Individualitas dan Kebersamaan dalam Konsep Hunian Mentawai Rumah Rusuk, Lelep dan Uma

arnus

Mentawai, kepulauan yang terletak di Barat Sumatra, terdiri atas pulau-pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Pulau Siberut merupakan yang terbesar tapi berpenduduk paling sedikit dibandingkan dengan ketiga pulau yang lainnya. Sulitnya komunikasi dan transportasi menyebabkan Pulau Siberut agak terbelakang perkembangannya. Kepulauan Mentawai diperkirakan terpisah dari daratan Sumatra sejak 500.000 tahun lalu pada zaman Pleistocene, oleh naiknya permukaan air laut. Sejak itu pula pulau ini terisolasi.

Gambar kiri: Kepulauan Metawai yang terletak di sebelah Selatan Pulau Nias (Sumber: http://www.quicksil-vertravel.com)


Migran dari Nias?

Bila sejarah alam Mentawai masih kabur, demikian pula tentang asal-usul orang Mentawai, ada beberapa pandangan. Sebagian ahli berpandangan mereka termasuk suku bangsa Melayu tua atau Proto Melayu, sebagian yang lain menduga bangsa Mentawai masih masuk dalam lingkungan bangsa Polinesia. Ada pula yang berpendapat bahwa orang Mentawai adalah Proto-Malayan yang bermigrasi dari lokalitas yang dekat, mengingat beberapa kemiripan antropologi ragawi dan kosmologinya dengan Nias. Yang menjadi pertanyaan, mengapa pada hunian mereka tak dijumpai peradaban batu besar seperti menhir, dolmen maupun batu kubur? Bisa jadi karena lokasi baru huniannya, atau karena kecilnya unit populasi migrannya sehingga kurang tenaga untuk membangun artefak-artefak batu? Beberapa peralatan berburu dan rumah tangga dari batu, sudah lama digantikan logam yang didatangkan dari Sumatera. Sementara itu, orang Mentawai sendiri mempercayai tradisi tutur, bahwa mereka berasal dari Pulau Nias (Selatan?) yang turun ke daerah Simatalu di Pantai Barat Siberut.

Gambar kiri: Kepala suku, Kerei, yang dipercaya berkemampuan magis, pemimpin pula dalam kepercayaan Sabu-lungan, merangkap ahli pengobatan (Sumber: Lantang, http://www.indo-media. com/intisari/ 2001/)

Dusun-dusun di Siberut didirikan di tepian sungai yang berfungsi sebagai sarana lalu lintas, membelah hutan lebat yang sebagian tergenag rawa. Sebuah dusun biasanya berpenduduk puluhan sampai ratusan jiwa. Dusun biasanya terdiri dari beberapa uma (rumah komunal untuk beberapa keluarga) sebagai pusat, sedangkan rumah lalep (rumah individual untuk satu keluarga) dan rumah rusuk (rumah sementara untuk pasangan suami istri muda) yang sederhana mengelilinginya (Alif, 1984:61).

Mata pencaharian orang Mentawai, khususnya di Pulau Siberut adalah berkebun dan berladang di pinggir hutan yang berawa-rawa. Meski demikian, hutan di masa lalu pasti menjadi sumber penghidupan dengan berburu. Pada dinding uma dan para-para, digantungkan puluhan tengkorak babi hutan, monyet dan kulit ibat laut (kura-kura) yang menandakan berapa kali pesta diadakan di uma itu. Ikatan sosial sangat nyata ketika mereka mendapat hasil buruan, betitu pula pola konsumsi mereka yang secara tidak langsung tetap menjaga keseimbangan alam. Begitu hasil buruan tiba di uma, obbuk dan bolobok ―sejenis alat musik dari kayu― dibunyikan untuk mengumpulkan saudara sesuku. Daging hasil buruan pun harus dibagi sesuai aturan; pelanggaran dianggap bisa mendatangkan petaka: akan terkutuk menjadi buaya, lambang ketamakan. Maka, jumlah buruan pun menjadi terbatas sesuai kebutuhan. Secara etis mereka harus membagi daging hasil buruan kepada suku tetangganya, jika pembagian daging buruan di lingkungan suatu suku, diketahui suku tetangganya.

Demikian pula, pengaturan sosial antara penghuni asli dan pendatang, dijaga tradisi. Di Siberut ada pelapisan antara penduduk asli (sibakkat laggai) dan pendatang (si toi). Pemilikan tanah secara adat di sekitar kampung adalah milik sibakkat laggai. Pendatang diijinkan mengusahakan hutan yang belum dibuka di selitar kampung, asalkan dia mau membayar beberapa upeti kepada penduduk asli.

Kesetimbangan: individualitas lalep & kebersamaan uma

Di Siberut, pernikahan resmi memerlukan kesiapan pihak lelaki. Lelaki dimintai pertanggung-jawaban yang cukup berat untuk kelangsungan hidup calon istrinya. Pihak lelaki mesti membayar mahar yang bernilai tinggi. Hubungan muda-mudi sebagai pasangan rumah tangga dapat diterima secara sosial dalam “hubungan rusuk”, yaitu suatu perkawinan yang belum diresmikan adat. Kedua muda-mudi pasangan rumah tangga harus mendirikan rumah secara sederhana, sementara si suami berusaha mencari nafkah yang lebih baik dan kesiapan materi yang lebih memadai.


Gambar-gambar atas: Uma Mentawai yang makin jarang dijumpai. Di dalamnya dapat berhuni empat sampai lusinan keluarga (Sumber: Asri 12/1984; foto: Lantang, http://www.indomedia. com/intisari/ 2001/)

Jika pihak laki-laki dipandang telah cukup mampu bertanggung-jawab secara materi dengan kepemilikan atas ladang, peralatan rumah tangga, pohon sagu dan babi, maka perkawinan bisa langsung diresmikan secara adat. Sejak itu mereka diakui sebagai pasangan yang “dewasa” secara sosial. Ini adalah tanda bahwa pasangan muda tersebut masuk dalam sistem sosial, masuk ke dalam kebersamaan adat. Hubungan ini disebut hubungan lalep. Mereka bisa tinggal di uma ayah si suami atau bila dia cukup mampu mendirikan rumah sendiri yang disebut rumah lalep. Seseorang akan menjadi terhormat kedudukannya jika dia telah tinggal di rumah lalep, yang berarti pernikahannya telah diresmikan adat.

Dengan demikian di Siberut dikenal tiga jenis rumah. Rusuk: rumah tinggal sementara dari pasangan muda. Uma, didiami oleh beberapa keluarga dalam satu suku; pasangan yang pernikahannya telah diresmikan bisa bergabung dan tinggal di uma ayah dari sang suami. Lalep: rumah individual yang didirikan oleh lelaki kepala rumah tangga bila uma orang tuanya penuh. Sebuah uma bisa didirikan bersama-sama oleh beberapa keluarga. Jika rumah rusuk merupakan rumah sementara dari satu pasangan muda yang dibanguna secara sederhana, maka lalep dibangun lebih baik dan bersifat permanen. Di masa lalu keluarga dari beberapa lalep masih berusaha untuk mendirikan sebuah uma baru. Hal itu tampaknya sudah jarang dilakukan saat ini.

Agama asli orang Mentawai adalah Sabulungan yang percaya bahwa segala sesuatu mempunyai roh masing-masing yang sama sekali terpisah dari raganya dan bebas berkeliaran di alam luas. Kepercayaan asli ini mulai berangsur-angsur digantikan oleh agama Islam dan Kristen. Walau demikian masih ada juga yang tetap menganut agama asli atau setidak-tidaknya masih mempercayai tentang adanya roh-roh gaib. Hal ini tercermin dalam pola kegiatan mereka sehari-hari yang erat berhubungan dengan punen (pesta-pesta suci) maupun syarat-syarat persembahan yang harus dilakukan sebelum mendirikan rumah, berburu, membuka lading dan sebagainya (Alif, 1984:60).
Resettlement: melestarikan konsep lalep & uma?

Pola budaya mereka mulai berubah, apalagi dengan masuknya intervensi budaya dari luar yang membuat pola hidup komunal mereka mulai goyah. Adanya program “resettlement” yang dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 1980-an, dengan rumah standar beratap seng untuk dihuni satu keluarga batih, ikut memudarkan pola hidup bersama di dalam uma. Itulah salah satu sebab kenapa uma semakin sulit ditemukan di Siberut Utara (Alif, 1984:62). Lalep yang individualistik kini mulai menggantikan uma.. Inilah yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh. Jika tidak, maka ukuran-ukuran kehidupan kota ―yang diatasnamakan dengan kebaikan atau perbaikan― dapat saja menjadi penggusur ampuh sesuatu yang di dalam kehidupan masyarakat kota justru diperlukan: nilai-nilai kebersamaan. Nilai-nilai kebersamaan itu sudah lama tertanam di bumi Siberut dan bahkan sudah berbuah suatu budaya berhuni: uma.

Usaha pemerintah daerah untuk menarik pemukiman yang tersebar di Pulau Siberut ke pinggir pantai, untuk memudahkan membinanya juga ikut menggoyahkan mereka. Dalam suasana semacam itu, jelaslah bahwa lalep mendapat persemaian yang tepat. Rumah yang dihuni oleh keluarga batih semacam ini nampaknya memang dikehendaki oleh pemerintah, mungkin karena dianggap lebih baik pengudaraannya disbanding uma yang memiliki jurai atap yang menahan sinar masuk (Alif, 1984:62).

Bentuk lalep sendiri adalah persegi empat, hampir bujur sangkar dengan ukuran sekitar panjang 6 m dan lebar 5 m. pembagian ruangannya cukup sederhana, di bagian depan adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk menerima tamu. Sedang pada bagian dalam digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak suatu keadaan yang wajar mengingat kegiatan siang hari bagi laki-laki dihabiskan di lading atau di hutan, sementara istrinya bertugas di kebun halaman dan memasak.


Gambar atas: Tato berfungsi sebagaisemacam kartu pengenal (Sumber: Lantang, http://www.indo-media. com/intisari/ 2001/)

Perkembangan kemudian membuat masyarakat Siberut mulai mengenal dapur individual untuk kegiatan memasak. Lalep muali dipasangi jendela sehingga venilasi menjadi lebih baik. Dibalik kenyataan ini, terjadilah hal-hal yang cukup menyedihkan yaitu keinginan untuk mendirikan uma semakin pupus. Mungkin karena untuk mendirikan uma dibutuhkan biaya yang tidak sedikit dan waktu yang cukup lama, sementara ikatan kekeluargaan berangsur-angsur longgar akibat pengaruh ekonomi uang yang diperkenalkan oleh pedagang dari ‘tanah tepi’ (Sumatera). Kenyataan semacam ini dapat membuat Siberut tak lagi mempunyai uma di awal abad ini (Alif, 1984:63). Hilangnya uma bukanlah hilangnya satu artefak fisik saja. Tetapi dapat menjadi lebih fatal: hilangnya suatu pandangan hidup yang mewujudkannya, yaitu kebersamaan.

Perubahan yang mencolok di Mentawai terjadi pada aspek kehidupan sosial budayanya, sedangkan aspek perekonomian, pendidikan, kesehatan serta jumlah penduduk relatif stabil, tidak jauh beda dengan kondisi 10 atau 15 tahun silam. Tato yang dahulu berfungsi sebagai semacam kartu pengenal, kini mulai ditinggalkan. Saat ini tato hanya dapat dijumpai pada penduduk asli yang berusia di atas 40 tahun (hanya berjumlah sekitar 5 %) (Lantang, 1997). Kebiasaan yang masih melekat adalah kebiasaan kawin muda, dikarenakan agama mayoritas penduduk Mentawai saat ini adalah Katolik dan Kristen, maka nama baptis hampir merata di kalangan muda. Penggunaan pakaian tradisional Mentawai juga sudah mulai punah. Seiring dengan perkembangan jaman, masyarakat Mentawai berubah menjadi masyarakat yang konsumtif, hal ini berkaitan dengan pengembangan Mentawai sebagai daerah wisata. Setiap turis yang ingin mengabadikan mereka dalam bentuk foto, penyelenggaraan ritual, mesti membayar.

Copyright, teks dan gambar dari/pada:
·
Kompilator: Rina Shofiyah; Esti Suprapti
· Editor: Galih W. Pangarsa
Tim Arsitektur Nusantara

Buka situs Arsitektur Nusantara www.arsitek-nusa.brawijaya.ac.id

***

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

One response to “Individualitas dan Kebersamaan dalam Konsep Hunian Mentawai Rumah Rusuk, Lelep dan Uma

  1. Komentar sebelumnya dari http://www.astudio.id.or.id:

    nama: Nurhayati. Samaloisa
    email: nur.www.sam.com
    comments: kenapa sih asal usul kita,tidak jelas dan kabur?sebenarnya suku ini dari keturunan siapa, kalau boleh ini kita bisa cari sumber tentang asaol usulkita.saya sebagai mahasiswa theologia disolo punya tugas u/ membuat paper asal asul suku dan kebetula saya ambil suku sendiri tapi ternyata sangat sulit.sdan saya tidak bisa mengupas secara baik tentang suku kita tersebut karena asal usulnya sangat kabu.trus ini ngimana apakah kita tidak dapat manemukan asal usul kita sendir.kadang saya sedih kalau orang-orang menayakan asal usul kita, dan saya tidak bisa menjawabnya karena ya benar2 gak tahu.ini ngimana? dari putri mentawai
    website ini: menurut saya asal usul suku mentawai kita tahu dan orangpun tidak ragu keberadan suku kita tersebut.saya secara pribadi harus kita ketahui dengan jelasa agar kita t sangat cinta kepada suku ini karena saya adalah putri mentawa, mari maju wahai suku2ku tercinta god bless you mentawai.

    nama: nurhayati samaloysa
    email: nur.www.sam.com
    comments: comments on article: “Individualitas dan Kebersamaan dalam Konsep Hunian Mentawai
    Rumah Rusuk, Lelep dan Uma”:
    website ini: sudah bagus dan kalau boleh sal usul mentawai dan asli keturunan mentawai digarap

    nama: nurhayati samaloysa
    email: nur.www.sam.com
    comments: comments on article: “Individualitas dan Kebersamaan dalam Konsep Hunian Mentawai
    Rumah Rusuk, Lelep dan Uma”:
    website ini: sdm dan pendidikan suku mentawai harus ditingkatkan, spy orang mentawai sukses u/ mengelolah sdm yang ada di mentawai jgn biarkan kekayaan alam diambil oleh orang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s