Sudikah melihat desa sebagai masa depan kelak?/ Memanusiakan manusia melalui fasilitas publik

Sudikah melihat desa sebagai masa depan kelak?
Artikel oleh Ade Yudirianto29 Agustus 2008

Tadi pagi saya membaca liputan Fokus Kompas 29 ags2008 tentang urbanisasi dan matinya kota-kota di Jawa utara. Sedih sekali rasanya.. dan saya merasa menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang bermigrasi ke kota-kota besar, membebani kota besar sehingga menjadi semakin semrawut seperti sekarang.

Tiada lagi Lokalitas.
Kota-kota di Jawa identik dengan kelokalitasannya, Hal ini disadari oleh Daendels, Raflless, Karsten saat membuat masterplan kota-kota di Jawa. Namun karakter kota seperti Bandung kota kembang, Cirebon Sukabumi sebagai lumbung padi mulai pudar kini. Industri tidak menjadi peningkat kesejahteraan masyarakat karena industri hanya membutuhkan lahan, tanpa warga desa. Orang desa tetaplah miskin karena hanya bertindak sebagai pekerja kecil semata, bukan pelaku utama dari industri tersebut.

The Famous Dago Street, Bandung
Photo by Ikhlasul Amal, used under CC lisence. Some rights reserved.

Sementara kota-kota besar menjadi semakin seragam karena euphoria ekonomi global, semakin membesar dan menyedot tenaga dari desa. Migrasi besar-besaran terjadi. Kota menjadi besar bukan karena dikembangkan menjadi pusat ekonomi baru. Namun karena melubernya penduduk sehingga tumpah ruah ke periferi luar kota. Tiada lagi lokalitas. ia mati seiring dengan asingnya masyarakat generasi baru yang lebih akrab dengan Circle K, indomart, Alfa mart ketimbang pasar templek, kios, dan pasar pahing.

Tinggal dimana kelak?
Bila kota semakin membesar sementara daya dukung dan kualitas hidup semakin menurun mau tidak mau masyarakat akan pergi meninggalkan kota, mencari sub-sub kota baru untuk ditinggali dan menjadi inang bagi sub kota itu sendiri. Kenapa menjadi inang? karena budaya urbanisasi dan kesiapan kota terhadap perilaku penghuninya hampir tidak mengalami peningkatan kualitas. tenaga tidak terdidik, terampil, sementara sub kota selalu dikembangkan dengan drainase dan perencanaan infrastruktur yang parah.

Dalam 10-15 tahun lagi bisakah dibayangkan akan tinggal dimana anda kelak? masihkah Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Jogjakarta, Malang layak untuk ditinggali? masih bisakah kita memilih untuk tinggal di kota /desa yang masih mempunyai kualitas lingkungan memadai? Masihkah keinginan untuk kembali tinggal di desa realistis seiring dengan realistisnya perbaikan ekonomi mandiri desa?

Menyiapkan Agenda Hidup di Masa Depan.
Dari sekian banyak permasalahan ruang dan lingkungan hidup sekarang ini. Kita sudah tidak lagi dapat berharap dengan proyek-proyek revitalisasi kota secara besar-besaran ala Superblok, kota-kota mandiri karena metode tersebut tidak mengubah taraf hidup masyarakat di ekonomi kelas bawah. Menyelamatkan kehidupan masyarakat ekonomi lemah adalah agenda utama karena:
Pertama, jumlahnya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan mayoritas masyarakat Indonesia banyak yang hidup pada tingkat ini. Kedua, menyelamatkan masyarakat ekonomi bawah berarti mengembalikan pembangunan ke desa/ekonomi mandiri. Kota selama ini hidup dengan sokongan hasil bumi dari desa. Jika desa tidak dikembangkan dengan serius pembangunan sosial ekonominya maka kota-kota besar sendirilah yang akan binasa. Ketiga, masyarakat ekonomi bawah memiliki daya survival/ daya tahan hidup lebih tinggi ketimbang masyarakat kota. Mereka mampu hidup dengan kondisi ekonomi yang dibawah standar dan kondisi ini memaksa mereka untuk bekerja keras walau hasil pendapatan minim sekalipun. Hal yang sama kenapa negara-negara asing lebih menyukai merekrut tenaga kerja dari Indonesia. Pekerja keras, tahan banting dan mau digaji kecil!

Agenda pembangunan dimasa depan adalah berpusat pada ekonomi di kota-kota yang ditinggalkan oleh penduduknya. Dan pembangunan tersebut bukan berarti menyiapkan Jakarta-jakarta baru. melainkan mengupayakan ekonomi kreatif mandiri tanpa harus bergantung pada modal-modal kapital yang membuat Jakarta sebesar ini sekarang. Bila ekonomi masyarakat dikembangkan dari unit sel kecil aktif dan mandiri maka tidak perlu kuatir jika krisis ekonomi 97 bakal terulang. Karena krisis yang besar dialami bangsa Indonesia jika perekonomiannya terlalu dikendalikan oleh modal-modal besar global. Krisis 10 tahun lalu membuktikan bahwa masyarakat ekonomi kecil lebih mampu bertahan hidup.

Agenda pembangunan dan peningkatan kualitas hidup dimasa depan haruslah menciptakan pusat-pusat ekonomi baru yang menyebar diberbagai penjuru kota Indonesia. Desa adalah masa depan, jadi mulailah melihat desa sebagai potensi ekonomi aktif di masa depan bukan lagi sumber penyerap tenaga kerja untuk kota besar.

.

Memanusiakan manusia melalui fasilitas publik
(lanjutan dari konsep Sustainable architecture; Apakah kota kita sustainable?)

August 25, 2008
Artikel oleh Probo Hindarto

Tambahan catatan Probo Hindarto:
29 Agustus 2008

Kemarin saya berbincang sedikit dengan Eko Wahyu C (Samoke) tentang ‘public space and facilities’. Pertemuan yang kami rencanakan di ‘Pos Kemitraan Polisi dan Masyarakat’ yang dirancang Samoke dengan melibatkan penyandang dana dari beberapa universitas didekat fasilitas ini, serta pihak kepolisian setempat, yang didesain untuk menjadi ruang publik, karena disebelah pos kemitraan ini didesain sebuah ruang publik yang bisa dipakai komunitas-komunitas yang ingin memakainya.

Berbincang di sebelah kantor polisi? Apa yang dilihat orang-orang yang berlalu lalang? Apakah mereka masih menyangka kami orang yang baru saja ditilang karena melanggar lalu lintas? Apakah mereka masih menyangka kantor polisi ini demikian ‘garang’nya? Hmm, kami berharap ada orang yang melihat kami bercakap-cakap dengan santai dan berharap mereka mau juga menggunakan fasilitas ini seperti kami.


Pos Kemitraan Polisi Masyarakat


Menghilangnya ruang publik berupa trotoar; ruang publik yang ‘sakit’

Samoke dan saya berbincang tentang beberapa hal, terutama tentang keprihatinan akan semakin sedikitnya ruang publik. Betul, kami (sedikit) mengerti tentang desain, namun implementasi adalah sebuah kata yang butuh pengorbanan. Pembicaraan lain seputar birokrasi pemerintah daerah dan bagaimana uang pajak (dari iklan billboard, spanduk, dan pajak-pajak lain) digunakan. Sebersit ide; bagaimana jika sebagian dana iklan itu dipakai untuk memperbaiki ruas jalan dibawahnya? Katakanlah; 5 – 10%? Atau, bisakah (MUNGKINKAH) terjadi subsidi silang dari kelas ekonomi menengah keatas kepada investasi ruang publik?

Pembicaraan dunia akademis dan pemerintah daerah seringkali tidak sejalan, menurut Samoke. Simple, karena keduanya memiliki ‘dunianya’ sendiri-sendiri. Terpaksa bagi arsitek dan mereka yang berkecimpung didunia desain arsitektur, untuk berusaha menelurkan ide-ide baru dengan semangat 45 agar, barangkali, terjadi sebuah ‘jembatan’ (kami tidak beranggapan bahwa dunia akademis tidak mampu. Kami beranggapan; sangat mampu, dibuktikan dengan banyaknya keterlibatan kampus pada proyek-proyek urban, dan tinggal menunggu kapan terjadi letupan-letupan berikutnya).

Mengapa ruang publik makin menghilang? Jika ada ruang publik buatan swasta, biasanya berbayar, atau berbasis konsumerisme; contohnya mall, taman bertema, water park, dan sebagainya. Mengapa jalan-jalan baru sering tidak memiliki trotoar? Bilamanakah masyarakat berhak menuntut untuk ruang publik yang lebih layak? Masyarakat sekarang ini cenderung pasrah, terutama kalangan ekonomi kelas bawah, akan kondisi kotanya. Kami kuatir bahwa masyarakat semakin merasa ‘terbiasa’ untuk tidak mendapatkan perlakuan manusiawi. Semakin terbiasa untuk memaklumi, tidak terbiasa untuk menuntut (atau belum).


Artikel ini kami gulirkan untuk kita pikirkan bersama tentang kota (kami tahu banyak orang telah berpikir tentang tata kota), sebagai bagian dari menelaah perkembangan kota-kota di Indonesia. Perlunya topik ini diangkat tidak habis-habisnya adalah karena kengerian yang diakibatkan oleh kondisi kota-kota baru akibat ‘role model’ dari kota-kota lama yang sudah berkembang lebih dulu.

Apakah kota-kota besar akan terus menjadi ‘pilot project for destruction”?
Apakah kota-kota baru akan mengikuti pola-pola lama?

Note the Bow Tie
Betapa rindunya kita akan tempat berjalan kaki yang lebih nyaman dan manusiawi.

Photo by
christian razukas, used under CC license, some rights reserved

Dalam kota yang sehat, individualisme ditekan dengan memperbanyak ruang publik, tujuannya agar terjadi interaksi antar warga dan saling memahami kebutuhan untuk hidup bermasyarakat. Sebenarnya, konsep ruang publik tradisional di Indonesia sudah ada, yaitu alun-alun, sedangkan dengan bertambahnya jumlah penduduk, ruang publik seharusnya ditambah, bukan dikurangi. Dalam hal ini, ruang publik di kota telah banyak berubah menjadi mall, perumahan, lapangan golf, dan sebagainya. Ruang publik yang ‘dijual’ itu tidak dapat dinikmati kelas bawah karena mall adalah tempat yang dikunjungi untuk berbelanja, sesuatu yang tidak bisa banyak dilakukan kelas bawah, malah akan menambah sifat konsumerisme masyarakat yang tidak sehat.

El Parque
Photo by Matt Lemmon, used under CC license, some rights reserved.

Ruang publik semacam diatas dapat mempertinggi identitas lokal, karena elemen-elemen lokal dapat muncul secara kuat, seperti pemandangan gunung, bukit, bangunan bersejarah, dan sebagainya. Identitas ini seyogyanya tidak ditutupi oleh billboard, iklan-iklan, serta pemandangan kota yang memaksa penghuni tidak dapat menikmati lokalitasnya. Hal ini karena nilai sebuah area lokal sangat ditentukan oleh potensi lokal yang digarap dengan baik. Ruang publik yang baik juga dapat diakses oleh berbagai kalangan sehingga tidak ada jurang antara si kaya dan si miskin.

“The importance of pedestrian public spaces cannot be measured, but most other important things in life cannot be measured either: Friendship, beauty, love and loyalty are examples. Parks and other pedestrian places are essential to a city’s happiness.”

“Pentingnya ruang publik pejalan kaki tidak ternilai harganya, tapi hal-hal lain yang sangat penting dalam hidup yang tidak dapat diukur antara lain; persahabatan, keindahan, cinta dan kepercayaan adalah contoh-contohnya. Taman dan ruang pejalan kaki lainnya sangat penting untuk kebahagiaan sebuah kota”

Enrique Penalosa

Identitas lokal sangat penting untuk diperhatikan sebagai aset, sehingga keberadaan bangunan baru setidaknya dapat mengambil unsur-unsur visual yang diambil dari daerah disekitarnya. Sebagai contoh; identitas lokal dapat muncul dengan baik melalui partisipasi warga lokal untuk memperkuat identitas tersebut. Warga sekitar dapat dilibatkan dalam perencanaan kawasan yang akan diperbaiki. Misalnya; untuk memperbaiki sebuah ruas jalan agar lebih manusiawi, warga sebaiknya dilibatkan dalam diskusi, area mana yang paling membutuhkan perbaikan, di area ruas jalan sebelah mana yang terbaik untuk dipakai duduk-duduk, sehingga disitu bisa ditanam tanaman peneduh. Area mana saja yang membutuhkan penerangan malam sehingga mempertinggi keamanan ruas jalan.

Dasar penilaian karakter lokal dapat berasal dari berbagai macam hal dalam sebuah area, salah satu contohnya adalah struktur bangunan dan ruang yang diciptakannya. Hal ini menyangkut denah dan bentuk dari ruang, hubungan antara publik dan privat, ketinggian, skala dan massa, umur dan kondisi bangunan, hubungan antara bentuk-bentuk terbangun dan tak terbangun, dimana pertimbangan yang dilakukan antara lain ‘rasa’ keruangan, tipe bangunan, kesinambungan tampilan, serta public space.

Tentu saja hal semacam ini akan sangat sulit untuk diterapkan di kota besar yang sudah ‘sakit’, misalnya di ruas jalan yang sudah banyak sekali pedagang kaki lima di trotoar. Kecuali ada penertiban yang dilakukan sehingga trotoar menjadi bersih, ruas jalan itu tetap menjadi ‘sakit’. Penertiban semacam ini menimbulkan permasalahan kota yang lain, yaitu penggusuran dan pemaksaan kehendak pada kaum miskin (seperti makan buah simalakama).

Hal yang musti dipikirkan untuk pengembangan kota-kota baru (baca; kota berkembang) adalah menjaga agar tidak timbul kawasan ‘sakit’, dengan penjagaan agar tidak terjadi daerah ‘sakit’ baru. Ini perlu dilakukan oleh pemerintah daerah, karena hal yang terjadi saat ini menurut pantauan kami banyak sekali pelanggaran yang ‘dilegalisasi’ oleh pemerintah daerah; misalnya boleh membangun di daerah aliran sungan (DAS) dengan membayar sejumlah uang pada oknum. Pelanggaran yang terjadi tidak hanya dilakukan oleh rakyat kecil saja, namun juga pada proyek-proyek besar yang dibangun diatas lahan hijau dan peresapan air. Akibatnya tentunya bisa diprediksi; kota kehilangan peresapan air yang dapat mengurangi kemungkinan banjir, rakyat kehilangan tempat bersosialisasi, dan masa depan kota menjadi tidak jelas.

CONTOH NYATA
BOGOTA, COLOMBIA

Class Division
Bogota. Kota manusiawi adalah kota yang ‘memanusiakan’ manusianya.

Photo by Matt Lemmon, used under CC license, some rights reserved.

Bogota City Library - Interior
Perpustakaan kota Bogota dibuat dengan arsitektur yang indah, menyenangkan, dan menjadi ruang publik yang menyehatkan masyarakatnya.
Photo by Matt Lemmon, used under CC license, some rights reserved.

Bogota sebelumnya adalah kota yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan Indonesia pada umumnya; tidak teratur. Perubahan radikal dilakukan oleh walikotanya bernama Enrique Penalosa hanya dalam 3 tahun. Walikota ini memang sangat memperhatikan masyarakatnya, terutama kalangan bawah. Dalam proyeknya yang ambisius (tapi ternyata BISA dilakukan), ia mengubah kota melalui transportasi, pendidikan dan ruang publik. Sebanyak lebih dari seribu taman publik baru dibangun, banyak sekolah-sekolah baru yang hebat dibangun untuk anak-anak miskin, dimana mereka diajari tata cara hidup yang sangat berbeda dengan kesehariannya; tata cara hidup yang lebih baik. Sedikitnya 350 kilometer jalur sepeda dibuat. Lihat dibawah ini interview dengan walikota tersebut dan perubahan-perubahan yang dilakukannya;

Jalan untuk mobil dipersempit, jalan untuk kendaraan umum dan kendaraan sepeda diperbesar. Trotoar untuk pejalan kaki diperlebar sehingga pejalan kaki sangat dimanusiakan. Bahkan, trotoar dibuat lebih tinggi dari jalan mobil bila menyeberang jalan. Hal ini diakuinya malah mempertinggi nilai real estate dan lingkungannya, karena jalan menjadi lebih manusiawi, lebih aman, lebih nyaman. Hal-hal semacam ini membuat masyarakat, terutama generasi muda, dapat terputus dari kebiasaan lama generasi tua yang tidak patut dicontoh.

“Do we dare create a transport system giving priority to the needs of the poor? Or are we really trying to solve the traffic jams of the upper income people? That is really the true issue that exist…”

“Apakah kita berani menciptakan sistem transport yang memberikan prioritas pada kebutuhan orang miskin? Atau kita benar-benar mencoba untuk memecahkan masalah kemacetan orang-orang dari kelas ekonomi tinggi? Sebenarnya inilah issue sesungguhnya yang ada…”

Enrique Penalosa



Kepustakaan:

Buku:

Pangarsa, Galih W. 2008. Arsitektur untuk Kemanusiaan.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s