Arsitektur dan Alice in Wonderland

https://i2.wp.com/bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English Version


06 July 2008 writing by Probo Hindarto
This article contains experimental way
(surrealistic story) of thinking
in architecture as well as analytic.

Please feel free to comment.


Architecture and Alice in Wonderland

Fajar menyingsing kembali, kala aku melihat sang surya bersemangat memulai harinya. Dikala arsitek-arsitek dan mereka yang kukenal tak akan menyerah dalam apa yang diyakininya… juga dikala arsitek-arsitek lain yang menyerah pada dunia yang meyakininya…


Artwork, pencil and paper + edited with Computer
by Probo Hindarto, June 7th, 2008

Alice menemuiku bersama kelinci naifnya dalam first encounter petualangan, ternyata dialah penghuni dunia yang sebenarnya, yang belum mati seperti saudagar jemblung
Nietzche melompat-lompat kegirangan, ia memang sudah gila dari sononya. Tapi aku senang ia bersedia berjingkrak dalam pikiranku, karena aku juga gila.
Descartes tersenyum nikmat sekali; “Rasakan kau begundal! Dalam sistem yang kami bangun yang tidak pernah kausadari; telah mengikatmu kuat-kuat”
Mangunwijaya ditempatnya bertapa, memandangku dalam-dalam… Flashy…

Pertemuan pertamaku dengan Alice dan tanah impian

Memang menjemukan, bila kau lihat mereka TIDAK dalam keadaan yang ingin kau temukan. Ketika Alice turun kedalam lubang kelinci, aku juga turun sebagai bayangan. Kemudian aku juga menemukan kejatuhan yang hebat dalam lubang kelinci itu, terbang dan berangan apakah ini akan berakhir disuatu tempat, selain jatuh diatas atap rumah.

Jadi aku jatuh dan jatuh, setelah lama terjatuh, menemukan diriku dalam lorong berpintu-pintu, mengharapkan menemukan jalan keluar. Seperti Alice, aku menemukan kunci pintu tikus, yang dengannya aku tertarik oleh taman di tanah impian. Tapi omong kosong untuk memberitahumu, semua hal yang secara alegoris terjadi padaku seperti pada Alice, meskipun semuanya terasa sama.

Kemudian aku mengajak Alice untuk mengikutiku kedalam tanah impianku sendiri, dia tidak begitu takjub, karena seperti kau tahu, INI ADALAH DUNIA NYATA.

Apa yang kumaksud dengan tanah impian adalah sesuatu yang terjadi dalam anganku, berkaitan dengan arsitektur. Aku tentu saja mengambil resiko untuk mengajak siapapun memasuki tanah impian ini.


Picture source: http://robertsabuda.com/images_bk_int_pop/alice/alice_color_me_600px.jpg

Alice tidak memberitahuku bahwa aku harus bertemu dengan berbagai hal yang aku tidak suka dalam perjalananku… Atau dia sudah mengatakannya dan… ya ternyata aku baru sadar, dia sudah. Dia mengatakan padaku bahwa ia menangis, ketika masalah datang dalam perjalanannya. Dan sesuatu yang tidak harus terjadi, terjadi pula dalam sebuah kisah, ketika aku pergi ke kerajaan tua Majapahit, yang akan kuceritakan padamu setelah ini.

Aku bertanya pada Alice; “Mengapa aku tidak mendapatkan kesenangan yang sama denganmu?”

Dia berkata; “Apa yang ingin kau lakukan? Apakah kamu tidak cukup puas dengan literatur biasa, selain membuat literatur fiksi surealis seperti aku untuk mendeskriipsikan pengalamanmu” dan dia bergerak seperti seorang penari balet.

“Tentunya aku ingin melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengatakan cerita biasa agar kesenangannya bertambah”, aku menjawab, namun kemudian, aku merasa kakiku bergerak oleh sebuah energi, aku jatuh dalam dunia lama kerajaan Majapahit.

Dimulai pada sebuah pagi yang cerah di tanah raja-raja masa lalu. Udara masih terasa lembab. Bata-bata masih basah. Well, tentu saja, tidak ada udara jahat, kau tahu. Udara jahat adalah udara perang dan kebencian. Yang ini terasa sangat bersih dan baik. Alice sudah bersama denganku, dan dia sedang mengerjakan sesuatu yang lain, menurutku dia sudah terbiasa dengan hal-hal yang biasa dilakukannya sendirian.

Bangunan itu besar, dinamakan Wringin Lawang, atau nama yang sama untuk ‘Gerbang Beringin’ berbentuk candi berpasangan, yang berfungsi sebagai gerbang untuk kawasan rumah-rumah. Gerbang itu sangat hebat, dan sangat menyenangkan untuk memasuki bagian dalamnya.


The Wringin Lawang, a gate to housing complex in the kingdom of Majapahit.





Tiba-tiba datang pasukan berkuda, sekitar lima pasukan Jawa melewati jalan. Salah satunya melihatku dengan tanda tanya.

“Dari mana kamu berasal?” ia bertanya dengan bahasa Jawa yang sangat kuno. Mungkin ini disebabkan aku memakai kaos warna jingga dimana tidak ada seorangpun waktu itu yang menggunakan warna secerah ini. Aku memakainya karena kupikir ini akan sesuai dengan warna merah bata dari bangunan candi di Majapahit.

“Aku datang dari masa depan, Indonesia”, aku menjawab. Dia turun dari kuda.

“Raja akan menghukum setiap mata-mata” dia berkata dengan lantang. Aku gemetar, aku melihat Alice yang sedang bersama dengan beberapa anak kecil dalam gerbang candi Wringin Lawang.


Picture of me, at the gate of Wringin Lawang

Mereka berkata orang-orang ini masih membunuh orang. Aku tak mampu berbuat apa-apa untuk menghentikan gemetar tanganku. Tapi sesuatu muncul dari pikiranku… sebuah nyanyian yang aku ingat, dan aku mulai bernyanyi. Mungkin untuk menghilangkan gugup.

“Du bi du bi du bi du baeeee….
Du bi du bi du bi du baeeeee…”

terdiam…

“Pelangi-pelangi,
Alangkah indahmu.
Merah kuning hijau,
Dilangit yang biru.

Pelukismu Agung,
Siapa gerangan?
Pelangi-pelangi
Ciptaan Tuhan.”

terdiam…


Statue of Garuda Vishnu of the ancient Majapahit. (This statue is placed in the museum of Majapahit)


Painting of Vishnu when he fight the giant crocodile and elephant in search of Tirta Amerta, the water of immortality, in the ancient Hindu mithology.
Picture source: http://sss.vn.ua/india/murtis/vishnu_garuda_gajendra_makara.jpg

Kami tak tahu dari mana asalnya, ada angin ribut di udara, pohon-pohon bergerak hebat, awan hitam memenuhi angkasa, dan ada seekor burung terbang, seekor burung yang sangat besar yang aku yakin itu adalah GARUDA, karena ada Wisnu diatas punggungnya.

“Lepaskan para petualang itu” Wisnu berkata seperti gema dan dentingan bel. “Karena dia hanya berkunjung. Biarkan ia mendapatkan kesenangan dari masa lalu”

Semua prajurit membungkuk dihadapan figur luar biasa itu, Alice memegang tanganku dan kami tidak membungkuk pada Wisnu, mungkin karena kami orang-orang modern.

Cakar-cakar Garuda sangat besar dan ia mengambil kami dengan cakarnya dan terbang ke angkasa. Wisnu menunjukkan area kuno Majapahit dari angkasa. Ada banyak danau buatan, yaitu berjumlah 32 buah di Majapahit. Bentuk danau itu segi empat, dibuat dari bata merah yang tidak dilem.

Para peneliti berkata danau-danau ini dimaksudkan untuk menetralkan terperatur disekitarnya sekaligus untuk mempertahankan kelembaban, karena udara cukup kering di Majapahit (dulu) atau Mojokerto (sekarang). Ini menunjukkan betapa tingginya teknologi dan pengetahuan Majapahit. Legenda mengatakan bahwa danau ini digunakan untuk membuang piring dan sendok emas setelah perjamuan dengan tamu negara.

– Akhir dari tulisan surealis –

Kesenangan dalam detail

Semua peninggalan Majapahit kuno yang bertahan hingga saat ini memiliki suatu kecenderungan menunjukkan detail, sebagaimana semua bangunan kuno di Jawa dan Nusantara pada umumnya. Tampaknya detail telah menjadi bagian dari cara manusia Jawa berarsitektur dan memasukkan detail sebagai unsur tak terpisahkan dari bangunan.

Contoh nyata, detail dicandi Gapura Bajangratu, dengan berbagai simbol tertera melalui relief. Disamping keberadaan bangunan berbahan bata yang bertahan hingga sekarang dengan beberapa pemugaran, candi ini tidak hanya menarik dari sisi kesan monumentalnya, tapi juga dari detail. Karena itu proporsi bangunan tidak hanya dilihat melalui keseluruhan bangunan, namun secara visual bangunan ini masih menyisakan sudut-sudut menarik dari sudut pandang terdekat sekalipun.

Menarik tidak hanya secara visual mengundang perhatian, namun juga menarik karena pengamat dapat merasa dituntut untuk menghayati berbagai fenomena yang dihadirkan secara visual, melalui bentuk bangunan, simbol, serta detail.

Bangunan-bangunan candi di Majapahit memiliki kesan mistis yang tidak dapat dibandingkan dengan bangunan ‘modern’, bahkan terminologinya tidak begitu dikenal lewat literatur barat. Dan untuk ‘mengalami’ perasaan yang hadir akibat kesan tersebut, tidak ada cara lain kecuali datang sendiri dan merasakan ruang, solid maupun voidnya.

Pelajaran berharga dari mengunjungi situs purbakala adalah melihat dan mengetahui bagaimana masyarakat jaman dahulu membangun. Sekaligus dengan menghayati ruang, mengenal ruang dapat memberikan inspirasi saat mendesain.

Detail yang sebagai bagian dari arsitektur asli Nusantara terasa kurang bergema dalam gempita arsitektur ‘modern’, dimana sebenarnya arsitektur modern sudah dinyatakan ‘mati’ oleh Jencks, dan ‘less is more’ oleh Meis Van der Rohe sudah menjadi ‘less is bore’ oleh Venturi. Kehadiran detail dalam bangunan-bangunan candi menjadi kekuatan utama disamping bentukan keseluruhan bangunan. Hal ini menjadikan detail sebuah kenikmatan visual atraktif selain muatan simbol yang dimilikinya dapat memberi manfaat lebih berupa penerusan sejarah melalui penggambarannya.

Sangat menyenangkan untuk mengetahui bahwa keberadaan detail adalah salah satu jembatan untuk menuju penerusan tradisi dalam konteks modern. Secara sederhana karena detail adalah ‘amanat’ dari arsitektur tradisional. Dan sangat menyenangkan untuk mengeksplorasi arsitektur berteknologi baru dengan memasukkan detail.

Karena itu detail perlu dipikirkan sebagai langkah penerusan tradisi, secara sederhana karena detail sudah menjadi bagian dari arsitektur tradisional. Detail yang dimaksud adalah detail dengan kosakata lokal yang dapat masuk dalam konstruksi modern.

Hal ini dimungkinkan sebagai bagian dari ‘infiltrasi’ arsitektur tradisional dalam arsitektur modern, menjadikan ide-ide yang selama ini teralienasi akibat berkembangnya arsitektur modern dalam taraf baru yang disebut postmodernisme. Citra akibat detail sungguh merupakan nilai tambah dari citra visual bangunan, yang akan memberikan nilai tambah bangunan bagi pengamatnya. Hal ini karena manusia adalah mahluk dengan emosi, perasaan dan memori subyektif serta keinginan untuk menghayati ruang bagi terbentuknya memori masa depan.

Kita tidak bisa menggantikan memori karena berada disuatu tempat, lebih dari sekedar melihat gambar di buku atau majalah. Karena segala sensasi berkaitan dengan ruang akan sempurna bila raga berada ditempat tersebut (seperti dituliskan dalam “Merah Putih Arsitektur Nusantara” oleh Galih Widjil Pangarsa). Meskipun demikian, kebiasaan pengamat akan menentukan interpretasi terhadap obyek arsitektur. Hal ini menentukan apakah seorang pengamat dapat menghargai sebuah obyek arsitektur atau tidak.

Tentu saja melalui persepsi dapat timbul kekaguman pada obyek candi di Majapahit. Dan kenyataan bahwa sebuah obyek yang terlihat ‘lama’ bisa jadi menarik dibandingkan yang ‘baru’ misalnya, dapat pula terjadi. Seperti membandingkan obyek peninggalan masa lalu dengan bangunan baru berupa mall. Didalam mall juga terdapat hal-hal yang dapat menimbulkan decak kagum, terutama karena teknologi telah dapat membuat ‘permen-permen baru’ bagi mata orang modern.

Ternyata dalam pengamatan penulis, arsitektur dan ruang yang ada dapat memberikan pemicu ketertarikan pada jenis arsitektur kuno ini. Bukan seperti segala persepsi yang terjadi saat berada di mall, tetapi persepsi lain akan kehadiran ruang, makna, simbol, detail dan hal-hal lain. Tentu saja sebuah perasaan yang lain sama sekali bersentuhan dengan dinding yang dibuat berabad-abad yang lalu, dibandingkan dengan dinding modern kaca. Disini terdapat perbedaan tolak ukur keindahan, sekaligus disinilah letak perbedaan penghayatan terhadap obyek arsitektural dalam konteks yang berbeda, dengan kata lain; kemampuan untuk tertarik pada sebuah obyek arsitektur.

Berbicara dengan konteks iconography, terdapat banyak sekali kosakata arsitektural yang dapat menjadi benih bagi penerusan tradisi, atau bila tidak ingin terlalu ekstrim, bisa menjadi kosakata arsitektur dengan nilai lokal yang kuat.


Untuk membawa icon dari masa lalu ke masa sekarang bukanlah hal yang mustahil, contohnya seperti yang dilakukan oleh Renzo Piano dengan Tjibau Cultural Centre, di Noumea, Kaledonia Baru. Ikonografi ini membawa konteks baru gubuk-gubuk suku Kanak dalam konteks teknologi modern, menghasilkan arsitektur yang menawan dari estetika dan keanggunannya


Photo by Fanny Schertzer, under GNU lisence


Photo by Fanny Schertzer
Under GNU lisence



________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s