Transformasi ber-arsitektur

Transformasi ber-arsitektur Proses yang dijalani setiap arsitek adalah berbeda, dimana akan memberikan pengaruh bagi proses kreasi karyanya. Masa, kecepatan informasi dan penyerapan informasi, keterbatasan geografis, serta kemampuan untuk melihat perubahan dan gejolak masa dalam proses berarsitektur baik dalam diri maupun dalam masyarakat, terlihat selalu dalam tataran yang berproses.


Ada perbedaan dari masing-masing masa literatur atau narasi arsitektur yang ada dalam perkembangan arsitektur Indonesia, dan dapat terlihat, bahwa dalam masa seperti ini, perubahan yang sangat cepat terjadi dengan mudah, karena media. Salah satu contoh adalah website-website arsitektur Indonesia, contoh lain adalah majalah-majalah arsitektur, yang menjadi salah satu media perkembangan arsitektur, yang disukai atau tidak, hadir dalam memberikan pengaruh. Media ini berfungsi menjadi media perubahan dalam paradigma arsitektur Indonesia. Tentunya bukanlah sebuah hal yang mudah untuk menanggung sebuah tanggung-jawab dalam bersama meretas fajar baru arsitektur Indonesia. Kita perlu meletakkan pandangan obyektif akan keberadaan masing-masing media sebagai proses menemukan jatidiri ber-arsitektur yang subyektif bagi masing-masing pihak.

Dalam masa ini, ada perubahan penting dalam proses berpikir berbagai generasi yang dipengaruhi masa bertumbuh mereka dalam mempelajari arsitektur (studi di universitas, dan masa kerja selanjutnya) serta kecepatan mereka memahami lingkungannya, yaitu perubahan identifikasi dalam paradigma para pelaku yang ada dalam dunia arsitektur. Para pelaku ini seakan berjalan dalam rute mereka masing-masing, yang juga mempengaruhi setiap orang lainnya. Sebuah contoh, para ‘orang-orang tua’ atau pelaku dalam dunia arsitektur dengan latar belakang budaya pendidikan era tahun 60an – 70an tentunya berbeda dengan ‘orang-orang muda’ yang baru saja lulus kuliah setelah tahun 2000 dan memasuki dunia rancang bangun arsitektur. Perbedaan kultur dan paradigma didasari oleh cara pandang dalam masyarakat yang seiring waktu mempengaruhi cara berpikir setiap generasi. Seringkali didapati perbedaan cara pandang ini dapat menimbulkan kesenjangan dalam proses berpikir yang dapat mengakibatkan kesalahan memahami masing-masing pihak.


Apakah kita masih berada di era TV?

(Source: H Berends, stock.xchange)

Dalam era baru, kecepatan pertukaran informasi menjadi faktor pemicu perubahan cara berpikir generasi muda. Dalam era televisi, untuk memindah channel atau berganti saluran/subyek kita perlu berada dalam koridor yang terbatas dan hanya satu pilihan setiap waktunya. Dalam era internet, kita memiliki pilihan yang jauh lebih banyak dengan informasi yang bisa kita pilih dengan beragam pilihan serta memiliki kemampuan interaktivitas. Dalam berparadigma arsitektur dewasa ini, kita perlu meletakkan dasar berpikir yang lebih cair, sehingga dapat berubah seiring waktu, sebagaimana ilmu pengetahuan yang terus berubah. Berbagai faktor yang dapat mempercepat perubahan paradigma dan pola pikir suatu generasi, antara lain kecepatan pertukaran informasi, toleransi akan keberagaman, serta kemampuan untuk menyimpulkan kondisi jaman dalam skala yang lebih besar.

***

Dampak Arsitektur pada Masyarakat dan sebaliknya

Pada skala yang kecil seperti taman kota, alun-alun, atau area wisata, peran arsitektur sudah terlihat dapat mempengaruhi kehidupan penghuninya. Bayangkan berjalan dalam taman yang rindang dan teduh pada pagi hari, tentunya membuat kita bersemangat mengawali hari. Arsitektur yang mendukung perkembangan masyarakatnya adalah salah satu kekuatan agar sebuah wilayah dapat berkembang melalui perubahan paradigma. Hasil-hasil kreasi arsitektur membawa dampak pada masyarakat, karena ia hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, ia menjadi bagian dari everyday life. Dalam era lama dimana bangunan-bangunan dibentuk oleh pola pikir masyarakatnya; misalnya arsitektur tradisional yang dibentuk oleh budaya yang melingkupinya, saat ini bahkan seringkali berbalik 180 derajat. Arsitektur justru menjadi media perubahan, dimana kehadirannya merepresentasikan paradigma baru yang ‘meloncat’ dari masanya, sehingga memicu wacana baru, bahkan perubahan disekitarnya.


Rancangan Zaha Hadid, untuk Vilnius Guggenheim, Lithuania, wacana arsitektur yang akan membawa perubahan untuk lingkungannya.
(Source:
http://www.bdonline.co.uk/story.asp?sectioncode=725&storycode=3110936&c=1&encCode=00000000014a2f12)

Di Bilbao, Spanyol, museum Guggenheim rancangan Frank Gehry membawa perubahan pada kota kecil tersebut. Bangunan itu hasil dari sebuah kompetisi arsitektur, berdiri di sebuah kota lama, yang ternyata memberi sebuah warna baru dalam suasana kota. Kota menemukan sesuatu yang baru untuk diapresiasi, dimana keberadaan arsitektur bangunan itu dapat menyedot perhatian dunia kepada kota kecil ini. Pada akhirnya perhatian itu juga memberi dampak pada masyarakatnya, bahkan pada ekonomi kota dan negara tersebut.

Contoh yang sederhana; di kota kecil sebuah mall baru dibangun, tentunya turut memberi andil bagi perubahan masyarakatnya, dalam hal ini mendukung produktivitas atau konsumerisme adalah hal yang patut dipertanyakan. Arsitektur mall memiliki ciri-ciri khusus seperti penampilan yang menarik, berwarna-warni, nyaris seperti dus makanan siap saji untuk anak-anak. Tentunya terdapat pertimbangan untuk mengambil bentuk-bentuk demikian, yang dipengaruhi oleh paradigma masyarakatnya, pandangan masyarakat tentang apa itu sebuah mall. Adakah mall yang memakai arsitektur tradisional?


Palm Islands; proyek reklamasi pantai yang menakjubkan di Dubai, dimana paradigma baru membuat perubahan pada arsitektur kota.


Reklamasi pantai yang menunjukkan dominasi manusia atas alam, menjadi parameter perubahan dan kemajuan Dubai sebagai salah satu kota yang diperhitungkan, setidaknya melalui arsitektur

Itulah yang terjadi pada banyak bangunan baru dewasa ini, bangunan dapat menjadi parameter sekaligus agen perubahan paradigma dan kemajuan dalam masyarakat. Ide-ide baru dalam arsitektur merupakan wacana bahwa masyarakat dapat menerima ide-ide baru pula, yang selalu dikaitkan dengan perubahan pola pikir, bahkan kemajuan dalam berbagai bidang. Arsitektur tampaknya menjadi sebuah cara untuk menciptakan wacana pada publik, selain ia dipengaruhi oleh publik.

Burj Dubai merupakan sebuah contoh dari arsitektur yang membawa muatan politis, dari munculnya ide baru dan keterbukaan terhadap perubahan. Sebagai bangunan tertinggi di dunia, Burj Dubai mampu menyedot perhatian dunia, menjadikannya alat untuk berwacana bahwa perubahan dan pencapaian tertinggi berada di tanah tersebut.

Peran arsitek, dalam menciptakan iklim perubahan melalui desain inconvensional, adalah lazim dalam menghadirkan bangunan-bangunan baru bahkan yang inkonvensional, untuk menarik perhatian, karena pada dasarnya manusia tertarik pada hal-hal baru, penemuan baru yang membawa pada kehidupan lebih baik.

Not only that, but architects play a very important role in society. They are very conscious intellectuals who are in touch with the bigger picture. They set trends and move society forward.
(I found this in http://architecturalwonder.wordpress.com/page/2/)

Masyarakat perlu wacana untuk diperbincangkan, karena mereka tertarik pada hal-hal yang baru. Dalam desain-desain inkonvensional dan tidak lazim dari arsitektur baru, tidak hanya masyarakat sekitar saja yang tertarik, namun bisa juga dunia internasional. Hal ini karena dunia secara global mengakui dan menghargai ide baru, meskipun dalam skala lokal, arsitektur jenis ini dapat menjadi kontroversi.

Namun tidak secara sepihak, dalam penentuan desain bangunan publik, masyarakat adalah partisipan dalam proses desain. Akan sangat membantu bila masyarakat dilibatkan dalam proses desain bangunan publik, karena mereka adalah klien sesungguhnya. Hal ini perlu dikaji dalam dunia arsitektur bangunan publik di Indonesia, yang masih perlu berevolusi menjadi lebih representatif bagi masyarakatnya. Di Indonesia juga perlu dipertanyakan; seberapa peran arsitektur menentukan bangunan yang dapat diterima publik sekaligus menjadi media perubahan.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s