Gaya Kolonial di Kebon Agung, Malang. ”Kolonisasi Arsitektur” Rumah Rakyat

arnus

Pada awal abad XX, perkebunan tebu pernah menempatkan Indonesia (Hindia Belanda) sebagai produsen gula nomor dua dunia setelah Brazil. Terletak 9 km di Selatan Kota Malang, Kebon Agung ─harafiahnya “kebun mulia”─ seperti mengingatkan sebuah potret “kemuliaan” politik kultuur stelsel bagi investor kolonial. Politik Tanam Paksa itu bukan hanya mengubah bulir-bulir padi persawahan khususnya di Jawa menjadi keping-keping gulden yang diperas dari batang-batang tebu perkebunan kolonial. Tapi ternyata juga mengguratkan kolonisasi pada nadi budaya (arsitektur) rumah rakyat.


Pabrik Gula Kebon Agung, 1917, industri gula kolonial memberikan keuntungan luar biasa manis bagi lapisan elit masyarakat, tetapi menjadi lembaran gelap bagi sebagian besar petani di Indonesia (Dokumen PG Kebon Agung)


Kurang dari 50 tahun setelah kultuur stelsel diterapkan pada tahun 1830, terutama dari sektor perkebunan, pemerintah Belanda berhasil mengeruk 850 juta gulden (setara 15,4 milyar gulden dihitung dengan indeks 1992 atau sekitar 5 milyar dolar pada hari ini…). Tragisnya, seiring dengan dipanennya aneka ragam tanaman industri perkebunan kolonial pada tahun 1830-1877, 140 ribu orang pribumi wafat karena berbagai macam kekejaman (lihat tulisan Endang Suryadinata, Jawa Pos 10 September 2005, mengutip hasil studi Annemarie van Bodegom dan menyinggung De Excessennota, 1995, studi tentang kejahatan perang tentara penjajah Belanda ─yang sampai kini belum pernah dikompensasikan).


Rumah buruh migran dari Pasuruan di awal abad XX (Dokumen PG Kebon Agung)


Perubahan status Malang menjadi Gemeente (kotamadya) pada 1 April 1914 karena fungsi strategisnya sebagai daerah pengumpulan produksi perkebunan di sekitarnya memberi peluang bagi masuknya kelompok industrialis dan kelompok teknisi. Kelompok industrialis merupakan golongan pemegang modal sedangkan kelompok teknisi mendukung upaya penumpukan modal mereka melalui pembangunan infrastruktur.

Juragan rosan: agen pembaharuan

Apakah rosan ─dialek lokal untuk menyebut tebu─ Kebon Agung menjadi termasuk menjadi alat penghisapan kekayaan rakyat seperti terpapar di atas, tak begitu jelas. Yang jelas Kebon Agung menjadi daerah perkebunan tebu sebelum tahun 1900. Sebelumnya masyarakat Kebon Agung adalah petani padi. Instalasi industri perkebunan oleh Belanda pada era 1870-an menjadikan Kebon Agung sebagai salah satu daerah pemasok tebu, selain daerah-daerah lain di Malang dan sekitarnya seperti Dinoyo, Blimbing, Singosari, Tumpang, lereng Gunung Ronggo, dan sebagainya. Pada saat itu, perkebunan tebu di Malang dan sekitarnya melayani pabrik-pabrik gula yang berada dalam afdeling Malang seperti PG Krebet, PG Sempalwadak (Sengguruh) dan PG Panggungrejo (PG Kebon Agung, 2005). Selain tebu, beberapa tanaman perkebunan lain seperti teh dan kopi juga ditanam di beberapa tempat di sekitar Malang, seperti Batu, Lawang, Tumpang, dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan pemerintah kolonial Belanda pada saat itu untuk mengubah status Malang, dari wilayah yang berada di bawah Karesidenan Pasuruan menjadi Gemeente (1914).


Rumah administratur pabrik (atas) dan salah satu bagian rumah (bawah). Perhatikan gaya “indisch” khas tahun1920-1940-an perhatikan pula individualitasnya (Foto: Febi, dkk, , 2005).


Infrastruktur berupa rel kereta api Surabaya-Malang dibangun tahun 1878-1879 (Handinoto, 1996) untuk memperlancar arus komoditas perkebunan dari daerah produksi ke pelabuhan Tanjung Perak. Berikutnya dibangun jalur kereta api Malang-Blitar-Tulungagung, jalan raya Malang-Blitar dan jalur trem listrik. Pembangunan infrastruktur yang menghubungkan Kebon Agung dan jantung kota Malang dilakukan dalam rangka mempermudah arus modal dan lalu lintas manusia, mengingat pada saat itu fasilitas umum seperti sekolah, gereja, bank, pasar, pertokoan dan kantor pemerintahan berpusat di Kota Malang. Awalnya, Kebon Agung adalah persawahan dan barongan (hutan). Pembangunan Pabrik Gula Kebon Agung pada tahun 1905 memperkuat dan mempercepat perubahan lansekap perdesaan (ruralscape). Ibarat semut tertarik gula, migran dari daerah sekitar seperti Blitar, Kediri datang menetap di sekitar pabrik gula Kebon Agung, menyatu dengan kalangan buruh yang tadinya adalah petani sawah. Penetapan Malang Selatan sebagai daerah industri yang diperluas pada tahun 1935, menjadikan barongan Kebon Agung makin cepat beralih menjadi perkebunan tebu dan permukiman buruh. Lansekap perdesaan Malang Selatan berubah mencolok sejak awal abad XX.


Pintu geser dengan stained glass di rumah administratur pabrik.Tak mungkin terjangkau oleh kemampuan rakyat yang akan menirunya (Foto: Ema Yunita T, , 2005).

Bukan hanya hutan dan sawah yang beralih menjadi kebun tebu. Arsitektur rumah rakyat pun turut ”dikoloni”. Pelopor perubahan umumnya adalah para juragan pemilik lahan tebu yang dulu, diberi posisi penting di pabrik. Lewat posisi itu ide pembaharuan gaya rumah rakyat menyebar. Sebut saja Bapak Nurhasim, 64 ―putera pemilik omah gedhong (rumah bata bergaya kolonial) yang pertama di Kebon Agung― menyatakan bahwa gaya “kolonial Belanda” rumahnya dikerjakan atas petunjuk orang-orang Belanda dari pabrik. Penentuan dimensi, gaya, ornamen, teknologi bahan, dan teknik konstruksi diawasi langsung oleh mereka. Tukang bangunan didatangkan dari Pasuruan karena saat itu belum ada tukang lokal yang dapat membangun omah gedhong ―meski mereka adalah pembangun rumah gedheg (berdinding anyaman bambu) yang cermat. Bahan bangunan omah gedhong didatangkan dari Pasuruan dan Malang, sedangkan batu bata dibuat sendiri di bawah petunjuk orang-orang Belanda.

Perubahan rumah local leader seperti pada kasus di atas, diikuti oleh rumah rakyat kecil. Dengan kemampuan ekonomi berbeda, mereka membuat rumah tembok serupa yang lebih sederhana, kecil dan kualitas bahan lebih rendah. Pembangunan rumah dinas karyawan pabrik gula warga Belanda di Kebon Agung antara tahun 1920-1940-an, memenuhi panorama desa ini dengan omah gedhong yang cukup cepat merambah ke pelosok perdesaan. Kecenderungan itu seiring dengan yang terjadi di daerah sekitar Malang yang menjadi kiblat perubahan; agen pengubahnya adalah buruh pelaju dari sekitar Kota Malang.

Hilangnya cultural capital: perubahan mentalitas

Selain omah gedhong bergaya kolonial, di Kebon Agung masih dapat dijumpai rumah-rumah seperiode, yang bercorak lokal. Ciri-cirinya antara lain beratap limasan pacul gowang, dengan susunan pintu-jendela dua daun simetris. Bambu bahan asli dindingnya (gedheg), kini sudah banyak yang direnovasi. Susunan ruangnya terdiri dari tiga lapis: pertama, adalah ruang tamu atau ruang keluarga; kedua, kamar-kamar yang berhadap-hadapan sehingga membentuk ruang yang berfungsi untuk ruang keluarga cadangan; ketiga adalah dapur. Biasanya di bagian depan terdapat teras sempit (kira-kira selebar 1-2 meter) yang memanjang sejajar dinding depan. Gaya inilah yang populer sebelum masuknya gaya kolonial Belanda periode 1920-1940-an.

Adaptasi gaya kolonial pada arsitektur rakyat yang menonjol adalah atapnya yang berbentuk perisai. Beberapa rumah memiliki teras dengan atap datar, sedangkan yang lain tidak memiliki teras. Dinding depannya rata tanpa adanya penonjolan pada ruang tamu seperti halnya pada rumah dinas atau rumah kolonial lainnya. Kemungkinan bentuk ini merupakan adaptasi dari rumah tradisional yang dinding depannya rata dan terasnya sempit. Satu hal penting: meski wajahnya berubah, susunan ruang dari rumah yang mengadaptasi gaya kolonial ini masih sama dengan rumah rakyat gaya lama. Kamar mandi berada di daerah paling belakang, bahkan dahulu letaknya terpisah dengan rumah induk.


Mushola, tempat masyarakat memelihara jalinan keakraban, biasanya terletak di penghujung Barat jajaran rumah pekerja pabrik: wadah aktifitas sosial yang jarang dilihat sebgai cultural capital. Di belakang mushola adalah kebun tebu Foto: Pangarsa, 2005)

Di kalangan rakyat, masih ditemukan rumah-rumah yang mengelompok. Beberapa kelompok terdiri dari rumah-rumah bergaya kolonial yang berorientasi pada halaman bersama di tengah. Di ujung sebelah Barat terdapat langgar (mushola). Umumnya, yang tinggal dalam permukiman tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan. Pola lama itu sangat berbeda dengan pola baru yang jauh lebih individualistik: deretan rumah yang masing-masing berorientasi ke jalan. Tak ada lagi ruang bersama, tak ada lagi keakraban. Hilang sebuah eleman “cultural capital” (keterjalinan unsur-unsur budaya dalam masyarakat sebagai modal pembangunan) yang dalam folosofi planning posmodernis, merupakan salah satu indikator keberhasilan. Sayangnya, cultural planning belum dikenal dalam perencanaan pembangunan kita yang sarat bermuatan ekomomi.


Ragam hias vemtilasi pintu di rumah rakyat yang sangat populer dikalangan rakyat pada abad yang lalu (Foto: Ema Yunita T, 2005).

Arsitektur adalah bahasa. Dari fenomenanya dapat terbaca pemikiran, cita-cita dan idealisme manusia-masyarakatnya. Perubahan-perubahan atasnya menunjukkan perubahan-perubahan di tingkat ide. Trend arsitektur kolonial di era 1920-1940an yang menyebar luas di berbagai pelosok desa Kebon Agung menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya terjadi di daerah sekitar PG Kebon Agung yang menjadi pusat komunitas kaum kolonial Belanda tetapi mampu merambah hingga wilayah pelosok pedesaan.
Dominasi kekuasaan politik dan ekonomi pemerintah kolonial Belanda menempatkan kelompok minoritas ini pada lapisan elit masyarakat. Dalam hal status sosial dan ekonomi, kelompok ini berada di lapisan atas. Pembangunan kota Malang menjadi kota berkarakter kolonial Belanda dilakukan untuk memperkuat dominasi mereka secara politik, sosial, dan ekonomi atas rakyat negara jajahan. Hal ini terlebih dilakukan oleh orang-orang Belanda yang datang setelah dibuka kesempatan usaha dan investasi bagi perusahaan partikelir. Kelompok ini lebih ketat menjaga tradisi dan status elit Belandanya.

Akhirnya tampak bahwa instalasi “arsitektur kolonial” pada rumah rakyat terjadi dengan terlebih dahulu “meng-kolonial-kan” rumah pemimpin pribumi. Pilihan bentuk, langgam dan tipe adalah keputusan pribadi. Jika itu terjadi dengan sangat mudah di tingkat rakyat, bisa dipastikan ada yang memikat untuk diraih: prestise. Dan bisa dipastikan ada yang ditanggalkan dengan mudah pula: makna dan ide-ide. Misalnya, makna kerukunan dan ide pemakaian halaman bersama. Hal itu tanggal dengan mudah karena ide-ide kebijakan lokal (local wisdom) makin asing, apalagi makna di baliknya. Artinya mentalitas masyarakat telah berubah. Jarang disadari bahwa tugas budaya tokoh masyarakat atau pemimpin politik adalah mengarahkan pola pandang masyarakatnya.

Copyright, teks dan gambar dari/pada:
· Kontributor: Ema Yunita T
· Editor: Galih W. Pangarsa
Tim Arsitektur Nusantara

Buka situs Arsitektur Nusantara www.arsitek-nusa.brawijaya.ac.id


________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

One response to “Gaya Kolonial di Kebon Agung, Malang. ”Kolonisasi Arsitektur” Rumah Rakyat

  1. Komentar sebelumnya dari http://www.astudio.id.or.id:

    nama: saiful anwar
    email: kucing_keren@*****.com
    comments: comments on article: “Gaya kolonial di Kebon Agung, Malang”: bagai mana keadan kota malang saat ini memang masih membudayakan bangsa kolonial.

    website ini: bagus

    nama: nuki
    email: hardiyati2000@*****.com
    comments: comments on article: “Gaya kolonial di Kebon Agung, Malang”:
    website ini: sangat bermanfaat untuk melihat keragaman karya arsitektur di nusantra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s