Percakapan imajinatif dengan Vitruvius

https://i2.wp.com/bopswave.googlepages.com/englishflag.jpg English Version

Akhirnya, Vitruvius punya cara untuk datang ke abad 21 dengan menaiki sebuah mesin waktu. Kebetulan Leonardo Da Vinci, menemukan mesin waktu untuk menjemput Vitruvius dan meminta keterangan lebih lanjut tentang Vitruvian Man-nya, agar ia bisa menggambar Vitruvian Man itu sesuai visi Vitruvius. Tapi itu cerita lain. Saat ini Vitruvius datang untuk diwawancarai seputar pandangannya tentang arsitek dan arsitektur serta sedikit hubungan dengan konteks Indonesia. Karena ia baru saja menulis “The Ten Books of Architecture”, maka sepertinya topik ini yang paling hangat untuk dibahas dengan Vitruvius.


Pertama, saya ucapkan selamat untuk bangsa Anda; Roma, untuk kemenangan Caesar.
Hei, terimakasih. Tapi kalau saya melihat segalanya di abad 21 ini, rasanya pembukaan buku saya hanya untuk alasan politis.
Seperti Anda lihat sekarang, banyak orang masih terkesan dengan arsitektur Romawi.
Oh ya saya juga melihatnya. Bahkan sangat menakjubkan melihat kebudayaan kami tersebar di mancanegara. Saya dengar arsitektur modern mengambil dasarnya dari arsitektur Romawi. Sesuatu yang juga saya lihat disini di Indonesia.
Tentang itu, apakah Anda setuju bahwa kebudayaan Anda menginfiltrasi, bahkan mengiterupsi kebudayaan kami.
Itu adalah pertanyaan yang sangat kritis. Saya tentunya memilih untuk meninggalkan tanggung jawab saya menjawab pertanyaan ini. Bukan salah kami bahwa kebudayaan kami sangat berpengaruh dibandingkan bagian dunia yang lain.
Karya Anda: The Ten books of Architecture, masih dipelajari di universitas-universitas. Meskipun tidak banyak orang di Indonesia, saya yakin, membaca karya Anda, para akademisi masih mendasarkan ide pendidikan mereka pada tulisan Anda.
Tentang teori dan praktek? Ya, karena saya lihat ini sangat universal. Anda tidak bisa mengabaikan praktek berdasarkan teori. Semua arsitek seharusnya memiliki teori, untuk berpraktek.
Apakah semua selalu begitu?
Selalu ada praktek berdasarkan teori. Bahkan ketika arsitek sampai di batas akhir dimana ia menjelaskan sebuah karya, selalu ada kombinasi pengetahuan dan ketrampilan, yang didapatkan dari pendidikan. Pengetahuan merepresentasikan material yang dapat dijelaskan. Tapi sisanya bisa juga tidak dapat terjelaskan, yang merupakan bagian dari ketrampilan.
Anda menjelaskan pula bahwa pendidikan akan membawa mahasiswa untuk tahu lebih banyak tentang sejarah mereka. Bagaimana Anda melihat pendidikan di Indonesia?
Sayang ya. Anda punya kebudayaan sendiri tapi tidak tahu begitu banyak. Saya dengar tidak banyak mahasiswa Indonesia tahu prinsip dasar dari candi di Indonesia, contohnya. Dan mengapa itu tidak diajarkan di Universitas.
Seperti ornamen Caryatides di bangunan Romawi?
Ya, seperti itu. Jadi pengetahuan yang mereka dapatkan tentang kebudayaan dan bangunan mereka memiliki ‘akar’ arsitekturnya. Tidak hanya sekedar asumsi sendiri, karena semua karyanya akan ditentukan dari itu.
Dan membawanya pada reputasi tertentu yang akan didapatkannya?
Bukan itu. Reputasi adalah sesuatu yang lain, sebuah nama baik karena karyanya dikenali oleh masyarakat.
Dan apa lagi yang seharusnya diketahui arsitek?
Aturan, seperti musik. Ini membantu arsitek memahami dasar dari aturan (order) arsitektur yang mereka gunakan.
Sesuatu yang seperti dikatakan Pythagoras sebelumnya, tentang arsitektur sebagai musik yang beku?
Benar sekali. Dan jangan lupa, pelajaran tentang pengobatan yang akan membawa pengetahuan pada lingkungan yang sehat.
Kami memiliki subyek tersendiri untuk itu sekarang. Bahkan istilah khusus; sustainability.
Oh jadi itu sudah menjadi subyek spesifik? Berita bagus.
Tentang prinsip dasar arsitektur.
Kesukaan saya.
Apakah prinsip-prinsip dasar itu?
Itu tertulis di buku; aturan, pengaturan, ritme, simetri, kesesuaian, dan ekonomi (Order, arrangement, rhythm, symmetry, propriety, and economy). Saya tidak harus menjelaskannya bukan? Baca sendiri disini.
Tentang kesesuaian (propriety); kesesuaian untuk Romawi tidak cocok lagi untuk bangunan modern dewasa ini.
Ya, saya melihat itu. Kalian semua kacau… Saya tidak mengerti prinsip kesesuaian Anda. Anda bilang arsitektur modern mendasarkan diri pada arsitektur Romawi, tapi saya tidak melihat Doric (salah satu hiasan kolom Romawi). Apakah Anda tidak percaya Dewa?
Oh, jangan kuatir, dalam era modern ini, kami semua gila. Dan kami memisahkan antara arsitektur dan kepercayaan.
Tapi saya melihat disini di Indonesia, masjid-masjid dan gereja-gereja. Saya suka candi Indonesia karena mereka memiliki akar yang kuat pada sejarah negeri Anda.
Terimakasih, dan jika Anda menilai arsitektur jaman sekarang dengan nilai-nilai kesesuaian (propriety) pada jaman Anda, maka banyak bangunan sekarang yang tidak sesuai. Membaca tulisan Anda tentang kesesuaian, adalah standar yang tinggi, bahkan untuk saat ini.
That’s not what I mean. What I wrote about proprietary is for high class buildings, high class architecture.

Bukan itu maksud saya. Apa yang saya tuliskan tentang kesesuaian (proprietary) adalah untuk bangunan kelas atas, arsitektur kelas atas.

Di jaman Anda?
Ya. Tapi tentu saja, ada dasar yang lain; yaitu faktor ekonomi. Ini menentukan bagaimana sebuah bangunan akan dibuat, secara arsitektural. Oke sekarang… saya mohon maaf, saya harus mengejar pesawat. Pergi ke Eropa lagi dan melihat karya saya sebelumnya, apakah masih utuh?
Oke kalau begitu, terimakasih.


***

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s