Teori evolusi memetika – Pemilihan material dan teknologi arsitektur dalam region geo-cultural yang mendefinisikan tipologi bangunan

THE HAGUE: Porters house of Clingendael EstateBangunan pada awalnya merupakan jawaban manusia atas kebutuhan berlindung dari cuaca dan gangguan alam maupun binatang buas. Cara yang ditempuh manusia untuk berlindung pada tempat-tempat tertentu seperti gua sudah berevolusi hingga saat ini dalam ilmu pengetahuan, namun akar dari permasalahan manusia yang harus dijawab seputar respon terhadap alam masih sama, dan perubahan dapat dilihat dari evolusi [1] tipologi bangunan yang dihasilkan. Sebuah bentuk bangunan memiliki alasan mengapa harus demikian.

Hal ini berkaitan dengan ketersediaan material dan teknologi bangunan yang berkembang atas sebuah material. Material dengan potensinya diaplikasikan dengan jenis konstruksi material dan teknologi bangunan yang berkembang dan sesuai dengan potensinya untuk diaplikasikan dengan konstruksi yang sesuai. Hal ini yang menjadi dasar mengapa sebuah bentukan bangunan terjadi. 

Sebuah contoh yang paling sederhana, posisi gerak tubuh manusia yaitu berdiri, duduk dan tidur. Pada posisi duduk seorang manusia memerlukan alat untuk terbentuk untuk diduduki, apakah itu sebuah batu, potongan kayu ataupun sebuah kursi. Pilihan apakah ia menggunakan batu atau kursi dengan bentukan modern adalah hal yang dihasilkan melalui perbedaan penggunaan material dan teknologi. 


Contoh lain yang cukup nyata dalam perkembangan arsitektur dengan penggunaan kaca menunjukkan fakta bahwa setelah kaca menjadi material baru yang berpengaruh pada arsitektur, ia menjadi sumber daya untuk digali potensi materialnya dalam sistem konstruksi yang dapat dikembangkan atas material kaca tersebut. Pengetahuan material dan pengetahuan konstruksi adalah dua pondasi utama mengapa berbagai bentuk arsitektur terjadi dimana teknologi yang diaplikasikan pada sebuah material merupakan diversitas melalui berbagai variabel. Variabel ini bisa menjadi merupakan unsur geo-cultural dan diversitas pada teknologi bangunan atau sebuah material melulu di sebabkan karena perkembangan teknologi setempat yang kebanyakan terisolasi antara satu region geo-cultural ke region lainnya.

THE HAGUE: Porters house of Clingendael Estate


Bagaimana manusia dalam sebuah region geo-cultural menganggap bahwa arsitektur semacam ini merupakan arsitektur terbaik, dapat dijelaskan melalui teori evolusi memetika berkaitan dengan material dan teknologi bangunan.

Bagaimana sebuah bentuk bangunan terwujud adalah resultan dari evolusi teknologi terhadap material. Memandang kenyataan ini apabila kita mengambil sudut pandang arsitektur tradisional, arsitektur modern atau jenis sebutan arsitektur lainnya oleh manusia, memiliki elemen pembentuk yang lebih kecil yaitu : material dan teknologi bangunan. Dalam konteks pemikiran saya ini bentuk-bentuk arsitektur tradisional merupakan contoh yang paling lugas dan jernih atas memahami akar tipologi bangunan. Ini menjelaskan kenyataan mengapa konstruksi dinding di Jepang berbeda dengan konstruksi dinding di Roma.

Bukan suatu yang mustahil bahwa opsi memetika ini dapat “dipindahkan” (diadopsi dalam region geo-cultural lain) dari satu region geo-cultural ke geo-cultural lainnya. Namun biasanya aplikasi terhadap pilihan teknologi konstruksi arsitektural didasarkan pada memetika yang berkembang dalam sebuah region geo-cultural dan ‘pemindahan’ dapat menjadi fenomena yang meng-alienasi atau justru mengangkat derajat sebuah memetika kosakata arsitektur. Didalam evolusi memetika arsitektur tradisional, hal ini adalah sebuah faktor penentu apakah sebuah opsi terhadap bentukan arsitektural akibat pemilihan teknologi terhadap material umum diaplikasikan terhadap bangunan-bangunan dalam sebuah region geo-cultural. Dalam perspektif ini benar salahnya, umum tidaknya, sebuah bentukan arsitektural terjadi merupakan judgement akibat dari evolusi memetika itu sendiri.

GLOSSARY
evolusi: 
dalam Wikipedia:
In biology, evolution is change in the inherited traits of a population of organisms from one generation to the next. These changes are caused by a combination of three main processes: variation, reproduction, and selection. Genes that are passed on to an organism’s offspring produce the inherited traits that are the basis of evolution. These traits vary within populations, with organisms showing heritable differences in their traits. When organisms reproduce, their offspring may have new or altered traits. These new traits arise in two main ways: either from mutations in genes, or from the transfer of genes between populations and between species. In species that reproduce sexually, new combinations of genes are also produced by genetic recombination, which can increase variation between organisms. Evolution occurs when these heritable differences become more common or rare in a population.

geo-cultural: wilayah / region perkembangan memetika arsitektur spesifik

memetika: Ilmu yang mempelajari meme (kode perilaku manusia) dalam ilmu kebudayaan yang disebarkan dalam model evolusi kebudayaan yang dikembangkan melalui pengembangan teori evolusi Darwin.

FOOT NOTE
[1] Evolusi dalam konteks ini dapat dikaitkan langsung dengan model evolusi dalam biologi yang diaplikasikan dalam model evolusi memetika arsitektur. Baca tulisan saya tentang salah satu teori evolusi memetika dan perbandingan dengan teori evolusi biologi berikut ini:


Mengapa arsitektur khas Indonesia pantas untuk diperjuangkan?
.

Download versi .pdf dari artikel ini.

05 Jan 2007
articles by 
astudio

Pertanyaan  ‘mengapa arsitektur khas Indonesia pantas untuk diperjuangkan?’ merupakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang mendefinisikan hubungan antara masa lalu, saat ini dan masa depan, sebagai sebuah identitas jatidiri. Terdapat banyak faktor yang dapat dilakukan untuk menghubungkan masa lalu dengan saat ini dan masa depan, dan artikel ini merupakan suatu cara untuk melakukan itu, dan selalu merupakan hal yang menarik untuk melakukan hal itu.
‘A connection with the past is a prerequisite for the appearance of a new and self confident tradition’ (Giedeon, 1956)
‘Hubungan dengan masa lalu adalah keharusan bagi munculnya tradisi yang baru dan penuh kepercayaan diri’ (Giedeon, 1956)
Bangunan-bangunan masa lalu seperti candi dapat diuraikan dalam kaidah desain spiritual mereka, yaitu yang paling penting karena ini adalah dasar mereka membangun dan merencanakan bangunan. Kaidah spiritual desain bisa merupakan petungan, prinsip hitungan struktur, pola peletakan, hierarki, sequence, penghiasan atau ornamentasi.

Apakah yang mendasari kepentingan dibangunnya bangunan-bangunan candi merupakan hal yang bisa dikaji namun hasilnya merupakan norma-norma yang belum tentu dapat diaplikasikan dalam desain modern karena perbedaan keyakinan. Namun dalam dunia modern saat ini, pola-pola desain tersebut dapat dijadikan alat untuk mengambil peradaban arsitektur masa lalu tersebut sebagai kaidah desain yang diterapkan dalam bentuk baru. Perbandingan dari pola desain lama yang dimasukkan kepada desain baru untuk menunjukkan bahwa hal ini memungkinkan adalah pola-pola desain klasik Yunani yang diterapkan dalam bangunan baru postmodern.
Hal ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip dasar desain dapat didefinisikan kembali dan digubah untuk diterapkan kembali kepada bangunan baru yang menunjukkan kesamaan pemikiran. Beberapa contoh prinsip dasar desain yang bisa diterapkan adalah:
q       Ritme
q       Cengkah
q       Arah
q       Kontras
q       Pola
q       Warna
q       Dan sebagainya
Translasi ke dunia postmodern dapat digambarkan sebagai berikut:
q       Sistem konstruksi arsitektur modern digunakan hanya sebagai ALAT untuk membangun, selebihnya, dalam makna desain dapat digunakan prinsip dasar desain candi
q       Kaidah desain peradaban arsitektur masa lalu tersebut diaplikasikan sebagai kaidah desain untuk menjadikannya lebih berjiwa dan bermakna
q       Pengambilan keputusan oleh arsitek atau desainer dalam prinsip-prinsip dasar desain diambil dan dipengaruhi oleh peradaban arsitektur masa lalu.
q       Sistem ruang akan mengalami reformasi disesuaikan dengan kebutuhan saat ini, namun reformasi ini sebaiknya tidak bertentangan dengan kaidah peradaban arsitektur masa lalu. meskipun demikian, dengan adanya prinsip atau kaidah peradaban arsitektur masa lalu, hierarki dan penataan ruang bisa jadi mengikuti pola yang ada dalam peradaban masa lalu tersebut, dengan juga mentransformasikan atau mentranslasikan gaya atau kaidah desain tersebut dalam tata ruang, sebagaimana terjadi pada anatomi tampak.
q       Pembedaan sistem tata ruang dan anatomi tampak dari yang digunakan dalam arsitektur modern akan menjadikannya memiliki kehasan yang lebih berjiwa dan bermakna. Ini yang akan menjadikannya berhasil sebagai hasil translasi peradaban arsitektur masa lalu dalam konstruksi modern.
Kebanyakan penganut paham arsitektur modern hanya akan melihat anatomi tampak sebagai gubahan komposisi geometri, dan bila terdapat makna, akan merupakan makna dengan fungsi tertentu yang logis dan universal (misalnya warna kuning digunakan untuk mempertinggi kewaspadaan). Fungsi adalah penjelas bagi arsitektur modern, dan karenanya makna (apalagi yang bersifat metafisik) tidak demikian diindahkan.
Namun bila suatu desain ditujukan untuk memuat kaidah-kaidah desain yang bermakna, maka terdapat kemungkinan untuk mengaplikasikan kaidah-kaidah desain yang bersifat spiritual bahkan metafisik. Toleransi sifat-sifat metafisik untuk diaplikasikan dalam rancangan desain ditentukan oleh perancang. Sejauh mana sifat-sifat dan kaidah desain peradaban arsitektur masa lalu diaplikasikan dalam desain merupakan pilihan desainer.
ANALOGI EVOLUSI MEMETIKA UNTUK PERADABAN ARSITEKTUR MASA LALU
Untuk memudahkan memahami bagaimana peradaban arsitektur masa lalu dapat berkembang dengan baik di masa ini, marilah kita mengandaikan peradaban arsitektur masa lalu sebagai mahluk hidup yang bisa berkembang. Peradaban arsitektur masa lalu dapat diibaratkan sebagai meme yang dalam memetika memiliki peran seperti gen. Perhatikan tabel berikut:

Tabel Analogi Evolusi Memetika Gen dan Peradaban Arsitektur Masa Lalu

Satuan evolusi
Proses penggandaan diri
Media evolusi
Tujuan evolusi
Gen
Peran dalam DNA menentukan jenis dan karakter spesies.
DNA menolak atau mengembangkan Gen tersebut?
DNA
Jenis dan karakter spesies
Peradaban arsitektur masa lampau
Perannya dalam peradaban arsitektur menentukan jatidiri arsitektur bangsa.
Peradaban arsitektur menolak atau mengembangkannya?
Peradaban arsitektur manusia
Jatidiri arsitektur bangsa
Peradaban arsitektur modern
Perannya dalam peradaban arsitektur menentukan jatidiri ‘modernitas’ bangsa saat ini.
‘Saat ini peradaban arsitektur kita sedang mengembangkannya’
Peradaban arsitektur manusia
Jatidiri arsitektur bangsa
 Bila sebuah gen yang membawa suatu sifat diambil oleh DNA tersebut sebagai bagian DNA yang membawa sifat baik dan memberinya tempat dalam ikatan DNA, maka gen tersebut akan berkembang dengan baik untuk turut menentukan karakter spesies yang memiliki DNA tersebut. Bila peradaban arsitektur masa lampau diibaratkan seperti sebuah gen yang dapat mempengaruhi DNA, maka perannya dapat menentukan jatidiri arsitektur bangsa kita dengan seijin peradaban arsitektur saat ini. Bila peradaban arsitektur saat ini membiarkan peradaban arsitektur masa lampau untuk berkembang dengan baik, maka jatidiri bangsa kita akan terbentuk dengan baik. Bila tidak, maka peradaban arsitektur masa lampau akan hilang dan akibatnya kita tidak memiliki jatidiri yang berasal dari peradaban arsitektur masa lampau.
Bila sebuah gen ditolak untuk masuk dalam sebuah DNA, maka bagi gen tersebut dirinya kehilangan bagiannya dan merupakan kekalahan meme yang besar. Bila peradaban arsitektur masa lalu ditolak dan tidak dikembangkan oleh peradaban arsitektur manusia, maka kehilangan identitas tersebut merupakan kekalahan yang sangat besar, konsekuensinya cukup berat; kita kehilangan jatidiri.
Yang terjadi saat ini, peradaban arsitektur saat ini sedang mengambil ‘gen’ yang lain untuk membentuk jatidiri arsitektur bangsa kita, yaitu jatidiri arsitektur Nusantara. Saat ini, seakan-akan keseluruhan peradaban arsitektur sedang sibuk dengan ‘gen’ baru, yaitu arsitektur modern. Seperti apakah jatidiri arsitektur yang dibentuk oleh peradaban arsitektur modern tersebut? Hasil cepatnya, kita bisa melihat segala konsekuensi yang telah terjadi di negara-negara dimana peradaban arsitektur modern berkembang dengan baik.
Saat ini, mempelajari kebudayaan arsitektur masa lalu kita sendiri merupakan hal yang cukup mirip seperti bila kita mempelajari budaya arsitektur asing, misalnya budaya arsitektur Eropa. Hal ini dikarenakan kita sudah cukup ‘jauh’ dari jatidiri peradaban arsitektur kita, karena:
q       Sistem pendidikan dan materi ala barat yang diterapkan di Indonesia tidak banyak membantu penerusan tradisi.
q       Faktor tambahan yang cukup besar adalah karena kita dijajah oleh bangsa asing selama berabad-abad lamanya, sehingga hubungan tradisi yang seharusnya diteruskan, direpresi oleh para penjajah, banyak yang terputus.
q       Lingkungan dan sistem-sistem budaya dinegara kita banyak terpengaruh oleh budaya luar sebelum kita siap dan kaum muda tidak sempat belajar dengan baik.
q       Pengambil keputusan dalam desain bangunan-bangunan dan arsitektur Indonesia banyak yang tidak (belum) memiliki pandangan untuk melestarikan dan meneruskan tradisi arsitektur khas Indonesia.
Penerusan tradisi arsitektur masa lampau kepada saat ini dan masa depan merupakan proses yang membutuhkan ‘recognition’ yang baik dan dalam proses itu terdapat kecenderungan bahwa peradaban kita sendiri terasa asing karena apa yang didapati oleh generasi saat ini merupakan jejak-jejak masa lampau yang harus ditapak kembali. Untuk itu energi dan kemauan yang diperlukan cukup besar, dan tidak banyak yang menghedaki menapak tilas peninggalan-peninggalan masa lampau tersebut, sehingga segala penelitian yang telah dilakukan tentang sisa-sisa peradaban masa lampau merupakan harta yang tak ternilai harganya, lebih baik dari hasil kita membaca dan mengetahui peradaban arsitektur manapun yang terlihat lebih baik, lebih glamour, dan sebagainya namun sebenarnya membuat kita berpaling dari jatidiri peradaban arsitektur kita sendiri.

Nilai desain

q       Nilai desain (dari sudut pandang peradaban arsitektur masa lampau) merupakan seberapa banyak kaidah-kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau diaplikasikan dalam desain.
q       Nilai desain (dari sudut pandang peradaban arsitektur) diukur dari seberapa besar kemauan manusia Indonesia untuk mengaplikasikan kaidah-kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau (seberapa jauh manusia Indonesia menjadi tidak egois (tidak tidak mau tahu) terhadap kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau)
q       Nilai desain (dari sudut pandang peradaban modern) diukur dari seberapa banyak pengaruh globalisasi (internasionalisasi atau penyeragaman desain) bekerja pada kebudayaan spesifik atau tradisional.
Semakin besar keinginan kita untuk mengaplikasikan kaidah-kaidah desain peradaban arsitektur masa lampau, semakin merupakan keuntungan bagi peradaban arsitektur masa lampau karena kita membantunya berkembang.
Dalam aplikasi, setelah memperhatikan peradaban arsitektur masa lampau dan menggunakannya dalam desain, kemampuan arsitektur modern untuk menyediakan sistem konstruksi yang semakin variatif akan menghasilkan karya desain yang bisa jadi memiliki perbedaan–perbedaan dari hasil-hasil budaya peradaban arsitektur masa lampau, misalnya candi-candi dan rumah-rumah tradisional. Namun sepanjang arsitektur modern digunakan sebagai alat dan kaidah peradaban arsitektur masa lampau tetap digunakan, hal ini merupakan keuntungan bagi peradaban arsitektur masa lampau dan merupakan nilai lebih ditinjau dari sudut peradaban arsitektur manusia.
Hasil-hasil karya arsitektur dalam taraf ini dapat menyajikan pilihan desain yang sangat luas dan kemungkinan perbedaan dengan hasil-hasil karya peradaban arsitektur masa lampau yang bisa jadi tampak dalam;
q       Skala bangunan
q       Sistem konstruksi bangunan
q       Fungsi-fungsi ruang dan pengelompokan zoning
q       Suasana ruang
q       Warna-warna bahan
q       Sistem, hierarki, proporsi, sequence
q       Kemungkinan lain dari monumentalitas desain
Arsitektur modern digunakan tidak lebih dari sebuah alat untuk mengekspresikan ide simbolis, dengan batasan bahwa arsitektur modern mengambil ‘fungsi’ sebagai dasar dari pengambilan keputusan dalam desain. Langkah yang disarankan;
                                  
Jika kita hendak melakukan ‘recognition’ pada peradaban arsitektur yang kita miliki, kita hendaknya menyadari bahwa didalamnya terdapat faktor ‘simbolisme’, ide untuk mengekspresikan makna melalui sebuah media, dalam hal ini arsitektur. Ia memiliki ‘bahasa khusus’ yang telah digunakan pada bangunan-bangunan khas Indonesia yang merepresentasikan ‘akar’ dari arsitektur khas Indonesia. Langkah awal untuk dilakukan adalah ‘cognition’ pada peradaban arsitektur masa lampau.
Contoh;
Pada arsitektur modern, estetika dari bentuk-bentuk geometris dan kotak mungkin cukup menarik sebagai penikmatan komposisi, namun memperhatikan ‘kebiasaan’ kita di masa lalu untuk mengikutkan makna sebagai ide estetis, bukankah lebih baik jika desain geometris tersebut juga mengandung makna simbolis untuk menghubungkan ide bangunan saat ini dengan ide bangunan masa lampau, sebagai representasi ‘recognition’ kita pada arsitektur khas Indonesia, lagipula bahasa geometris juga terdapat pada arsitektur khas Indonesia. Misalnya menggunakan gaya arsitektur candi untuk rumah tinggal.
Cara-cara semacam ini cukup menarik dan sepertinya menjanjikan untuk dilakukan, karena hal itu memang memungkinkan. Namun terdapat pertanyaan-pertanyaan mengganjal dari translasi bahasa arsitektur masa lampau ke saat ini, antara lain;
q       Apakah relevan untuk menggunakan kaidah-kaidah desain dari bangunan dari peradaban masa lampau ke saat ini, dengan konteks yang berbeda? Misalnya apakah relevan menggunakan arsitektur candi untuk dibuat sebagai arsitektur rumah tinggal saat ini?
q       Apakah setelah kita mengaplikasikan arsitektur masa lampau dan khas Indonesia pada saat ini, apakah nyaman untuk kita terapkan kedalam bangunan-bangunan saat ini? apakah akan cocok dengan gaya hidup saat ini?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan banyak bermunculan dan sebagai alternatif jawaban, salah satunya adalah sistem ruang yang berkaitan dengan cara hidup saat ini tidak diubah, dan perubahan yang terjadi akibat aplikasi kaidah desain peradaban masa lampau hanya digunakan untuk kaidah desain yang tidak mengubah gaya hidup. Tampaknya hal ini menjadikan peradaban arsitektur masa lampau teralienasi dan seakan kita menyadur budaya peradaban arsitektur dengan cara yang sama seperti cara kita menyadur gaya arsitektur dari Eropa, misalnya gaya klasik atau Mediterania, namun hal ini menjadi salah satu cara paling mudah bagi tujuan tersebut.
……………\|||/
……………(- O)
…,—-ooO–(_)———–,
…|……………………….|
…|……I’m bored………|
…|…………….I want….|
…| the truth……………|
…’——————–Ooo–‘
………….|__/\__|
…………….|| ||
…………ooO Ooo

***

Saat aku termenung, melihat apa dihadapanku…
Manusia tak mengenal dirinya sendiri…
Saat itu aku menyadari…
Betapa beratnya, untuk tidak mengenal diri sendiri…

written by Probo Hindarto (please… tell me if I’m wrong)
***
Tambahan artikel, dikirimkan dalam mailing list AMI (Arsitek Muda Indonesia):

Apakah arsitektur tradisional masing-masing daerah akan terlupakan
seiring berlalunya waktu dan semakin banyak orang beralih kepada
arsitektur ‘modern’. Dari perkembangan paling mutakhir di Indonesia,
terutama di kota-kota besar, arsitektur tradisional telah ditinggalkan
oleh sebagian besar masyarakat, arsitek dan mereka yang membangun.

Apakah masih relevan untuk mengaplikasikan kaidah desain arsitektur
tradisional dalam konteks modern yang sama sekali berbeda? Barangkali
inilah yang juga memicu hilangnya jatidiri arsitektur tradisional.
Misalnya, bila sebuah kantor modern didesain, sangat mungkin desain
yang dihasilkan berpijak pada pandangan modern dalam arsitektur, bukan
kaidah desain berdasarkan tradisi. Hal ini mengakibatkan tidak adanya
kesamaan kaidah desain pada denah.

Kemudian, kaidah desain pada tampilan bangunan masih bisa
diaplikasikan. Namun, kemudian timbul pertanyaan; apakah ini bukan
berarti sekedar tempelan? Sayangnya, kemudian sepertinya opsi ini bisa
menjadi kabur karena membatasi kaidah desain modern yang memang sangat
bebas.

Pertanyaan selanjutnya… apakah arsitektur modern menggantikan
arsitektur tradisional? Dan sejauh mana kita memberikan tempat bagi
arsitektur modern untuk benar-benar menggantikan arsitektur
tradisional? Ataukah terdapat sebuah cara agar keduanya berpadu dengan
cukup manis seperti citra ‘Ke-Jepang-an’ yang muncul dalam banyak
arsitektur karya arsitek modern Jepang?

Adalah ditangan arsitek untuk memunculkan desain dengan muatan
arsitektur tradisional, sebagai sebuah pilihan, dalam kadar
seberapapun (baca http://www.astudio.id.or.id/artdeep4makna.htm). Dari
sisi keberlanjutan tradisi lokal, seberapapun kaidah arsitektur
tradisional muncul dalam desain, adalah keuntungan bagi penerusan
tradisi, yang merupakan ‘gen’ dari kebudayaan arsitektur lokal (baca
artikel http://www.astudio.id.or.id/artdeep5mengapaarsitektur.htm),

Saat ini, dengan berkembangnya berbagai pilihan material untuk
digunakan dalam konstruksi modern, terdapat pilihan untuk tetap
memiliki ‘gen’ arsitektur tradisional dalam bangunan modern, meskipun
dalam konstruksi modern. Dengan demikian, dalam pilihan ini jenis
material dan konstruksi yang digunakan tidaklah menjadi masalah, namun
nilai-nilai yang tersisa tetap dapat digunakan, dengan penyesuaian
lebih lanjut sistem konstruksi dengan iklim setempat.

Aspek lain; siapa yang hendak meneruskan tradisi? Dalam era ini,
berbagai perbedaan latar belakang para pelaku dalam dunia konstruksi
merupakan variasi yang menentukan keberlangsungan tradisi. Apakah
orang yang berasal dari Kalimantan (atau bahkan dari luar negeri),
datang ke Jakarta dengan sebuah proyek yang penuh dalam komandonya,
akan membuat desain dengan tradisi lokal Betawi (misalnya)? Ataukah
sebenarnya bangunan dengan nilai tradisi itu cukup diaplikasikan dalam
bangunan-bangunan yang dapat menjadi representasi dari masyarakat
lokal sebuah area, misalnya; kantor kelurahan di Jawa dengan bentuk
arsitektur Joglo khas Jawa. Hal ini adalah hal yang sangat mudah
dimengerti, bila Pemda setempat membakukan sebuah kaidah desain untuk
bangunan-bangunan pemerintah di sebuah kawasan. Tentunya ada tradisi
lokal yang ingin ditunjukkan, merepresentasikan masyarakat lokal yang
ingin diwakili.

________________________________________________
by Probo Hindarto
© Copyright 2008 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s