Balebarong Cafe/ Resto Taman Indie, Araya Malang

15 Maret 2008
Catatan Probo Hindarto:

Setiap arsitek memiliki karakter dalam mendesain, yang kadangkala muncul dengan sangat kuat dalam satu desain tertentu dimana ia memiliki kesempatan bereksplorasi desain. Kesempatan seperti ini tidak muncul dalam setiap project desain, karena kadangkala dalam proyek tertentu (terutama yang berskala sangat besar), eksplorasi desain dibatasi oleh berbagai faktor lain. Balebarong cafe termasuk dalam kategori bangunan yang terdesain dengan karakter kuat. Dalam artikel ini pula, dihadirkan sosok cafe resto lain yang mengetengahkan karakter unik dan membumi dari nuansa tradisional di Resto Taman Indie, Araya.

Balebarong Cafe

Balebarong cafe didesain oleh Alesuga Ibi, dengan konsep yang agak berbeda dari cafe-cafe biasanya yang banyak tergabung dengan fasilitas hotel, mall atau bangunan yang lebih besar. Dalam hal ini cafe ini menjadi single building yang harus cukup menarik perhatian pengunjung melalui desain. Saat ditanya tentang konsep desain facade bangunan ini, Suga berpendapat bahwa bangunan ini mencerminkan karakter maskulin yang kuat, ditandai dengan penggunaan warna-warna gelap dari material ekspos, yang ternyata sudah menjadi karakter Suga.


Ranch House, konsep bangunan berkarakter kuat.

Karakter yang sama muncul pula dalam desain Ranch House yang terasa maskulinitasnya, dengan garis-garis tegas dan material lugas. Rupanya desain ini tidak hanya berkarakter, namun juga unik dalam pengolahan ruang dan struktur bangunannya. Kembali ke Balebarong, kekuatan desain bangunan ini terletak pada penggunaan besi-baja dan detail bangunan maupun interiornya. Besi-baja memang dipakai dalam banyak bagian, selain untuk fungsi struktural juga untuk fungsi dekorasi.



Bagian depan bangunan merupakan penarik perhatian pengunjung karenanya dibuat atraktif dengan memamerkan konstruksi atap baja, kayu, serta ramp. Unsur lubang bundar menjadi aksen menarik untuk elemen bangunan lain yang cenderung kotak dan lurus. Meskipun dengan perancangan modern, tampilan facade cukup ‘membumi’ dengan penggunaan material ekspos. Tidak hanya menjadi hiasan semata, karakter alami bahan menunjukkan perhatian arsitek pada karakter bahan dan bukan sekedar kemiripan visual namun bukan bahan yang sebenarnya. Suga Ibi menyebutkan, karakter kuat yang ingin ditunjukkannya adalah karakter bahan yang asli dan bukan buatan atau imitasi. ‘Sebuah bahan, misalnya kayu buatan, tidak sama dengan kayu aslinya, yang memiliki karakter khusus setelah beberapa waktu berlalu. Demikian pula dengan bahan. Karakter kayu tidak bisa digantikan dengan keramik, beton atau lainnya, karena bila disentuh atau diraba akan terasa lain’.


Dalam kafe ini, kekuatan utama desain terletak pada penggunaan material besi baja dan inovasi penggunaannya. Terdapat pipa besi bundar yang dipotong-potong dan menjadi elemen struktural sekaligus ornamental, sebagai contoh. disamping itu digunakan juga balok-balok baja untuk menunjang area mezzanin. Elemen lain yang cukup menonjol adalah penggunaan material kayu bekas, seperti kayu bantalan rel dan kayu bekas bekisting. Daya tarik yang terpancar dari karakter kuat kayu ini senada dengan karakter material lain yang muncul kuat dalam desain ini.

___________________________________________

Resto Taman Indie, Araya Malang

Menginjak area berhamparan hijau di kota sejuk Malang ini, serasa kembali ke alam. Penataan landscape yang ‘ndeso’ tapi dalam balutan suasana modern mengantarkan pengunjung pada relaksasi maksimum dari sebuah kawasan wisata. Terletak di pinggiran sungai, dalam review majalah Indonesia Design oleh Muhammad Chottob disebut sebagai ‘mencuri sensasi lewat sungai’. Rupanya, view sungai yang biasanya terkesan kumuh, penuh dengan sampah dan air yang menghitam tidak ada sama sekali disini. Yang ada adalah hamparan sawah menghijau dengan latar belakang sungai, jembatan dan suasana pedesaan alami.

Tak heran bila resto ini mengusung pemandangan alam, karena area sungai ini menawarkan pemandangan yang cukup spektakuler. Sebenarnya, potensi demikian ada di banyak sekali tempat di Indonesia, yang belum tertata dan terdesain dengan baik. Tidak hanya mengusung suasana alami dari arsitektur vernakular dan pemandangan alam, di kawasan ini juga terdapat beberapa bangunan penjunang seperti restoran, kafe dan bangunan auditorium yang dibuat dari konstruksi konvensional, bata dan beton, yang membawa kembali suasana arsitektur kolonial, meskipun dalam hal ini cukup banyak masuk gaya arsitektur ‘Mediterania’ dan bukan tipikal kolonial.


Hubungan dengan alam yang terasa sangat kuat dihadirkan dalam ruang dalam yang dibawa keluar, dan ruang luar yang dibawa kedalam. Dalam hal ini, sembari menikmati kenyamanan ruang dalam, terasa pula kemegahan dan keindahan ruang luar. Citra bangunan vernakular yang dihadirkan ternyata menjadi sesuai dengan alam justru dengan kesederhanaan dan penghargaannya pada karakter alami bahan. Karena itu mengunjungi Resto Taman Indie atau kawasan lain yang sejenis dapat membawa kita pada penghargaan terhadap alam yang makin menghilang oleh gerusan budaya modern yang materialistik.

Dalam hal ini, Resto Taman Indie mengusahakan menghadirkan kembali wajah lama kota Malang tanpa hiruk-pikuk kota, dan dengan berusaha ingin menghadirkan sensasi budaya berkumpul di luar ruangan seperti kebiasaan orang-orang Belanda.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s