Arsitektur Eklektik – Esai Bagian 1

astudioarchitect.com Artikel untuk arsitek dan akademisi

Arsitektur eklektik bisa dikatakan sebagai hasil karya arsitektur yang mempergunakan metode merancang secara eklektik. Eklektisme adalah sebuah pergerakan arsitektur dengan metode menggabungkan (kombinasi) berbagai aspek, ide, teori maupun yang ditujukan untuk membuat arsitektur terbaik dengan kombinasi yang ada. Pergerakan ini diawali dari filsafat yang dikaitkan dengan penggabungan berbagai perspektif pondasi filsafat untuk membentuk filsafat baru yang lebih baik. Metodenya kemudian diterapkan dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan yang lain, diantaranya kedalam arsitektur.


Eclectic architecture can be regarded as works of architecture that uses design methods that are eclectic. Eclecticism is an architectural movement by combining methods (combinations of) various aspects, ideas, theories and intended to make the best architecture with the existing combination. This movement begins from the philosophy associated with the merger of different perspectives to form the foundation philosophy in a new and better ones. Method and then applied in fields of other sciences, including into the architecture. 

    Penyebaran eklektisisme merambah berbagai bidang dapat diakui sebagai metode baru dalam seni. Arsitektur sebagai cabang seni yang berkaitan erat dengan teknik juga mendapatkan pengaruh dari penyebaran metode eklektisisme ini, meskipun dikritik sebagai metode yang tidak konsisten, disebabkan oleh pergeseran pandangan dalam menentukan berbagai elemen arsitektur yang sebelumnya sangat kuat. Disadari atau tidak apakah arsitektur jenis ini merupakan sebuah metode atau bukan sebenarnya adalah sesuatu yang berjalan dengan sendirinya berkaitan dengan akulturasi berbagai arsitektur yang membentuk tradisi berarsitektur di dalam kebudayaan masyarakat dimana saja. Sebagai sebuah metode yang sering kali dianggap “murahan” karena seakan-akan tidak memiliki dasar-dasar yang kuat untuk membuat sebuah obyek yang memiliki karakter arsitektur tertentu.

Di Indonesia, penyebutannya terkadang merupakan sesuatu yang sedikit menggelikan karena yang disebut sebagai perancangan “eklektik” membawa kita pada pandangan kebanyakan, yaitu kecenderungan untuk menggabungkan arsitektur dari berbagai negara atau wilayah dan ditampilkan begitu saja ke dalam arsitektur sebelumnya, untuk mencapai citra tertentu, bahkan sebuah kesan untuk menggapai prestise.

The spread of eclecticism that penetrated in various fields can be recognized as a new method in art. Architecture as a branch of art which is closely related to engineering are also impacted by the spread of this eclecticism method, although criticized as inconsistent methods, caused by a shift in the view of determining the various elements of the previous architecture which has been very strong. Whether we realize it or not or whether this type of architecture is an actual method or not is something that runs by itself related to the acculturation of traditional architectural forms in the culture of architecture in society anywhere. As a method which is often considered “cheap architecture” because it seemed not to have the basics to create a powerful definition of architecture or certain architectural character.

In Indonesia, it is sometimes a reference to something a little funny because as a design called “eclectic” brings us to the view of many, namely the tendency to combine the architecture of different countries or regions, and displayed just to achieve a certain image, even an impression to reach prestige. 

    Contohnya, bila kita mendapati rumah-rumah di perumahan dirancang dengan arsitektur “bergaya Amerika” atau “bergaya Eropa” dengan suatu citra seakan-akan itu adalah arsitektur Amerika atau Eropa. Adalah sebuah fenomena yang cukup umum terjadi di Indonesia sebagai bagian dari pembentukan jati diri arsitektur yang dicoba dihubungkan dengan arsitektur yang bahkan tidak memiliki kaitan dengan arsitektur di negara kita.

    “Arsitektur eklektik” menjadi sebuah jawaban apabila diberi pertanyaan tentang mengapa menggunakan arsitektur semacam itu, yang sebenarnya merupakan sebuah jawaban untuk membenarkan jenis arsitektur tersebut. Dalam buku saya berjudul “Rumah bergaya arsitektur mediterania dan cenderung klasik” terdapat sebuah keinginan untuk mengidentifikasikan unsur-unsur arsitektur apa saja yang mempengaruhi arsitektur “Gaya Mediterania dan klasik” di Indonesia, dan saya menemukan bahwa arsitektur jenis ini berakar dari banyak sekali arsitektur di wilayah Mediterania yang berbeda-beda, seperti sebuah tambal sulam. Namun kita masih bisa melihat hubungan dengan budaya Indonesia dalam hal ornamentasi. Sebelumnya kita ketahui bahwa ornamentasi adalah bagian integral dari arsitektur tradisional Indonesia karena unsur ornamen ditemukan di semua arsitektur tradisional di Indonesia, apakah itu di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi maupun Papua.

For example, if we find the houses in the residential architecture designed with “American style” or “European style” with an image as if it were American or European architecture. Is a common enough phenomenon in Indonesia as part of identity formation that tested architecture associated with the architecture that does not even have anything to do with the architecture in the country.

“Eclectic Architecture” became an answer if given the question of why using such architecture, which is actually an answer to justify these types of architecture. In my book titled “Mediterranean Home-style architecture” there is a desire to identify architectural elements that affect what the architecture “and the classic Mediterranean style” in Indonesia, and I found that this type of architecture stems from a lot of different architectural elements in the region Mediterranean, like a patchwork. But we still can see the relationship with Indonesian tradition in terms of cultural ornamentation. Earlier we saw that the ornamentation is an integral part of the traditional architecture of Indonesia for ornamental elements found in all of Indonesia’s traditional architecture, whether it is in Java, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi and Papua. 

(bersambung ke bagian 2)

________________________________________________

by Probo Hindarto

© Copyright 2009 astudio Indonesia. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s