Is This (No) Architecture?

09 Pebruari 2008
oleh : Yulia Eka Putrie
Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Malang





Pernahkah, pada satu waktu yang tidak terduga, kita menemukan gubuk semacam ini di tengah-tengah lingkungan kota yang penuh dengan bangunan-bangunan kokoh dan berdinding bata? Jika ya, apakah yang terlintas dalam benak kita ketika melihatnya? Apakah kita sempat berpikir tentangnya? Atau gubuk sesederhana ini bahkan tidak mampu mencuri perhatian kita walau sejenak? Ia mungkin hanya tertangkap oleh mata kepala, tanpa pernah sampai ke mata hati kita.

Sebagian orang mungkin akan menggeleng penuh rasa iba jika memikirkan nasib orang-orang yang mendiami gubuk ini. Sebagian lagi bisa jadi berpikir tentang betapa tidak layaknya gubuk ini untuk dijadikan tempat berhuni. Sementara kita, orang-orang yang berkecimpung di dunia arsitektur, mungkin akan mempertanyakan apakah bangunan ini pantas diklasifikasikan sebagai arsitektur, ataukah hanya pantas menduduki posisi sebagai “bangunan” belaka. Jika ia bukan dianggap bagian dari arsitektur, maka alangkah kejam rasanya ilmu ini mendepaknya keluar dari ruang lingkup keilmuan dan kepeduliannya. Sebaliknya, jika ia merupakan bagian dari arsitektur, maka aspek mana sajakah dari dirinya yang dapat memenuhi kriteria untuk disebut sebagai sebuah “arsitektur”?

Tentu saja, tulisan ini terlalu singkat dan dangkal untuk memberikan vonis apakah hunian di atas merupakan bagian dari arsitektur ataukah berada di luar ranah keilmuan ini. Tulisan ini sesungguhnya hanya ingin memberikan sedikit gambaran tentang pergeseran-pergeseran dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam cara pandang kita terhadap apa sebenarnya yang disebut sebagai arsitektur, sembari mencoba untuk menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan yang mungkin ada secara lebih bijak.

Jika kita kembali kepada pertanyaan di atas –apakah ia merupakan bagian dari arsitektur ataukah tidak?– maka bisa jadi akan muncul berpuluh jawaban, beserta alasan yang dikemukakan untuk memperkuatnya. Pada masa Vitruvius dulu (hingga saat ini!?), ketika arsitektur masih didefinisikan berdasarkan kekokohan, kegunaan dan keindahannya, bisa jadi bangunan hunian di atas tidak memenuhi satu aspek pun dari ketiganya. Ia mudah rubuh tertiup angin kencang, ia sangat terbatas dalam menampung aktivitas penghuninya, dan ia juga tidak indah –terutama jika keindahan yang dijadikan tolok ukur adalah keindahan yang extravagant–. Pendapat senada mungkin juga akan diungkapkan oleh Nikolaus Pevsner yang menganggap arsitektur hanya pantas disematkan pada bangunan-bangunan yang dirancang dengan pertimbangan-pertimbangan akan daya tarik estetis (Pevsner dalam Ballantyne, 2002: 11). Dengan pandangannya ini, Pevsner ini tentu dengan sangat tegas akan menyingkirkan gubuk di atas dari ranah arsitektur. Bisa jadi, ada pula yang memasukkannya ke dalam ruang lingkup arsitektur, namun dengan berbagai peryaratan yang harus dipenuhi sebelumnya, layaknya seseorang yang hendak melamar menjadi anggota sebuah klub. Misalnya saja, bentuk dan materialnya yang harus sesuai standar, luas ruang yang harus memenuhi ketentuan minimal, dan sebagainya. Sebaliknya, bagi Diogenes –seorang filsuf Yunani yang digambarkan hidup di dalam sebuah gentong yang hanya sedikit lebih besar dari tubuhnya (the pithos)–, bangunan di atas bahkan bisa jadi terlalu mewah untuk dijadikan sebagai tempat berhuni.

Sebagian arsitek ada pula yang berpendapat bahwa hanya bangunan yang dirancang oleh arsiteklah yang pantas disebut sebagai arsitektur. Pendapat ini bisa jadi benar dalam konteks tertentu. Walau begitu, ia tampaknya lebih banyak menggambarkan ego dan kebutuhan para arsitek untuk diakui di masyarakat. Secara logis, sebenarnya hanya seseorang yang dapat menghasilkan sebuah “arsitektur”lah yang pantas disebut sebagai seorang “arsitek”, bukan sebaliknya. Dalam jagad keilmuan arsitektur, perbincangan hangat mengenai hubungan antara arsitektur dan arsitek ini kemudian memunculkan istilah-istilah seperti “architecture without architect”, dan sebaliknya “architect without architecture”. Istilah pertama menggambarkan pengakuan akan keberadaan obyek-obyek arsitektur, yang walaupun tidak dirancang oleh arsitek profesional, namun memiliki “kadar arsitektural” yang sangat tinggi, dan dengan demikian pantas disebut sebagai “arsitektur”. Sementara itu, istilah “architect without architecture” tampaknya lebih merupakan sindiran halus kepada orang-orang yang merasa dirinya arsitek profesional, namun tidak mampu menghasilkan satu pun bangunan yang dapat diklasifikasikan sebagai arsitektur. Shame on us, isn’t it? ^_^

Perubahan dan pergeseran cara pandang memang merupakan sesuatu yang niscaya di dalam dunia yang dipenuhi oleh manusia-manusia yang senantiasa berpikir. Di tahun 1990-an, ketika industrialisasi di Eropa telah sampai kepada titik jenuh akan pertimbangan-pertimbangan materialistik semata, muncul keinginan-keinginan di ranah pemikiran arsitektur untuk kembali kepada dunia perancangan yang mempertimbangkan aspek etika sebagai bagian tidak terpisahkan darinya. Etika yang dimaksud di sini tentulah tidak semata-mata etika terhadap sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk hidup lain dan lingkungan alam. Tentu saja, termasuk pula di dalamnya etika terhadap Tuhan yang Maha Menciptakan Alam Semesta; salah satu ranah etika yang paling sering terlupakan. Kepedulian akan lingkungan alam, yang disebut sebagai “pihak yang paling lemah” oleh Galih Widjil Pangarsa di dalam bukunya “Merah Putih Arsitektur Nusantara”, mulai memperoleh gaungnya. Walaupun masih lebih sering berada di ranah filosofis yang sering dituding sebagai utopian (Pangarsa, 2006: 53), tampaknya pemikiran ini berimbas cukup besar kepada cara pandang sebagian arsitek dan akademisi terhadap arsitektur dan ruang lingkupnya. Lingkungan alam, ujar Prof. Mohd. Tajuddin Mohd. Rasdi di dalam salah satu tulisannya, harus mulai dipandang sebagai ‘the spaceship Earth’, sehingga apapun yang terjadi terhadap pesawat itu, manusia sebagai kru di dalamnya langsung merasakan pula akibatnya (Tajuddin, 2003). Pandangan-pandangan semacam ini memasukkan pertimbangan akan keberlangsungan alam sebagai aspek yang penting dari arsitektur.

Jika perubahan paradigma mengenai apa yang disebut sebagai arsitektur di atas berimbas pula pada penilaian terhadap gubuk hunian ini, maka gubuk inilah yang bisa jadi justru “lebih arsitektural” daripada bangunan-bangunan mewah yang memenuhi tiga kriteria Vitruvius di atas. Bayangkanlah, betapa sedikit dampak negatif dari gubuk beralas tanah dan berukuran kecil ini terhadap lingkungan alam, jika dibandingkan dengan dampak negatif yang diakibatkan deretan rumah besar yang membelakanginya itu. Penutupan seluruh bidang tapak yang masif pada rumah-rumah mewah itu sebenarnya bukan disebabkan oleh permasalahan keterbatasan lahan perkotaan –sebuah alasan klasik untuk menutup habis tanah yang mereka miliki–. Tampaknya, fenomena semacam ini lebih merupakan cerminan dari kemasabodohan manusia-manusia yang merancang, membangun dan mendiaminya, akan keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan alam.

Lebih jauh, gubuk di atas bahkan dapat disebut sebagai “sangat arsitektural”, karena hanya dengan menatapnya saja, manusia dapat mengambil pesan dan memperoleh pelajaran akan keseimbangan hubungan manusia dan alam. Manusia harusnya mengambil seperlunya saja dari alam dan masih menyisakan “udara segar” agar tanah yang kita pijak ini masih tetap dapat bernafas. Pelajaran seindah ini bahkan dapat kita peroleh dari dua pohon pisang yang masih dapat tumbuh segar di halaman belakang gubuk ini. Once again shame on us, isn’t it? ^_^ Andrew Ballantyne di dalam Introduction buku “What is architecture?” menyatakan: “Such buildings are informative and philosophically interesting, because they can be seen to be testing an idea, and they therefore tend to be discussed and revisited in commentaries, even if they are not particularly beautiful or good to live in. They are valuable because we can learn something from them.” (Ballantyne, 2002: 3-4). Mereka bernilai karena kita dapat mempelajari sesuatu dari mereka, ujar Ballantyne. Hmm, adakah pelajaran sebaik ini dapat kita raih dari deretan rumah mewah yang memunggungi gubuk itu?
Satu lagi pendapat menarik tentang arsitektur, adalah apa yang didefinisikan Spiro Kostof sebagai bukan sesuatu yang inheren di dalam bangunan itu sendiri, melainkan sebagai permasalahan kultural yang melibatkan bangunan. “The buildings turn into architecture when we feel that we should notice them and treat them with respect, and this can happen to any building.” (Ballantyne, 2002: 12). Dalam pandangan ini, persepsi kitalah yang memegang peranan untuk menentukan apakah sebuah bangunan cukup berarti bagi kita untuk kita anggap sebagai arsitektur ataukah tidak. Sebuah bangunan dapat dianggap sebagai sebuah arsitektur oleh sebagian orang, dan sebaliknya, bahkan tidak dipersepsi sama sekali oleh sebagian yang lain. Dalam kasus di atas, sebuah gubuk pun dapat kita anggap sebagai arsitektur jika ia memiliki arti tertentu bagi kita, sebaliknya, rumah-rumah mewah yang tidak memiliki arti dan kesan apa-apa bagi kita hanya akan berakhir sebagai bangunan belaka.

Adalah menarik untuk menyadari bahwa perdebatan-perdebatan semacam ini tampaknya tidak akan pernah sampai pada satu kesimpulan besar mengenai apakah gerangan arsitektur itu dan seberapa besarkah ruang lingkupnya. Walaupun begitu, setiap pendapat yang mencoba mendefinisikan hal ini selalu menarik untuk diselami, karena dari sanalah kita dapat mengambil nilai-nilai kebenaran dan kebijaksanaan yang mungkin terkandung di dalamnya. Dengan memahami dan membandingkan setiap pendapat yang ada, kita dapat pula memperoleh keluasan pengetahuan akan konteks dan keterbatasan dari masing-masing definisi. Lebih jauh, pada akhirnya kita dapat pula menggali dan menemukan latar belakang dan cara pandang dari para pencetusnya, yang bersembunyi di balik setiap pernyataan yang mereka lontarkan.

Daftar Pustaka
Ballantyne, Andrew (2002), What is Architecture, London: Routledge
Mohd. Tajuddin, Mohd. Rasdi (2003), “Islamic Architecture in Malaysia: a Case of Middle Eastern Inferiority Complex”, Crisis in Islamic Architecture, The KALAM Papers June 2006. Malaysia: Fakulti Alam Bina UTM
Pangarsa, Galih Widjil (2006), Merah Putih Arsitektur Nusantara, Yogyakarta: Penerbit Andi

_____________________________________________


Considering Tacit Knowledge in Architecture
Written by Probo Hindarto

The above article by Yulia Eka Putrie question the presence of vernacular architecture, in the world of modern architecture in Indonesia, especially in urban areas. There is always a gap between the rich and the poor, and both parties have their own ‘kind’ of architecture. The rich are they who are able to adapt and simulate modern lifestyle, as well as modern architecture. What is called ‘modern’ in new urban cities and lifestyle in Indonesia is often a transformation from traditional to a more international lifestyle, which is mostly architecture influenced by modern architecture in western tradition. Even for the poor, quite often modern architecture and its glamorous look attracts them to use modern architecture idioms whenever possible. New housing developments adapt this modern style into small houses called ‘minimalist houses’, a term which is very popular lately.

Menyerapnya informasi serta perkembangan industri, teknologi, dan perdagangan telah merubah mereka menjadi masyarakat penikmat, dan pemakai hasil arsitektur. Di mana masyarakat awam sendiri hanya mengikuti apa yang terjadi, tidak tahu menahu tentang asl usul bentuk arsitektur rumahnya, bahkan juga konsep serta ide-ide dasarnya.

The absorption of industrial development, technology, and commerce has changed them into consumer societies, and users of architectural products. In a state where common people themselves just follow what is in progress, unable to find out the origin of the form of their houses, even the concept and the basic ideas

(Antariksa, in http://antariksaarticle.blogspot.com/2008/02/arsitektur-dan-pemiskinan-budaya.html)

It is not the first time architecture styles occur in Indonesia, previously there are ‘Jengki style’, ‘Spanish style’, ‘classic style’ and ‘Mediterranean style’. But this is not the most important phenomena, there is a condition, where society desperately try to look forward to find new idioms of modernism. There is no question regarding changes of architecture styles, like in term of fashion, it will continuously happen. But traditional architecture stays the same, with very little changes.

Architecture as a part of aspects that is influenced by this new way of thinking shows somehow big differences from traditional architecture, or in the case that Yulia wrote, from vernacular architecture. The society leaves their own traditional and vernacular architecture due to influences, showing their premature stage of accepting influences. Several aspects of tacit knowledge in traditional and vernacular architecture will certainly be lost.

Some aspects of these changes are caused by architects, and the slogans they bring, deeply rooted by education they obtain from universities. Education still is, very influenced by western philosophy and science, naturally when facing the face of local architecture, doesn’t promise much harmonious relationship. Something presence from vernacular architecture has bigger thing behind its presence, the tacit knowledge being the background. Traditions which are mostly in tacit knowledge, mostly are not recognized by modern way of thinking. There is always a question, whether this is a process of demolition of these tacit knowledge?

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s