketiga kelompok sebelumnya. Tata letak dan dimensi bangunan sakral tidak sepenuhnya mengikuti aturan desa adat setempat; seperti tata letak sanggah kelod, sanggah kaja, bahkan pamerajannya, cenderung menggunakan material buatan yang murah dan praktis. Langgam yang dipakai kebanyakan tanpa ornamen, sistem struktur dan konstruksinya fungsional. Kelompok ini umumnya tinggal di Banjar Pande.

Copyright pada tim Arsitektur Nusantara
· Kontributor: Brigida Rahendaruri, Nyoman Dewi, Westi Angraeni
· Editor: Galih W. Pangarsa
Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang.
kunjungi website arsitektur Nusantara di www.arsitek-nusa.brawijaya.ac.id


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s